Saturday, 8 March 2014

PERASAAN BANDUNG

Pada awan malam yang membawa hujan ke bumi
Pada hujan yang membawa air ke tanah
Pada air yang membiaskan spektrum cahaya ke dalam mata
Kepada Bandung yang membawa cinta ke dalam rasa

Pada masing mata kami yang bertemu beradu pandang
Pada ujung bibir yang tersenyum ditarik gelak tawa
Pada cerita yang disibakkan oleh renda keterbukaan
Oleh Bandung, yang selalu melibatkan perasaan

Tuhan ciptakan Bandung sembari tersenyum
Menyisipkan energi positif di setiap jengkal mukanya
Menuliskan kenangan
Yang kemudian ditulis dalam permata senyum sebelum tertidur

Aku mengantuk setengah mati
Berpeluk rasa yang ditanam Bumi Siliwangi
Berselimut bahagia yang tersirat di matamu, Rembulan pagi
Beralas cinta yang membentang sabuk orion semesta

Bandung, kota yang dicipta Tuhan dari karsa senyuman
Terlepas kajian geografis, jauh libatkan perasaan
Perasaanmu, wahai Bandung yang menyiram dengan hujan
Perasaanku, yang dihujani sukacita, disiram cahaya Rembulan.

Tuesday, 4 March 2014

MENJAGA GRAVITASI

Malam adalah rumahku bermenung
Menemaniku duduk berpangku
Melepaskan pikiran pada kerajaan yang lepas
Mengucap kata tanpa suara bersama asap mengepul

Semesta berputar dalam sebuah irama
Dengan pretensi ragam ikatan yang terjaga
Perletakan tata surya
Pada gravitasi Bumi yang bergerak menjaga Rembulan

Gravitasi adalah satuan gaya yang menarik
Kemudian menjaga koneksi pada semesta
Sebuah ikatan yang terjaga
Sebuah ikatan yang dihormati tata surya

Apakah ia yang menjagaku denganmu
Ikatan apa yang ada dalam perantara
Tanpa definisi gaya yang saling bekerja
Kemudian memberikan arti perlindungan

Pada sebuah ikatan yang ada aku menghormat
Atas sebuah gaya yang bekerja aku akan berjaga
Agar semesta tidak pecah lepas dari ikatannya
Agar Bumi dan Rembulan tidak terpisah dalam dunia

Bersama gravitasi aku bercinta dalam air mata
Kepada gravitasi aku menghormat dan menjaga.

Monday, 17 February 2014

TANGAN UNTUKMU

Dalam serambi bernaung malam
Aku menjamu menguntai kata
Berkata hati pada jemari yang bergerak
Merapal kata yang dipecah tombol-tombol

Apa yang salah tentang cinta
Bumi dan bulan bersama tanpa berucap
Apa yang salah tentang cinta
Yang tak terucap dalam perjumpaan

Bernaunglah di bawahku
Dari langit yang runtuh tiangnya
Dari panas yg membakar punggungku
Berlindunglah di belakangku
Dari angin yang hempaskan gunung
Berdiamlah dalam lingkarku
Dari dingin yang mencabik tulang

Kasih dan sayangku
Bagimu penunjuk jalan Tuhanku
Kaki dan tanganku
Bagimu saat sulit kau bangkit menopang

Sungguh penghormatanku padamu
Adalah satu-satunya norma

Apa yang salah tentang cinta
Sementara dibatasi norma penghormatan
Apa yang salah tentang cinta
Soal mengakhiri hidup bersama seorang wanita

Ini tanganku
Genggamlah kapan kau bisa
Aku tak akan melepasnya.

Wednesday, 12 February 2014

PETANI DI BAWAH TERANG REMBULAN

Apa yang kau tanam, adalah apa yang kau panen.

Dulu
Aku adalah petani yang buruk
Dengan bermodal hasrat
Dorongan kepemilikan hasil panen
Pada sebuah masa tua yang terasa belia

Apa yang bisa kutanam
Kubenamkan dalam tanah bebas
Tidaklah kurawat serta kujaga
Aku bertani asal ada hasil

Maka di sanalah aku
Terpuruk oleh hasil yang kotor

Kemudian
Akulah petani yang takut bertani
Digulung oleh hama penyesalan
Digerogoti gulma citra petani yang merusak
Petani yang menyakiti ladangnya dan berlalu pergi

Akulah petani yang takut bertani
Aku takut menyakiti bumi atas ladang taniku
Maka aku hanya bisa menjaga bumi dengan bodoh
Aku akan bertani jika aku benar siap sungguh bertani

Sekarang
Kulewati masa panjang menyepi kaca diri
Aku adalah petani yang siap bertani
Merawat pekerjaanku dengan keputusan
Sebuah komitmen dalam satuan waktu yang panjang

Memetik cinta, itulah aku bicara
Perihal umum yang tidak mudah

Dalam ikatan gravitasi
Bulan Sabit adalah kau yang mengakhiri ketakutanku
Bulan Sabit adalah keputusanku usai kaca diri

Maka akulah petani yang bertani untukmu seorang
Lalu aku menjadi tanah yang merawat benih-benih
Lalu aku menjadi luasan ladang yang menutupi bumi
Lalu aku menjadi bumi yang akan memanen tanganmu

Bumi yang meggandeng dan menjaga Rembulan
Tak lepas bersama hingga akhir zaman

Sebuah cerita Bumi dan Rembulan
Seorang petani di bawah terang Bulan Sabit.

Tuesday, 28 January 2014

DIMENSIPASI

Ada sebuah dimensi yang berhenti
Digambarkan oleh jemari yang kasar mukanya
Debur yang mendobrak amat kuat sebelumnya
Dipecahkan keraguan  memecah lambungnya

Ada Rembulan berpangku di balik awan
Jauh di dasar, pungguk mengangkat dagu pada angkasa
Memadu ragu beralas niat menjemput harapan
Memainkan remah cemas gandum pujaan

Apa yang hangat disebut cinta selalu
Bermakna mendung oleh selimut yang takut
Pernyataan pembenaran, kebenaran milik Tuhan
Digoyang oleh ragu tentang pelanggaran norma

Adakah aku salah berpijak, mengejar tanah harapan
Lancang pada harta angkasa bermata terang
Padu madunya bersama benda angkasa
Pungguk yang merangsek jibaku lapis atmosfer

Ada sebuah dimensi yang masih beku
Inginku ke tanah harapan
Menjadi sebuah Bumi
Bergandeng Rembulan terpisah akhir zaman

Adakah sebuah dimensi sudi melihat,

Wednesday, 1 January 2014

SAJAK PENDAKIAN

Ladang, ladang, ladang
Lalu bukit angin menghempas kami
Dengan langkah kaki memijak

Akar-akar itu meranting bersilangan
Menaungi melorong sepanjang kami
Tanah basah melicinkan kaki-kaki

Jalur air megikis tanah sedalamnya
Membuka jalan bagi mata yang memandang
Mempertemukan kaki pada dada yang berat

Tanah teralu gembur dan licin
Jumpai batas satuan vertikal
Bertemu batas titik nadir fisik

Ruang terang menjawab asa penuh harap
Dengan duri melukai raga lalu rapuh
Sebuah ruang butuh kawanan kami

Maka inilah bukti nyata Tuhan

Maka inilah kami manusia yang tersenyum
Dengan tubuh remuk yang melepaskan leganya

Oleh puncak Gunung Burangrang








- Gn. Burangrang, 31/11/2013 - 01/01/2014

Tuesday, 31 December 2013

TENTANG AIR MATA

Malam sebelum aku mendaki
Dini hari sebelum aku mendaki
Aku, entah
Mataku enggan terpejam

Malam sebelum aku mendaki
Aku begitu kosong dan kerdil
Tidak ada yang bisa kugambarkan
Tidak ada sebarispun eksplanasi dalam benak

Dini hari sebelum aku mendaki
Segumpal daging bernama lidah ini kelu kaku
Tak ada ucap pun suara bicara
Tak ada arah ke mana titik mata memandang

Malam sebelum aku mendaki

Dini hari sebelum aku mendaki

Entah apa
Penjuru mataku mengeluarkan air mata
Air dengan sirat kesedihan dan ketakutan
Tapi tak kutemui suratan airnya

Jauh sebelum aku mendaki
Kaki yang melangkah ke atas sana
Adalah sepasang kaki dari yang ingin
Menemui titik nutfah mikro manusia

Adalah sepasang kaki dari yang ingin
Menemui agungnya zat tak kasat bergelar Tuhan
Menemui karyanya atas bukti kehadiratNya
Memenuhi jalanku mengenal kekerdilan manusia

Malam sebelum aku mendaki

Dini hari sebelum aku mendaki

Terhitung empat tetes air mata ini

Kusembahkan untuk Tuhanku
Kusembahkan untuk Ayah, Ibu, dan Adikku serta keluargaku
Kusembahkan untuk Guru-guru dan seluruh sahabat-sahabatku
Kusembahkan untuk aku yang dulu masih kecil

Kemudian untuk tetesan-tetesan yang jatuh berikutnya

Kusembahkan untuk dosa-dosa yang kugunungkan di bahuku
Kusembahkan untuk sebuah negara bernama Indonesia
Kusembahkan untuk sebuah keluarga bernama Kridaya atas segala hutang budiku
Kusembahkan untuk ketakutan-ketakutan yang berbayang
Kusembahkan untuk kesedihan dan kepedihan orang-orang atasku yang juga bersedih
Kusembahkan untuk seorang wanita yang kucinta dengan nama Bulan

Kemudian untuk satu tetes terakhir, sebelum ia mengering...

Untuk tanah, yang melahirkanku
Dan untuk tanah, yang kemudian menerimaku kembali ke dalamnya
Dalam ketiadaan
Dalam kenangan yang mungkin usang




Maka berserahlah aku kepada jalanku.