Wednesday, 18 April 2018

IKUT PERASAAN: BAGIAN TIGA

IKUT PERASAAN: BAGIAN TIGA

Sudah cukup lama sebetulnya Sang Malam diam begitu. Mungkin sudah ada sekitar setengah tahun ia terlihat tak seperti biasanya, membuatnya terlihat lebih sering berdiam diri, melamun, bermenung, bahkan bisa sampai berjam-jam lamanya. Hal itu membuat banyak makhluk yang mengenalnya ─ seluruh makhluk mengenalnya ─ jadi bertanya-tanya tentang apa yang terjadi padanya. Bahkan secara sembarangan, sesekali beredar rumor bahwa Sang Malam sedang tidak waras, karena kesurupan setan! Ah, tapi macam mana malam kesurupan setan, memangnya pernah ada kasus malam kesurupan setan? Sungguh tidak masuk di akal.

Aku, sebagai penulis cerita, tentu punya tanggung jawab khusus untuk harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada setiap tokoh yang tertulis di cerita ini. Dan juga sudah tugasku untuk menceritakan apa-apa yang terjadi tersebut kepada pembaca sekalian yang terhormat. Bahwa sungguh, sebetulnya Sang Malam tidaklah kesurupan makhluk sebangsa jin atau setan, yang halus, karena memang pada dasarnya hal tersebut tidak masuk akal. Bahwa sungguh, sebetulnya apa yang terjadi pada Malam adalah merupakan suatu hal yang baru dan berat bagi Sang Malam itu sendiri dan telah melandanya selama setengah tahun belakangan ini. Bahwa sungguh, sebetulnya permasalahan yang melanda Sang Malam nyatanya jauh lebih berat dan jauh lebih esensial ketimbang hanya kesurupan makhluk astral belaka seperti yang telah dirumorkan oleh seluruh makhluk yang mengenalnya. Bahwa sungguh, sebetulnya hal ini adalah sebuah persoalan besar yang akan berdampak sangat serius bagi keberlangsungan seluruh kehidupan di alam semesta.

Nah, maka ketahuilah oleh kalian seluruhnya wahai pembaca yang terhormat, bahwasanya selama setengah tahun ini rupanya Sang Malam tengah menanggung, atau mungkin lebih tepat jika Sang Malam tengah mengandung. Ya, mengandung. Semacam istilah yang biasa disematkan kepada seorang ibu mungkin begitu, hamil. Persoalan ini tentu saja secara langsung berpengaruh kuat bagi Sang Malam sendiri. Membuat orientasi kegiatan Malam sehari-hari menjadi tidak jelas. Membuat orientasi hidup Sang Malam akhirnya menjadi gamang dan tak pasti. Karena pikiran begitu terganggu tentang apa yang terjadi pada dirinya. Apakah gerangan kiranya yang selama ini dikandungnya. Apakah gerangan kiranya yang selama ini ditanggungnya. Apakah gerangan kiranya yang selama ini ada di dalam tubuhnya. Terasa seolah apa yang ada di dalam tubuhnya ini memiliki suatu kekuatan yang begitu dahsyat. Seolah-olah terasa mampu untuk membuat bumi terbelah atau semacamnya. Dan apapun itu, rasanya, apa yang ada di dalam tubuhnya memiliki tuntutan khusus untuk keluar dari tubuhnya. Untuk lahir dan bebas untuk bertemu isi semesta. Untuk kemudian bisa dengan bebas melepaskan segenap kekuatannya yang dahsyat ke seluruh dunia.

Seiring dengan bergulirnya waktu, Sang Malam paham betul, bahwa apa yang selama ini terkandung di dalam tubuhnya adalah suatu hal baru yang begitu besar dan fenomenal bagi dunia. Sehingga pada bulan-bulan selanjutnya setelah setengah tahun tersebut Sang Malam telah menjadi lebih tenang dan jelas sehari-harinya. Ia paham betul bahwa apa yang tengah dikandungnya mestilah ia rawat sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Agar pada saatnya nanti apa yang dikandungnya harus lahir ke dunia tak ada satu kekurangan apapun yang akan membatasi potensi yang dimilikinya. Tanggung jawab tersebut dipahami betul oleh Sang Malam dengan memberikan semacam nutrisi khusus yang dibutuhkan oleh makhluk di dalam tubuhnya. Hal itu membuat makhluk-makhluk lain di sekitarnya tak jarang mendengarnya melantunkan berbagai nyanyian-nyanyian alam yang tak dipahami namun begitu menyentuh. Atau terdengar siulan-siulan atau senandung-senandung yang sayup-sayup terbang dibawa angin ke berbagai penjuru melintasi sungai-sungai dan gunung-gunung. Di waktu-waktu lain, beberapa makhluk lain juga mendapati Sang Malam tengah duduk memandangi matahari yang terbit dan matahari yang tenggelam. Atau di waktu lain didapati ia tengah duduk di tepi sungai, seolah sedang berbicara sendiri sambil mengamati ikan-ikan salmon yang berenang-renang. Atau saat ia sedang beralan-jalan ringan di tepi pantai sembari bermain-main kecil dengan ombak yang menggodanya. Dan catatlah olehmu, bahwa apa yang dilakukan oleh Malam bukanlah suatu akibat dari kesurupan makhluk astral, melainkan sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap suatu kekuatan besar yang selama ini terkandung di dalam tubuhnya hingga tiba saat kelahirannya.

Sang Malam paham betul kapan kiranya makhluk yang dikandungnya ini akan keluar dan lahir ke dunia. Sehingga pada usia delapan bulan kandungannya ia mulai lebih banyak berkontemplasi. Mencoba memahami berbagai esensi dari kehidupan dan isi semesta yang ada. Apa yang dilakukannya tersebut ternyata merupakan suatu bentuk usaha dalam memahami dan memaknai apa yang dikandungnya. Dengan apa yang ditemukannya dari pemahaman dan pemaknaan itulah kemudian yang akan menjadi dasar pemberian nama bagi apa yang dikandungnya. Karena segala sesuatu yang ada di dunia tentulah mesti memiliki nama bukan? Karena apalah arti sebuah makhluk jika tak memiliki nama untuk dimaknai. Dan apalah pula arti sebuah nama jika tak mengandung sebuah makna khusus bagi makhluk yang menyandang nama tersebut. Betul begitu, dan mestilah betul.

Maka setelah proses panjang kontemplasi dalam memaknai dan memahami apa yang dikandungnya selama delapan bulan ke belakang, Sang Malam pun akhirnya telah mengantungi sebuah nama yang akan disematkan pada kandungannya. Ia pun selanjutnya berpikir, mengingat apa yang dikandungnya selama ini merupakan suatu hal besar yang memiliki potensi bahkan mungkin tak terhingga. Ia berpikir bahwa selayaknya seluruh makhluk di alam semesta ini mestilah mengetahui akan datangnya kelahiran suatu hal yang besar dan dahsyat. Ia berpikir bahwa perlulah kiranya ia memberikan undangan kepada seluruh makhluk yang ada agar mereka semuanya bisa memilih untuk ikut hadir ataupun tidak dalam menyambut kelahiran yang akan segera tiba waktunya. Tentu saja, karena ini merupakan salah satu peristiwa yang sangat bersejarah bagi seluruh dunia. Semua berhak hadir. Semua berhak tidak hadir. Namun seluruhnya harus tahu bahwa akan lahir sesuatu yang sangat besar dan ajaib dari tubuhnya setelah dikandung sekian lama. Membuatnya berpikir agar nanti menjelang saat kelahiran, akan ia umumkan ke seluruh penjuru semesta apa yang akan hadir ke dunia.

Maka sembari mengusapi tubuhnya, ia berkata pada apa yang ada di dalamnya:

“Bersiaplah engkau untuk lahir ke dunia. Kau, tentu saja, kuberi nama: Perasaan.”

Wednesday, 4 April 2018

IKUT PERASAAN: BAGIAN DUA

IKUT PERASAAN: BAGIAN DUA

Nah. Waktu itu masih siang suasananya. Matahari masih bertugas, Bulan belum, setidaknya begitu menurut seorang anak manusia kepada kawannya suatu hari dulu. Kelinci-kelinci yang tujuh puluh ekor juga masih berada di Tibet, terlihat wajar di sebuah padang karena hanya melompat-lompat, atau berlari-lari, atau sedang makan, atau sedang diintai oleh seekor elang yang sudah sekitar lima menit berputar-putar di dekat lereng pegunungan. Ayah Rusa sedang gagah, karena kepalanya tegak, melihat keadaan sekitar. Memantau dua ekor anaknya yang berlari-lari kecil di sekitar, sementara Ibu Rusa masih asyik mengunyah rumput kesukaannya. Lalu ikut menunduk, ikut makan rumput, mungkin jadi ingin makan rumput juga melihat istrinya yang seolah nikmat betul menikmati rumput. Binatang-binatang lain juga seperti kodratnya, menjalani kehidupan secara wajar sebagai makhluk Tuhan yang diklasifikasikan sebagai hewan.

Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya Pinus terlihat sangat malas dengan hanya bergoyang-goyang atau terdoyong-doyong oleh angin yang berhembus kuat ke batangnya, daun-daunnya juga bergetar. Mereka tidak malas, sungguh, karena memang begitu perilaku mereka kalau sudah tinggi, betul bukan? Pohon-pohon Karet juga terlihat wajar. Berbaris ramai-ramai berjarak sampai disebut oleh manusia bahwa mereka itu adalah hutan karet. Tidak tampak jelas juga mana pohon karet yang lebih tua atau yang lebih muda, seolah tidak ada itu yang namanya kesenjangan sosial antargenerasi, mengarang saja, karena toh semua sama, disayati tubuhnya oleh manusia supaya getahnya dapat diambil sebanyak-banyaknya. Yang sama juga bergoyang-goyang bagian atasnya ketika dilewati angin. Begitu juga pohon Ek, semua tampak wajar di dunia yang biasa-biasa saja.

Betul. Begitu juga dengan planet-planet yang punya tugas di tata surya kita. Yang jika disebutkan secara berurutan adalah Pluto, Neptunus, Uranus, Saturnus, Jupiter, Mars, Bumi, Venus, dan terakhir Merkurius. Begitu urutannya jika aku ingin menyebutkan mereka dari yang paling jauh dari Matahari. Masing-masing mereka masih bersikap wajar dengan tetap berjalan pada sumbunya yang secara umum disepakati mengitari Matahari dengan kecepatannya masing-masing.

Sampai beberapa saat, siang itu, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang terdengar oleh mereka itu seluruhnya yang sekonyong-konyong begitu saja berkata:

“Halo semuanya. Pemberitahuan, bahwasanya nanti malam, di bukit, Perasaan akan lahir ke dunia. Saya ulangi, bahwasanya nanti malam, yaitu , Perasaan akan lahir ke dunia. Semuanya dibebaskan untuk hadir atau tidak hadir di kelahiran Perasaan. Sekian dan terimakasih.”

Demikian suara tersebut kira-kira terdengar oleh seluruh hewan-hewan di dunia, oleh seuruh tumbuh-tumbuhan di dunia, oleh seluruh angkasa raya yang merdeka. Sehingga mereka seluruhnya tiba-tiba terdiam dari seluruh aktivitas yang sedang mereka lakukan. Ayah Rusa dan keluarganya berhenti mengunyah. Harimau yang tidur siang berhenti dari tidur sehingga terbangun. Kelinci-kelinci dari Tibet tiba-tiba membeku, tapi bukan karena kedinginan. Ayam-ayam kampung, ayam-ayam negeri, ayam-ayam luar negeri, semua ayam itu terdiam. Pohon-pohon pinus, pohon-pohon karet, pohon-pohon ek, pohon-pohon beringin, pohon-pohon toge dan lainnya, semua berhenti bergoyang, seolah mereka memang kuat untuk tidak bergoyang ketika terkena angin yang berhembus. Matahari, Bulan, dan planet-planet lainnya juga ikut terdiam, berhenti dari aktivitasnya yang sangat wajar seperti hari-hari biasa di dunia yang biasa. Lalu secara bersamaan semuanya bergumam:

Itu suara Malam.”

Pertanyaan-pertanyaan kemudian muncul begitu saja. Tentang apa itu Perasaan. Tentang siapa itu Perasaan. Tentang bagaimana wujud Perasaan. Tentang apa yang dibawa oleh Perasaan. Tentang apa yang akan dilakukan Perasaan. Tentang perilaku Perasaan, apakah ia suka berbicara, apakah ia suka berlarian, apakah ia suka makan rumput, apakah ia suka mandi cahaya, apakah ia suka berguling-guling. Tentang macam-macam. Karena Perasaan semacam sesuatu yang tidak pernah mereka tahu di dunia. Karena Perasaan semacam sesuatu yang baru di sepanjang kehidupan yang sebelumnya sudah mereka jalani. Sehingga mereka merasa perlu untuk hadir . Sehingga mereka merasa perlu untuk tahu secara langsung tentang Perasaan. Sehingga mereka merasa perlu untuk sibuk bersiap-siap seolah menyambut lahirnya Perasaan malam ini. Sehingga mereka merasa perlu untuk jauh-jauh melakukan perjalanan menuju Malam yang bertanggungjawab atas informasi yang sekonyong-konyong disebarkannya di siang hari yang bolong, tapi tentu tidak berlubang.

Setelah momen diam sejenak berjamaah itu dilaksanakan secara serentak, mereka seluruhnya jadi tiba-tiba saja seolah sibuk ini-itu, masing-masing. Sibuk menjadi tidak wajar karena ingin hadir menuju bukit malam ini untuk menyaksikan langsung kelahiran Perasaan yang diumumkan oleh Malam. Sibuk menjadi tidak wajar karena sebagian tiba-tiba pergi membeli kacamata hitam atau baju-baju hangat. Sibuk menjadi tidak wajar karena sebagiannya pergi mengelilingi hutan, mencari bunga-bunga yang menarik perhatian mereka, untuk dipetik dan dibawa hadir nanti malam. Sibuk menjadi tidak wajar karena sebagian lain dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya untuk menyiapkan dirinya masing-masing. Dan seluruhnya sibuk menjadi tidak wajar karena solah-olah meninggalkan apa yang biasanya mereka kerjakan sehari-hari. Seolah mereka mengingkari peran dan tanggungjawab yang sejak dulu tersemat di namanya masing-masing.

Sejak perilaku-perilaku yang tidak wajar tersebut, kehidupan tak lagi terasa sama, aktivitas yang ada jauh di luar batas kewajaran, jauh di luar batas nalar pemikiran, dan jauh mejadi sebuah fenomena absurd yang sama sekali tidak masuk akal. Itulah yang dikatakan oleh hewan-hewan dan tumbuhan laut ketika mereka tidak bisa hadir, yaitu susah bernafas, dan tidak masuk akal. Sehingga meskipun mereka sedikitnya merasa tertarik akan berita kelahiran Perasaan, namun tidak bisa ikut hadir, mereka hanya saling berucap saja dengan sesamanya agar semoga  suatu saat Perasaan sudi untuk mampir atau main ke lautan. Maka kehidupan di laut tidak mengalami suatu gejala-gejala yang tidak wajar seperti kehidupan di darat, udara, dan angkasa raya.

Siang dengan segera digulung waktu yang terus-terusan bergulir, disuruh berhenti tetap saja bergulir. Membuat dunia memasuki suasana sore. Nantinya, sore menuju petang. Nantinya, petang menuju malam. Menuju saat-saat kelahiran Perasaaan yang telah dijanjikan oleh Malam siang tadi. Para calon-calon hadirin terlihat mulai bergerak perlahan-lahan menuju Malam yang berjanji. Berduyun-duyun bersama kelompoknnya masing-masing melintasi jarak yang jauh dan yang dekat. Dan jika kau perhatikan dengan seksama, alamak, betapa konyolnya mereka terlihat. Seperti misalnya yang datang dari arah utara, tujuh puluh kelinci dari Tibet itu semuanya ramai-ramai melompat-lompat sepanjang perjalanan menuju bukit, menggunakan jaket-jaket dan penghangat-penghangat telinga bermacam warna. Melewati hutan, padang pasir, padang rumput, Padang Panjang, warna-warni begitu lucu dan tak wajar. Dari arah lain, terlihat sekelompok predator semacam singa, harimau, macan tutul, macan kumbang, kucing hutan, serigala, hyena, cheetah, yang semuanya memakai kacamata hitam seperti bintang film sambil di antara taringnya yang tajam terselip setangkai bunga yang berbeda-beda masing-masingnya. Berlari lari kencang menuju bukit. Lihat juga unggas-unggas yang bisa terbang dan unggas-unggas yang tidak bisa terbang itu, seperti sekumpulan kafilah yang sedang bermigrasi ramai-ramai, tapi aneh, unggasnya bermacam-macam. Pohon-pohon, ya, pohon-pohon. Akar-akarnya tercerabut dari dalam tanah dan bergerak seperti kaki bagi mereka, menjalar dan merayapi permukaan, membuat batangnya bergerak doyong-doyong ke depan ke belakang, seperti hutan yang sedang bergerak secara masif. Planet-planet, Matahari, Bulan, Asteroid, Meteorit, dan seluruh masyarakat angkasa raya mulai bergerak ke satu arah, turun meninggalkan pos yang mestinya diisi. Gara-gara isu kelahiran Perasaan, oh, semuanya jadi tak masuk akal. Sungguh absurd luar biasa. Absurd, tapi indah bagiku. Semoga juga bagimu.

Monday, 2 April 2018

IKUT PERASAAN : BAGIAN SATU

IKUT PERASAAN : BAGIAN SATU 

Sebelum mulai ke isi cerita, saya ingin terlebih dahulu menuliskan semacam pengantarnya. Jadi, pada periode ini saya akan menulis sebuah tulisan, mungkin cerita, yang bagi saya sendiri akan terasa sangat absurd. Karena rasanya saya tidak menyiapkan banyak hal untuk tulisan ini kecuali sebuah usaha untuk tetap waras saat menulisnya.

Tidak terlalu besar harapan saya teman-teman dapat menikmati tulisan yang mungkin terlalu absurd ini. Namun apabila teman-teman nantinya berkenan untuk membacanya, semoga teman-teman dapat menemukan apapun itu dari tulisan ini, aamiin.
Selamat berbahagia.

-

Perasaan manusia itu susah-susah gampang, bisa-tidak bisa, diprediksi. Tapi secara sederhana oleh kita sendiri diberi nama. Ada sedih. Ada senang. Ada takut. Ada bahagia. Ada rindu. Ada kesal. Ada sayang. Ada sakit. Ada marah. Ada lelah. Ada asyik. Dan lainnya. Tapi kebanyakan, saat perasaannya sedang dirasakan, seluruhnya itu tidak bisa secara telanjang dierjemahkan. Tapi mari kita coba, bersama-sama, menerjemahkan perasaan yang tidak jelas secara absurd ke dalam sebuah tulisan.

Misalnya seperti saat ini, kemudian Malam melahirkan seorang anak laki-laki yang tidak laki-laki dan tidak juga perempuan. Perawakannya seperti seorang anak usia dua belas tahun. Rambutnya hitam, tebal, dengan potongan rambut bob yang lucu. Kulitnya tergolong kulit Asia yang terang, tapi tidak bercahaya seperti matahari. Di matanya terpasang sebuah kacamata hitam bulat dengan frame berwarna merah menyala, tapi tidak seperti api. Kaosnya belang-belang strip horizontal warna hitam dan putih. Dibungkus semcam overall model Mario Bros dari bahan jeans. Dia juga pakai sepatu yang bagus, yaitu sepatu kulit model oxford warna cokelat ukuran anak kecil, dilengkapi kaos kaki belang hitam dan putih yang kelihatan karena overall yang ngatung. Anak ini, pipinya boleh kita sebut tembem, dihias hidung bulat yang mungil juga bibir yang merah jambu. Sambil membawa sebuah tas selempang kecil bahan kulit berhias sebuah enamel pin berbentuk matahari, dia dilahirkan tepat malam ini oleh Malam, dan dengan resmi diberi nama : Perasaan.

Perasaan, maksudku anak itu, yang bernama Perasaan, malam itu lahir di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, dari hiruk-pikuk kehidupan manusia yang samar-samar. Perasaan lahir di puncak sebuah bukit yang tenang, tidak banyak tingkah, dan masih hijau tidak gundul. Kelahirannya tidak sepi. Kelahirannya dihadiri oleh berbagai makhluk yang semuanya adalah baik. Kalian bisa lihat sendiri, di sana ada Ayah Rusa dengan tanduknya yang bercabang bersama istrinya, si Ibu Rusa, juga dua ekor anaknya yang sekeluarga sama-sama mengenakan sweater hangat rajutan bahan kain wool. Di sana ada sekitar tujuh puluh kelinci dari Tibet yang semuanya memakai jaket dan penghangat telinga berbagai warna yang cerah. Di sana ada macam-macam predator seperti Singa, Macan, Harimau, Serigala, Beruang. Semua predator itu duduk di sekitar sambil tersenyum hingga terlihat taring di wajahnya, dan kompak semua menggunakan kacamata hitam sambil memegang aneka macam bunga. Di sana ada Semut, Belalang, Lebah, Nyamuk, Kumbang, Kepik, Kunang-kunang. Di sana ada Elang, Burung Hantu, Kolibri, Merak, Kakaktua, Rajawali, Garuda, Ayam Hutan, Ayam Kampung, Ayam Negeri, Ayam Luar Negeri, dan unggas-unggas lainnya. Semuanya hadir dengan gaya berpakaian masing-masing yang lucu dan berwarna lagi merdeka. Topi, syal, jaket, kacamata, kalung, sandal, sepatu, dan lainnya. Bahkan Tuan Berang-berang hadir lengkap dengan baju koko dan sarung yang diselempangkan seperti bapak hansip kalau sedang ronda. Sayang, kawan-kawan ikan dari laut tidak bisa hadir karena katanya susah bernafas dan tidak masuk akal. Tapi tidak apa.

Di sekitar kerumunan hewan-hewan yang kelihatannya berbahagia, ikut meramaikan juga kawan-kawan tumbuhan yang tinggi-tinggi menjulang. Ada tuan-tuan dan nyonya-nyonya Pinus yang berbaris rapat-rapat. Di dekat kerumunan predator ada juga sekumpulan Pohon-pohon Karet yang sudah dewasa, sudah pandai betul memilah mana yang baik dan buruk. Di seberangnya berkumpul Pohon-pohon Karet yang jauh lebih muda, membuat kawan-kawan Pohon Ek di sebelahnya jadi berpikir bahwa ada kesenjangan sosial yang terjadi Antara generasi tua dan muda di keluarga besar pohon karet, meski semuanya tampak bahagia.

Keramaian malam itu rupanya tidak hanya diikuti oleh hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang terhormat. Di atas bukit, tapi tidak berpijak, rupanya telah ramai oleh aneka hadirin yang sudah jauh-jauh dating dari angkasa raya. Ada Awan-awan putih seumpama kapas yang berhias topi kerucut seperti di acara ulang tahun. Ada Bulan yang, subhanallah, terang sekali, beliau malam ini hadir dengan kacamata hitam, yang saat ditanya kenapa memakainya oleh Jupiter, menjawab karena silau oleh Matahari yang ikut meramaikan suasana di sebelah ─ tentu saja ─ Merkurius, yang di sebelah Venus, yang di sebelah Bumi, yang di sebelah Mars, yang di sebelah Jupiter si Bongsor, yang di sebelah Saturnus yang memakai hulahop di pinggang, yang di sebelah Uranus, yang di sebelah Neptunus, yang di sebelah Pluto yang oleh beberapa manusia sudah tidak dianggap tapi masih sudi dating dan meramaikan suasana. Selebihnya, kawan-kawan Meteor dan Asteroid. Selebihnya, juga ada Bintang-bintang yang tidak sedang jatuh demi manusia, mereka berkedip-kedip dan tidak terhitung jumlahnya.

Betapa ramai malam itu oleh berbagai apa saja. Membuat bukit itu seolah menjadi dunia yang berbeda dari yang sudah ada. Membuat semuanya yang hadir menjadi sama, yaitu ajaib. Membuat semuanya yang hadir menjadi sama, yaitu berkumpul. Membuat semuanya yang hadir menjadi sama, yaitu menyambut kelahiran. Membuat semuanya yang hadir menjadi sama, yaitu terbawa. Oleh karena seorang anak, yang bernama : Perasaan.

Thursday, 18 January 2018

HAI, TONJ

Aku mau coba berbicara pada diriku sendiri. Jadi, kumulai saja langsung.

Halo, Markitonj. Tonji. Tonjos. Arif. Atau lainnya.
Ini aku, yang juga adalah kamu setiap hari sejak dulu hingga kini.

Bagaimana kabarmu? Kelihatannya, atau terasanya ya, kamu sedang tidak baik-baik saja hari ini. Aku tahu betul karena keliatannya kau sedang tidak jernih pikir dan rasa, kerjaan desainmu juga terlihat menemui kebuntuan, progresnya sendiri lambat sekali. Payah nih kamu, payah nih aku. Pada dasarnya aku adalah kamu yang juga adalah aku sendiri. Ketika kau bilang kalau kau tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu hari ini, kukira aku juga begitu. Namun biarkan aku coba sedikit membantumu mengurai berbagai permasalahan yang mungkin mengganggu pikir dan rasa yang ada.

Nah, dari mana baiknya kita mulai? Bagaimana kita mulai dengan membuat batasan masalahnya, dalam artian, jangan membahas faktor-faktor yang sepertinya faktor eksternal, kita bicara faktor internal saja, apa yang kau pikir dan rasa. Kalau eksternal bisa-bisa kau menyalahkan orang lain lalu sembunyi di balik pembenaran sepihak. Sepakat ya? Sepakat. Salaman.

Kamu ini mungkin risau, Tonj. Bukan galau ya, udah agak mirip bapak-bapak jangan galau-galau. Tapi kamu risau, bro. Risau karena berbagai perasaan dan kemungkinan masa depan yang tak terbayangkan, atau justru sebenarnya terbayangkan, makanya malah jadi semakin risau. Dan dari apa yang kupetakan dari hari ini, kamu sepertinya dirisaukan oleh sedikitnya dua hal yang mungkin timbul dengan kuat karena kamu melupakan satu hal besar yang sangat esensial. Supaya jelas dan terarah, kita bahas mulai dari dua hal yang merisaukan itu dulu ya.

1. Cinta
Hoeks! Gilagilagilagilaaaa. Sungguh betul terasa sangat menggelikan mengucapkan kata yang satu itu ya karena terlalu syahdu mungkin, halah. Nah. Ya, mau bagaimana ya, sama aku juga buntu, karena sama akulah kamu. Tapi mestilah begini kalau diuraikan secara agak rasional...

Sebenarnya kamu nggak terlalu risau dan khawatir sih tentang cinta karena kamu tahu, kemarin-kemarin kamu sudah coba ngobrol dengan Yang Punya cinta, dan kamu juga sudah punya pemahaman sendiri tentang jawaban Yang Punya cinta ketika kamu coba ngobrol dan bertanya langsung padaNya. Jadi, soal cinta, kamu sebetulnya nggak betul-betul risau, kamu tahu harus apa, kapan, dan di mana. Bagaimana mah, belakangan mungkin. Aku paham betul kamu mestinya cukup bisa berimprovisasi soal bagaimana gimana di lapangan. Jadi skip aja, ya, langsung ke nomor dua!

2. Babarudakan
Nah, ini. Ini yang sepertinya betul-betul merisaukan kamu sampai ngahuleng tarik dan kabetrik. Babarudakan. Babarudakan, pada dasarnya memiliki definisi dan batasan yang cukup luas di kehidupan kamu sejauh ini. Walaupun sebenarnya pergaulanmu nggak seluas siiiii siapa itu? Pacar anaknya si anak singkong, halah ribet. GOFAR HILMAN. Halah gitu aja lupa banget, ah. Iya, begitu, Tonj.

Jadi, entah tadi siang atau sore aku sempat menangkap sebersit kerisauan di pikiranmu yang kira-kira secara telanjang berbunyi, "Bisa jeung barudak nepi ka iraha nya?"

Gimana ya... Aku, atau kamu, kadang suka berpikir, apa memang nggak bisa ya nanti kalau sudah pada berkeluarga, pada punya istri, punya anak, terus masih sering ngacapruk nggak jelas gitu di grup chat atau di media sosial. Apa nanti memang nggak bisa ya, untuk tiba-tiba ngomong sembarangan ingin ke mana, berlagak hayu, berlagak salaman, kemudian langsung benar-benar pergi entah ke mana ke sana ke mari. Apa nanti memang seribet itu ya tanggungjawabnya sehingga kita mesti jadi pada jauh dan berpisah, meski nggak betul-betul dipisah kematian juga, atau belum. Apa nanti kata babarudakan akan benar-benar akan cuma jadi bahan nostalgia ketika kita udah nggak mungkin lagi sama seperti sebelumnya ya, Tonj. Apa nanti kehidupan kita memang benar-benar harus bergulir sampai meninggalkan suasana kehidupan sebelumnya ya. Iya sih, sebetulnya fase-fase seperti begitu kan sudah beberapa kali juga mungkin ya. Tapi kan tetap saja, apa betul mesti begitu? Jangan-jangan selama ini aku atau kamu salah, atau dunia salah. Atau cuma aku dan kamu saja ya, Tonj, yang terlalu banyak merengek. Yang terlalu kekanak-kanakan karena semacam ingin tinggal satu lingkungan dekat bersama babarudakan itu. Yang terlalu cengeng karena semacam sungguh, rasanya babarudakan di masa depan sudah nggak ada lagi yang mungkin menyamai ke-babarudakan yang masih berlaku sampai hari ini. Apa betul itu nanti anak istri semacam nggak bisa sinergis dengan ke-babarudakan. Apa betul yang begini disebut zona nyaman. Kenapa harus keluar dari zona nyaman. Kenapa tidak bisa babarudakan tetap babarudakan yang tidak zona nyaman tapi tetap zona nyaman. Apa betul mesti begitu ya.

Jelas begitulah rupanya kerisauanmu hari ini, Tonj. Aku cuma mebantu mengurainya untuk kamu malam ini, sementara jawabannya tetap ada padamu sendiri sekalipun akulah yang membuat keseluruhan cerita dan narasinya. Karena yang kita bicarakan sudah disepakati adalah permasalahan yang bersifat internal, maka kamu tidak punya kendali penuh terhadap hidup dan pemikiran orang lain di sekitarmu, juga tentang masa depan dan jalan cerita mereka masing-masing, kawanku yang sedang risau

Maka dari itu, perlulah kau ingat kembali wahai, aku : "Selama ini kau memang dibentuk untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang ada di setiap persimpangan." Maka tegaklah wahai wajahku, dan hadapi segala kemungkinan di depanmu dengan mental 'hayu' dan mental 'salaman' yang berapi-api. Karena sungguh, tidak akan ada jawaban kalau kamu nggak maju ke depan, Tonj.

Nah, adapun hal esensial yang kamu tinggalkan dan menyebabkan kamu menemui kerisauan yang memecahkan konsentrasi adalah : "Kau tinggalkan sembahyangmu kemarin. Goblok!"

Nah nah nah. Sudah, ya. Sudah ringan air mukamu sekarang. Maka aku selesai dengan tugasku malam ini.

Dadah, Markitonj!

Sekian :)

Monday, 4 December 2017

MARBANJO

Kalau kamu tahu, di tepi sana, di salah satu belahan Jawa, ada sebuah Kampung Asin. Kampung kecil yang dihuni oleh mayoritas  nelayan dan juga pengolahan ikan asin. Sebuah kampung kecil yang orang-orang dan rumah-rumah dan jalan-jalan dan angin-anginnya pada bau oleh amis ikan. Termasuk ikan asin.

Kalau kamu kenal, di kamoung sana, itu dia seorang anak laki yang baru saja remaja. Mestinya hari ini dia kelas dua di sekolah menengah pertama, namun jadi sekolah menengah pailit, karena dia sudah tidak. Sudah tidak lagi sekolah. Kalau ada tanya kenapa, "Kepengen aku sendiri kok berhenti. Mau cari uang saja untuk jajan, sekalian berbantu orangtua," begitu jawabnya.

Kalau kamu kenal, dialah itu orang yang punya nama Atok. Aslinya bernama Rudiyanto, tapi dibuat kecil jadi Atok oleh ibunya biar mudah. Atok, katanya, seingat dia, umurnya sekarang mungkin empat belas atau lima belas. Berkakak empat dan beradik dua. Sementara ayahnya telah tiada, Atok bersama ibu dan dua abangnya menjalankan usaha ikan asin yang diterima dari nelayan. Diolahnya itu ikan-ikan biar mati dan jadi ikan asin, lalu dijual ke luar kampung. Ke pasar ikan.

Kalau kamu kenal Atok lebih dalam, maka akhirnya kamu akan tahu kalau Atpk dan keluarganya ternyata berasal dari Indramayu dulunya. "Tapi aku dan keluarga sudah tak pernah lagi pulang ke Indramayu. Keluarga di kampung sana sudah habis," itu maksudnya habis karena beberapa sudah memang habis jatah hidupnya, selebihnya habis karena semua pada pergi jauh dari kampung dengan niat mulia ingin mencari sukses ke ibu kota, atau ke bapak kota.

Selepas subuh, Atok dan abangnya yang muda bertugas memakai sandal untuk sudi pergi menyambut nelayan favorti mereka. Jadi favorit karena dialah pemasok asin untuk perserikatan maha akbar pengolahan ikan asin keluarga mereka. Nah, itu dia, Bang Naim si pelaut, yang sedang asik merokok kretek sudah menunggu Atok dan abangnya -yang bernama Robin, aslinya Robiyanto. Mengepul-ngepulkan asap rokok Bang Naim sambil telanjang dada, bersama beberapa pelaut lain yang juga membawa tangkapannya dalam pesiar-pesiar mini.

Tapi sebelum sampai dekat ke Bang Naim, si Atok yang usil mengajak abangnya untuk ikut usil bersamanya. Melancarkan sebuah misi kecil tolol yang buang waktu, tapi Atok suka, "Supaya tidak bosan hidup rutin begini teruss! Variasi sedikit dongg!"

"Ah, gila kau, Tok. Ngapain sih? Kau sajalah! Aku tunggu dekat kerat-kerat itu sampai kau usai. Masih ngantuk begini. Mau merokok saja," begitu Robin kalau diajak usil oleh Atok.

"Ah, pengecut kau, Bang! Hahaha," sambil lari Atok meledek.

"Kau yang sinting!" sambil melempar Atok dengan angin lalu nyengir kuda geleng-geleng.

Nah, lihat itu Atok yang katanya sinting. Belum genap jam lima pagi tapi dia memutar sedikit mengitari jalur ke perahu Bang Naim yang tertambat. Turun masuk ke dalam air di tepian dermaga kampung, menyelam di bawah permukaan dan perlahan mendatangi perahu Bang Naim si pelaut dari arah belakang. Dengan beberapa helai rumput mati sseolah rambut panjang tergerai berkilau indah di kepalanya, Atok mulai muncul perlahan dan bertengger ketiak ke bibir perahu Bang Naim seraya berucap manja seolah duyung padahal banci kaleng :

"Bwaaank, minta asin, Bwank..."

Bang Naim menoleh dan langsung terperanjat serta merta sampai berguncang perahunya, hampir terjengkang dari duduknya pula. "Wualaahh! Jiancuuuk! Dasar dedemit sialan! Ada saja ulahmu ini, ah, Tok!" sambil melempar Atok dengan rokoknya tapi tidak kena.

"Hahaha. Katanya pelaut, tapi mosok takut sama putri duyung!"

"Mana ada putri duyung macam kamu ini, bahkan lebih jelek dari banci-banci di Taman Ria. Haha. Kurang ajar betul!"

Robin yang ikut melihat terkekeh-kekeh sambil menghampiri juga, "Haha. Loh, Bang Naim, sekarang tangkap putri duyung juga?"

"Sinting adikmu ini, Bin, jual sajalah dia, haha."

"Hahaha," tertawa saja begitu mereka.

Masing-masing Atok dan Robin akhirnya pulang mengangkut sekarung ikan hasil Bang Naim berlayar, bedanya, Atok pulang dengan badan yang basah lagi asin. Ikan-ikan itu kemudian dibawa ke 'workshop' ikan asin mereka yang telah ditunggui Bang Rubi dan Mbok Nani sang ibu. Dibersihkannya isi perut ikan-ikan biar pada mati dan dibelek juga. Lalu semua ikan yang sudah, dimasukkan ke dalam sebuah bak besar berisi air yang kemudian dicampuri garam yang kelewatan. Diaduknya bak itu bergantian selama kurang lebih dua jam lamanya, katanya supaya asinnya meresap sampai ke daging. Meski seumur hidupnya ikan-ikan itu di air asin. Selepas dua jam direndam, akhirnya ikan-ikan asin itu dijemur di bawah matahari panas selama dua hari, kurang lebih, sebelum akhirnya dijual ke pasar ikan, dibeli oleh ibumu, lalu kamu makan bersama nasi dan lainnya.

Tak banyak sebetulnya Atok dapat dari ia berhenti sekolah begitu, lebih kurang cuma sekitar sepuluh ribu satu harinya, tapi buat Atok cukup. Sekitaran pukul satu atau dua, biasanya mereka selesai hari itu, kemudian pulang ke rumah untuk pada sama-sama santap makan siang.

"Mbok, Atok mau main dulu, ya?"

"Sama siapa, Tok? Sama Banjo?" tanya simbok. Sebenarnya itu pertanyaan retoris simbok saja karena kalau kamu juga tahu, seperti sombok yang juga tahu, bahwa Atok pasti main dengan si Banjo itu, sobatnya si Atok semenjak kecil. Banjo itu bukanlah banjo yang alat musik. Banjo yang ini adalah anak baru gede, sama seperti si Atok juga. Yang sudah tidak lagi sekolah, seperti si Atok yang juga. Tapi berhenti terpaksa karena ayahnya yang almarhum tiga tahun lalu tak lagi bisa membiayai sekolahmya. Maka terpaksalah Banjo berhenti sekolah dan jadi ikut bersama pamannya mencari kerang hijau di laut. Karena dia anak pertama di keluarganya.

"Iya, Mbok. Biasa, sama Marbanjo yang hitam seperti cukil nasi kita itu, hehe."

"Hush! Jangan gitu kamu, kayak kamu nggak hitam saja."

"Aku hitam, Mbok. Tapi hitam seperti karang di lautan. Kokoh dihantam dan disegani. Hehe."

"Halah, ngawur, ah. Ngeles aja seperti bajaj di Jakarta. Mau main ke mana, Tok?"

"Ke Ostraliya, Mbok, dekat kok," sembarangan Atok.

"He? Ostarliya? Di mana itu? Ngawur, ah!"

"Haha. Iya, Mbok. Mau ke Ostraliya, nyalon jadi presiden nggantiin Kaka Slank. Aku pergi ya, Mbok," pamit dia sambil mencium tangan mboknya yang tipis.

"Iya, hati-hati. Pulang sebelum malam ya!" teriak simbok pada anak lakinya yang sudah loncat keluar, ke jalanan Kampung Asin yang bau ikan.

Atok pergi ke Kampung Hijau untuk menjemput si Banjo di rumahnya karena tidak punya handphone. Adalah sebuah kampung kecil juga di sebelah Kampung Asin. Menjemput Banjo yang juga baru saja pulang mencari kerang di lautan yang berbuah lima belas ribuan rupiah. Keduanya lalu membeli beberapa batang rokok ketengan dan main rental playstation di warung yang jual rokok keparat itu juga. Main playstation sampai pukul setengah empat sore.

Setelah merasa puas, mereka lantas pergi menuju tepi laut Kampung Hijau. Untuk bertelanjang dada lalu menceburkan diri di tepian laut yang cukup tenang. Di perairan yang tak bersih karena tak jarang ada sampah dan juga lainnya, namu mereka cukup senang. Itu saja. Melakukan aneka gaya salto dari atas perahu-perahu yang ditambat. Beradu kontes 'siapa paling lama dalam air.' Beradu cepat ke sana dan kemari berenang. Lalu lagi, aneka salto dipertunjukkan.

Di ujung petang, Atok dan Banjo biasa duduk di dahan-dahan sebuah pohon rindang sambil menikmati matahari senja. Untuk sekedar obral-obrol saja, tukar cerita ini itu, dan tentu untuk beberapa batang rokok yang tersisa. Menutup hari yang terasa sama sepanjang tahun dan mungkin selamanya.

"Tok...," itu suara Banjo kalau kamu belum tahu.

"Oy," itu Atok sambil menghembuskan asap rokok.

"Lanjut ceritanya," itu aku, iseng saja menulis ini pada kamu yang membaca. Mari kita kembali ke Atok dan Banjo.

"Aku? Hmm... Jadi, itu, apa namanya, jadi mentri. Tapi yang khusus urusan laut dan pantai sajalah."

"Ha. Ha. Ha." Memang begitu Banjo kalau tertawa, "Ngapain kau mau jadi mentri urus-urus laut dan pantai?"

"Supaya aku bisa bikin rental PS yang lebih bagus! Haha."

"Ha. Ha. Ha."

"Supaya rumah-rumah kita di pantai jadi bagus-bagus dan besar!"

"Jadi makin sempit dong? Ha. Ha. Ha."

"Yang penting bagus, Jo! Haha."

"Terus?"

"Nanti semua sekolah di pantai kubuat gratis, Jo. Lalu gaji orang-orang macam kita kubuat jadi dua batang emas per hari!"

"Wah! Benar, Tok? Ha. Ha. Ha." Banjo bertepuk tangan memanas-manasi Atok yang sedang berapi-api. Sinting. Sungguh sinting!

"Oh, ya tentu benar, Jo! Gak cuma itu. Dua batang emas plus sebungkus rokok gratis!"

"Ha. Ha. Ha."

"Filter! No kretek-kretek lah!!"

"Ha! Ha! Ha! Ha!" Banjo terdengar sangat puas, "Aku diajak kerja sama kamu gak, Tok??"

"Nggak! Jangan, Jo! Kamu orang hebat dan pintar lagi jujur. Orang sepertimu akan kusekolahkan lagi. Ke luar negeri!"

"Ha. Ha. Untuk apa toh, Tok?"

"Untuk nanti sekolah tentang laut, Marbanjo."

"Loh. Buat apa?"

"Buat nanti balik ke sini dan bantu aku mikirin laut. Dari tadi kan aku baru soal yang pantai saja. Padahal aku Menupal. Mentri Urusan Pantai dan Laut! Hahaha."

"Ha. Ha. Ha. Ha. Ha. Sinting!"

"Gila ya? Haha."

"Miring, Tok! Ha. Ha. Ha."

Begitulah Atok dan Banjo sore itu di atas sebuah pohon yang jadi emas ketika disiram senja. Betapa bahagia yang cuma sederhana. Jauh sangat lebih sederhana dibanding 'bahagia itu sederhana' orang-orang kota millenia yang jauh dilengkapi, dipenuhi, dilebihkan dari cukup, oleh berbagai macam ini dan itu, tapi masih juga berkeluh tentang ini dan itu. Tapi sungguh, kebahagiaan, pada dasarnya bersifat relatif ukurannya, begitu juga dengan ujian, yang sama, dalam satuan ukurannya bersifat relatif. Dan sungguh, sama seperti kebahagiaan, ujian dan kesedihan pun akan datang mengambil jatah perannya. Bahkan terkadang terasa berat, karena seringkali juga datang, langsung menggantikan kebahagiaan yang tengah ada. Sama persis seperti hari ini. Saat genap sudah empat hari Atok tak juga datang ke Kampung Hijau, ke rumah Banjo. Ke muka Banjo yang menunggu karibnya datang sepulang kerja seperti hari-hari yang biasa. Melainkan abangnya, si Robin, yang datang dengan raut duka, juga kabar duka. Tentang Atok kawan karibnya yang telah tinggal nama. Dibuat hilang tak bernyawa. Membuat hilang semua tawa.

Menurut cerita, Atok meninggal di jalan pulang malam itu sepulang senja dari bersama Banjo. Tewas dipukuli dua orang pemuda Kampung Asin yang sedang dimabuk. Atok dipalaki uang oleh keduanya, namun Atok melawan, Atok melawan untuk mempertahankan seribu rupiah di kantong celananya. Dua keping logam limaratusan yang mesti pulang bersamanya seperti hari-hari biasanya. Dua keping yang selalu begitu, disisakan untuk masuk ke dalam dua celengan pribadinya. Yang satu bertuliskan : 'Untuk Simbok Haji.' Dan yang satunya : 'Untuk Marbanjo Sekolah Lagi.'

Untuk. Marbanjo. Sekolah. Lagi.

Robin datang memberitahu kabar duka. Juga untuk meberikan celengan yang 'Untuk Marbanjo Sekolah Lagi.' Kemudian Robin pulang, meninggalkan Banjo, yang terduduk lesu di muka pintu, yang meleleh air matanya begitu. Hingga menjelang senja Banjo keluar dari rumahnya, membawa sebuah botol tertutup berisi gulungan kertas. Menuju ke tepi pantai dan matahari senja. Kemudian menggali sebuah lubang di bawah pohon karibnya, lalu mengubur botol tersebut ke dalamnya. Lalu disiraminya gundukan tanah tersebut dengan air mata lara. Duka. Dan nestapa.

-

Surat untukmu,
Atok, sahabat Banjo :

Atok.

Atok. Sahabatku. Mentri urusan pantai dan lautku.
Rupanya Allah lebih sayang padamu, begitu kata simbokku. Aamiin.

Atok. Karibku yang pinter. Yang lebih lama kuat di air.
Rupanya guyonmu soal menyekolahkanku bukan omong kosong. Aku tahu kau tahu aku masih ingin sekolah. Tapi guyonmu bukan cuma omong. Kosong. Oleh karena itu, kawanku sayang, aku bersumpah akan berusaha kembali ke sekolah.

Atok. Atok usil yang berbahagia.
Aku bersyukur dan berterimakasih boleh berkawan dengan yang sepertimu. Sungguh aku merasa senang sekali karenanya. Semoga Atok ada di surga Allah. Aamiin.




Sahabat Atok selalu,

Marbanjo.

-

Wednesday, 29 November 2017

JONG ESE MONOLOG

Ese. Jong Ese. Begitu jawabnya kalau ada orang kasih tanya dia punya nama. Seorang pemuda tanggung dengan setelan yang katanya flamboyan. Yang jika pergi ke mana senangnya memakai kemeja motif bunga-bunga lengan panjang yang digulung sepertiganya. Celananya adalah panjang dari bahan katun yang cutbray modelnya. Rambutnya tanggung sebahu, ikal dibiarkannya tak terikat dan bebas merdeka bersama kulitnya yang sawo matang. Wajahnya biasa saja, berhias serumpun kumis tipis yang lebih tebal dari janggut di ujung dagunya.

Jika berjalan, Ese terlihat sangat santai bersama tangan rampingnya yang berayun-ayung mengiringi langkahnya yang santai. Tak jarang wajahnya juga sambil celingukan ke sana kemari dengan acuh. Sekali waktu jika hari terasa lebih dingin, dilapisnya kemeja flamboyan itu dengan jaket jeans yang sedikit lusuh. Tampak dari belakang jaket itu berhias lukisan tangannya dari cat akrilik dengan sebuah tulisan : "DARI MANA HENDAK KE MANA."

Di hari-hari sendu, Ese lebih senang menyendiri. Di bawah sebuah pohon kersen favoritnya yang rasanya sangat jarang berbuah. Hanya duduk saja begitu sampai biru, sampai beku dipeluk perasaan sendu. Bersama awan-awan sore yang bergerak pelan ditiupi angin dari timur. Seperti sore ini, seperti sekarang ini, bersama jaket pilihannya.

Lama sudah rasanya Ese melamun kosong di bawah pohon itu. Rupa-rupanya kekosongan lamunan Ese telah membawa seorang Ese lainnya yang tiba-tiba mengetuk pikirannya. Seorang Ese yang sama persis seperti Ese yang selama ini menjadi dirinya. Hingga Ese merasa perlu berkata padanya, "Ada perlu apa kemari? Aku tahu siapa Engkau."

"Entahlah. Cuma datang saja. Kulihat Kau melamun sendiri. Siapa tahu kau butuh teman untuk sendiri."

"Aku tak merasa butuh teman untuk sendiri. Itu pasti. Tapi bolehlah kau duduk di sini kalau mau kasih aku kawan," balas Ese santai.

Cukup lama sebetulnya Ese cuma diam dan duduk sambil tetap melamun begitu. Lalu, "Apa yang kau lamunkan, Ese? Ceritalah sedikit itu Kau punya pikiran."

"Begini, Ese," jawab Ese, "Pada dasarnya pikiranku sungguh ada di semua mana yang bisa ada. Pada serangkaian peristiwa lampau yang muncul. Pada peristiwa yang mungkin akan ada selanjutnya. Pada itu Kau boleh lihat ujung daun di atasmu. Pada itu burung merpati yang belum pernah sama sekali lewat pada kita. Pada itu batu kecil di ujung jalan. Pada itu langit yang memang begitu warnanya. Pada itu mereka yang punya negara kita. Pada itu bunga bakung yang mekar dalam sebuah lagu. Pada itu ibu penjual ketan yang entah kenapa memilih ketan untuk dijual. Pada itu asap kendaraan yang masuk ke dalam knalpot jika waktu sudi mundur ke belakang, yang secara praktis jika kau undur waktu makanmu justru tetap saja maju ke depan. Pada itu mereka orang-orang yang tidak kukenal. Pada itu mereka orang-orang yang ternyata aku sudah kenal. Pada itu dirimu, Ese, yang juga adalah aku. Pada itu aku yang kini melamunku di bawah pohon kersen."

"Wah, wah. Kau ini betul lah seorang pria dengan pikiran yang tidak praktis ya. He. He."

"Ya begitulah jika kau berpendapat demikian. Begitulah aku di matamu jadinya," Ese menanggapi.

Lama lagi lalu Ese kembali melamun merasai sore yang sudah semakin. Daun-daun pohon kersen melambai laun-laun dikutip angin pelan-pelan.

"Aku tak  pernah betul bisa menyusun semuanya," gumam Ese tetiba.

"He? Bagaimana?"

"Iya. Maksudku, aku tak pernah betul-betul bisa menyusun demikian pikiranku secara rapi dan pasti. Jadi ya begitu," Ese melengkapi penjelasannya.

"Ooh. Hmmmmm... Ah, sudahlah, Bung. Biar saja begitu. Mungkin bagus jadinya nanti."

Mengernyit dahi Ese, "He? Bagus bagaimana? Jadi apa maksudmu, Ese?"

"Yaa tak tahu pun aku jadi apa itu nanti. Tapi mungkin bagus menurutku Kau kacau begitu. Siapa bisa sangka mungkin itu kacau bisa jadi ini, atau jadi itu, jadi hasil. Mungkin juga ada bagus itu Tuhan kasih Engkau punya kacau. Atau mungkin sebenarnya itu bukan kacau, melainkan lainnya."

Bermenung Ese mendengarnya. Bermenung Ese karenanya. Ssementara sore tak terasa sudah saja semakin. Itu kita tahu karena hari sudah mau jadi gelap, tapi sedang mandi bumi dan langit oleh emas matahari senja bersama angin yang cinta dunia. Ah, sudah cukup dan waktunya mesti pulang ke rumah buat Jong Ese, sehingga berkatalah dia orang, "Boleh jadi Engkau betul, Ese, dan semoga saja betul."

"Ese. Hari sudah masuk petang. Aku mau ada jalan pulang. Kau mau ikut atau di sini saja?" lanjut Ese.

"Pulanglah, kawanku sayang. aku mau diam di sini melanjutkan Engkau."

"Bersama siapa pula? Sendiri juga?"

"Bersama Eleanor Rigby-nya The Beatles. Kau pulanglah."

"Salam untuk mereka ya, Ese. Untukmu juga, terimakasih sudah kasih aku banyak tadi. Semoga jumpa lagi kita di sini."

Dan oh, lihatlah juga olehmu itu senja. Sinar-sinarnya yang menembusi sebahagian awan bergumpal. Pohon kersennya yang melambai-lambai kasih kita sampai jumpa. Batu kecilnya yang diam di ujung jalan. Burung merpati yang tetiba lewat melengkung bersama seekor merpati lainnya. Mekarnya bunga bakung di lagu yang telah lama berseminya. Ketan sisa yang dibawa pulang oleh ibu yang menjualnya. Juga asap kendaraan lalu lalang yang tentu asapnya keluar dari knalpot di pantatnya. Juga peristiwa-peristiwa lampau yang sesekali sering juga ingin ditengok. Tentu juga peristiwa-peristiwa selanjutnya yang satu persatu sudah siap menyambut Jong Ese, menyambutmu, menyambutku, menyambut kita, saat kita sudah siap bertemu.

Dan oh, lihatlah olehmu juga, itu Jong Ese, itu kamu, itu aku, itu kita semua. Berjalan ramai-ramai dan bersamaan di atas muka sebuah bola raksasa di bawah kita yang karenanya jadi berputar seperti akrobat dalam pertunjukan sirkus yang mulia. Menuju pulang. Menuju ke sampai jumpa.




28 November, 2017.

SISA HUJAN DAN CAHAYA

Maghrib menjelang. Sore itu, selain gelap, faktanya hujan juga ikut datang bersamaan. Turun bersama matahari memberi salam penyambutan datangnya perjamuan malam. Lamat-lamat kudengar suara rintik-rintik air hujan yang menenangkan. Namun, toh, setiapmanusia dihinggapi keresahannya masing-masing. Dan punyaku, selepas maghrib mengajakku untuk keluar dari rumah, menuju Bandung dan jalan-jalan basahnya.

Di depan pagar rumah rupanya jalan kecil di depan rumahku  betul basah. Berkilapan cahaya rumah-rumah yang dipendari aspal basah. Hawanya sejuk lagi damai. Namun setiap manusia dihinggapi keresahannya masing-masing, toh? Kueratkan retsleting jaket tebalku supaya aku segera berangkat. Ke jalan-jalan gang kecil. Ke jalan-jalan perumahan yang juga basah. Ke jalan-jalan kompleks perumahan tentara yang juga basah. Ke jalan Setiabudi yang panjang menurun yang sama, juga basah. Menuju jalan Cemara yang juga dibuat basah.

Itu karena hari sudah malam dan hari sudah gelap. Membuat lampu-lampu jalan pada menyala. Membuat lampu-lampu rumah pada menyala. Membuat lampu-lampu taman pada menyala. Membuat lampu-lampu kendaraan juga pada semua menyala. Membuat semuanya jadi pada terbias di muka jalan-jalan yang basah. Memantul-mantul ringan pada air-air gerimis kecil yang masih rindu pada bumi. Membuat sebuah fenomena jingga yang adalah sebuah kenyataan.

Fenomena dan kenyataan.

Kenyataan bahwa rupanya malam ini jadi hajat akbar seluruh laron-laron yang datang entah dari mana. Terbang ke sana juga kemari ke cahaya-cahaya. Cahaya di tiang-tiang lamu jalanan. Cahaya di pasak-pasak lampu taman. Cahaya di perseliweran lampu-lampu kendaraan. Di jalan dan di udara.

Ratusan. Ribuan. Ratusan ribu. Ratus ribuan. Laron-laron ikut meramaikan jalanan. Pada hajatan menyambut tanah basah dan cahaya jalanan. Sayap-sayapnya yang rapuh tak jarang pada tanggal dari tubuh mereka. Melayang-layang tak keruan disapu angin jalanan yang malam. Lalu berserakan juga di muka jalanan basah. Dan semuanya yang bening itu menambah bias cahaya-cahaya yang di mana-mana. Dan rupa-rupanya itu juga kenyataan sejenak yang sudah berhasil menampik keresahan manusia sepanjang perjalanan kecilnya.

Ya Tuhan. Begitulah rupanya hajat besar pesta buana laron-laron yang sederhana. Yang sepertinya pada bahagia oleh karena hujan dan cahaya. Untuk ramai-ramai berdansa sambil terbang liar menuju aneka cahaya. Untuk kemudian tanggal semua sayapnya. Untuk kemudian jatuh dan cuma merayap-rayap di atas lantai-lantai bumi. Untuk kemudian saling berpasangan jantan dan betina. Untuk berbuntutan ke mana dan ke mana. Di bawah sisa-sisa hujan dan aneka cahaya.

Setidaknya begitulah terjemahanku tentang mereka. Dan tak perlulah aku tahu alasan ilmiahnya. Agar aku duduk dan menulis di sini, bercangkir kopi, bersama Sebastian Klinger dan Jurgen Kruse, yang dibawakan berupa Spiegel Im Spiegel.




28 November, 2017.