Friday, 12 October 2018
SEPERTI SEDIA KALA
Thursday, 27 September 2018
SERENDIPITY KEDAI SENJA
Sungguh bukan rahasia. Ternyata manusia. Entah bernama siapa. Dan betul perempuan, seorang perempuan betulan. Pasti karena dingin, dia pakai sebuah sweater rajut warna hitam berlapis parka dengan warna senada tapi lebih muda yang kau sebut apa? Abu-abu? Terserah. Dia juga pakai celana jeans dengan warna yang lebih gelap dari jeansku, dan belum pudar. Jeans itu dipakai karena dia punya. Alasan yang sama seperti sepatu kets hitam-putih yang dipakainya. Itu juga membuatnya jadi membawa sebuah totebag hitam. Dan tentu saja kerudungnya berwarna hitam, karena dijual hitam dan menjadi miliknya setelah dibeli.
Ditepis-tepisnya basah yang separuhnya melekat pada apa yang dipakainya. Pintu kembali menutup, lonceng lagi berbunyi, namun tak lagi kudengar. Berjalan dia ke arah kasir. Kupastikan itu adalah karena dia kedinginan dan mau pesan sesuatu yang hangat. Mungkin kopi. Pasti untuk dia sendiri. Bukan untukku. Atau belum. Aduh. Postur tubuhnya agak mungil. Tidak lebih mungil dari mutiara. Tapi lebih indah dia. Tak seperti kupu-kupu. Dia lalu mencari tempat duduk dengan cara berjalan kaki. Sementara merak warna-warni, dia tidak. Tapi lihatlah, dia lebih anggun. Dia sudah selesai mencari tempat duduk. Hal itu membuatnya jadi duduk dan sama berteduh. Di samping jendela lainnya. Dan membuat jendela tersebut jauh lebih spesial ketimbang jendela di sebelahku. Jendelanya itu, di sebelah kursi dan meja. Persis di depan meja tempat aku sudah lebih dulu duduk.
Heh. Tepat di depanku!
Sekilas dilihatnya orang yang duduk di meja depan meja tempatnya duduk. Seorang laki-laki kikuk yang tiba-tiba pura-pura berpikir dan sibuk menulis. Aduh. Tentu saja itu aku. Yang tiba-tiba langsung menyeruput kopi entah kenapa. Sementara dia perempuan tampak tidak terlalu peduli juga, tapi sempat menahan senyum yang entah karena apa. Lalu duduk diam dan mulai asyik dengan smartphone di tangannya.
Musik folk terdengar mendayu-dayu di seantero kedai kopi. Itu karena suaranya keluar dari speaker kedai. Meski samar-samar, suara hujan yang sudah sedari tadi turun ramai-ramai semakin deras. Perempuan mungil di depanku mulai menikmati pesanannya yang sudah datang dan berupa secangkir teh yang rasanya manis lagi hangat. Aku sendiri kelihatannya masih serius menulis sesuatu yang rahasia. Tapi apa yang kutulis tak lagi penting. Itu tentu saja karena aku hanya pura-pura belaka. Pura-pura oleh sebab perempuan di depanku rupanya seorang pencuri. Yang sesekali tersenyum di depan layar smartphonenya. Apa-apaan. Manis begitu. Yang menghangatkan telapak tangannya pada cangkir tehnya yang manis lagi hangat. Yang wajahnya terpapar sinar kuning merkuri lampu kedai karena hari menjelang senja dan matahari perlahan kalah terang darinya. Menyebabkan aku jadi kehilangan konsentrasi menulis yang sebelumnya kumiliki. Menyebabkan segala rahasia semesta yang kutulis seakan hilang nilai dan pendar. Membuat aku menjadi berjuta. Menyebabkan aku senang mencuri pandang.
Kawan, tahukah engkau, bahwa yoghurt lezat karena fermentasi, sedang kopi kuat karena argumentasi. Mengapa kutulis demikian? Entah. Karena sebagaimana kau sudah tahu. Perasaan bukan bagian dari persamaan matematika. Juga bukan termasuk dalam kategori hal yang berjudul logika. Mudah-mudahan kau setuju begitu. Sehingga entah kenapa lalu kutulis sesuatu di atas secarik kertas. Sehingga entah kenapa pula aku berdiri meninggalkan mejaku. Sehingga entah kenapa aku berjalan setengah kikuk menuju perempuan yang ada di depanku. Menyebabkan aku jadi menyerahkan secarik kertas yang kutulisi sebelumnya.
Tulisan yang ini bukan rahasia, sehingga jika kau baca perlahan akan kau dapati sebuah tulisan tanganku berbunyi:
SERENDIPITY KEDAI SENJA
TIADA PERNAH ADA
PERMATA YANG MENCURI MANUSIA
KECUALI DI KEDAI INI
IALAH NONA YANG PERTAMA
BELUM HABIS HUJAN REDA
BERTEDUH DI KEDAI SAMPAI HABIS SENJA
JIKALAH KU DUDUK DI KURSI INI
SUDIKAH NONA BERBAGI MEJA?
Wednesday, 18 April 2018
IKUT PERASAAN: BAGIAN TIGA
IKUT PERASAAN: BAGIAN TIGA
Sudah cukup lama sebetulnya Sang Malam diam begitu. Mungkin sudah ada sekitar setengah tahun ia terlihat tak seperti biasanya, membuatnya terlihat lebih sering berdiam diri, melamun, bermenung, bahkan bisa sampai berjam-jam lamanya. Hal itu membuat banyak makhluk yang mengenalnya ─ seluruh makhluk mengenalnya ─ jadi bertanya-tanya tentang apa yang terjadi padanya. Bahkan secara sembarangan, sesekali beredar rumor bahwa Sang Malam sedang tidak waras, karena kesurupan setan! Ah, tapi macam mana malam kesurupan setan, memangnya pernah ada kasus malam kesurupan setan? Sungguh tidak masuk di akal.
Aku, sebagai penulis cerita, tentu punya tanggung jawab khusus untuk harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada setiap tokoh yang tertulis di cerita ini. Dan juga sudah tugasku untuk menceritakan apa-apa yang terjadi tersebut kepada pembaca sekalian yang terhormat. Bahwa sungguh, sebetulnya Sang Malam tidaklah kesurupan makhluk sebangsa jin atau setan, yang halus, karena memang pada dasarnya hal tersebut tidak masuk akal. Bahwa sungguh, sebetulnya apa yang terjadi pada Malam adalah merupakan suatu hal yang baru dan berat bagi Sang Malam itu sendiri dan telah melandanya selama setengah tahun belakangan ini. Bahwa sungguh, sebetulnya permasalahan yang melanda Sang Malam nyatanya jauh lebih berat dan jauh lebih esensial ketimbang hanya kesurupan makhluk astral belaka seperti yang telah dirumorkan oleh seluruh makhluk yang mengenalnya. Bahwa sungguh, sebetulnya hal ini adalah sebuah persoalan besar yang akan berdampak sangat serius bagi keberlangsungan seluruh kehidupan di alam semesta.
Nah, maka ketahuilah oleh kalian seluruhnya wahai pembaca yang terhormat, bahwasanya selama setengah tahun ini rupanya Sang Malam tengah menanggung, atau mungkin lebih tepat jika Sang Malam tengah mengandung. Ya, mengandung. Semacam istilah yang biasa disematkan kepada seorang ibu mungkin begitu, hamil. Persoalan ini tentu saja secara langsung berpengaruh kuat bagi Sang Malam sendiri. Membuat orientasi kegiatan Malam sehari-hari menjadi tidak jelas. Membuat orientasi hidup Sang Malam akhirnya menjadi gamang dan tak pasti. Karena pikiran begitu terganggu tentang apa yang terjadi pada dirinya. Apakah gerangan kiranya yang selama ini dikandungnya. Apakah gerangan kiranya yang selama ini ditanggungnya. Apakah gerangan kiranya yang selama ini ada di dalam tubuhnya. Terasa seolah apa yang ada di dalam tubuhnya ini memiliki suatu kekuatan yang begitu dahsyat. Seolah-olah terasa mampu untuk membuat bumi terbelah atau semacamnya. Dan apapun itu, rasanya, apa yang ada di dalam tubuhnya memiliki tuntutan khusus untuk keluar dari tubuhnya. Untuk lahir dan bebas untuk bertemu isi semesta. Untuk kemudian bisa dengan bebas melepaskan segenap kekuatannya yang dahsyat ke seluruh dunia.
Seiring dengan bergulirnya waktu, Sang Malam paham betul, bahwa apa yang selama ini terkandung di dalam tubuhnya adalah suatu hal baru yang begitu besar dan fenomenal bagi dunia. Sehingga pada bulan-bulan selanjutnya setelah setengah tahun tersebut Sang Malam telah menjadi lebih tenang dan jelas sehari-harinya. Ia paham betul bahwa apa yang tengah dikandungnya mestilah ia rawat sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Agar pada saatnya nanti apa yang dikandungnya harus lahir ke dunia tak ada satu kekurangan apapun yang akan membatasi potensi yang dimilikinya. Tanggung jawab tersebut dipahami betul oleh Sang Malam dengan memberikan semacam nutrisi khusus yang dibutuhkan oleh makhluk di dalam tubuhnya. Hal itu membuat makhluk-makhluk lain di sekitarnya tak jarang mendengarnya melantunkan berbagai nyanyian-nyanyian alam yang tak dipahami namun begitu menyentuh. Atau terdengar siulan-siulan atau senandung-senandung yang sayup-sayup terbang dibawa angin ke berbagai penjuru melintasi sungai-sungai dan gunung-gunung. Di waktu-waktu lain, beberapa makhluk lain juga mendapati Sang Malam tengah duduk memandangi matahari yang terbit dan matahari yang tenggelam. Atau di waktu lain didapati ia tengah duduk di tepi sungai, seolah sedang berbicara sendiri sambil mengamati ikan-ikan salmon yang berenang-renang. Atau saat ia sedang beralan-jalan ringan di tepi pantai sembari bermain-main kecil dengan ombak yang menggodanya. Dan catatlah olehmu, bahwa apa yang dilakukan oleh Malam bukanlah suatu akibat dari kesurupan makhluk astral, melainkan sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap suatu kekuatan besar yang selama ini terkandung di dalam tubuhnya hingga tiba saat kelahirannya.
Sang Malam paham betul kapan kiranya makhluk yang dikandungnya ini akan keluar dan lahir ke dunia. Sehingga pada usia delapan bulan kandungannya ia mulai lebih banyak berkontemplasi. Mencoba memahami berbagai esensi dari kehidupan dan isi semesta yang ada. Apa yang dilakukannya tersebut ternyata merupakan suatu bentuk usaha dalam memahami dan memaknai apa yang dikandungnya. Dengan apa yang ditemukannya dari pemahaman dan pemaknaan itulah kemudian yang akan menjadi dasar pemberian nama bagi apa yang dikandungnya. Karena segala sesuatu yang ada di dunia tentulah mesti memiliki nama bukan? Karena apalah arti sebuah makhluk jika tak memiliki nama untuk dimaknai. Dan apalah pula arti sebuah nama jika tak mengandung sebuah makna khusus bagi makhluk yang menyandang nama tersebut. Betul begitu, dan mestilah betul.
Maka setelah proses panjang kontemplasi dalam memaknai dan memahami apa yang dikandungnya selama delapan bulan ke belakang, Sang Malam pun akhirnya telah mengantungi sebuah nama yang akan disematkan pada kandungannya. Ia pun selanjutnya berpikir, mengingat apa yang dikandungnya selama ini merupakan suatu hal besar yang memiliki potensi bahkan mungkin tak terhingga. Ia berpikir bahwa selayaknya seluruh makhluk di alam semesta ini mestilah mengetahui akan datangnya kelahiran suatu hal yang besar dan dahsyat. Ia berpikir bahwa perlulah kiranya ia memberikan undangan kepada seluruh makhluk yang ada agar mereka semuanya bisa memilih untuk ikut hadir ataupun tidak dalam menyambut kelahiran yang akan segera tiba waktunya. Tentu saja, karena ini merupakan salah satu peristiwa yang sangat bersejarah bagi seluruh dunia. Semua berhak hadir. Semua berhak tidak hadir. Namun seluruhnya harus tahu bahwa akan lahir sesuatu yang sangat besar dan ajaib dari tubuhnya setelah dikandung sekian lama. Membuatnya berpikir agar nanti menjelang saat kelahiran, akan ia umumkan ke seluruh penjuru semesta apa yang akan hadir ke dunia.
Maka sembari mengusapi tubuhnya, ia berkata pada apa yang ada di dalamnya:
“Bersiaplah engkau untuk lahir ke dunia. Kau, tentu saja, kuberi nama: Perasaan.”
Wednesday, 4 April 2018
IKUT PERASAAN: BAGIAN DUA
IKUT PERASAAN: BAGIAN DUA
Nah. Waktu itu masih siang suasananya. Matahari masih bertugas, Bulan belum, setidaknya begitu menurut seorang anak manusia kepada kawannya suatu hari dulu. Kelinci-kelinci yang tujuh puluh ekor juga masih berada di Tibet, terlihat wajar di sebuah padang karena hanya melompat-lompat, atau berlari-lari, atau sedang makan, atau sedang diintai oleh seekor elang yang sudah sekitar lima menit berputar-putar di dekat lereng pegunungan. Ayah Rusa sedang gagah, karena kepalanya tegak, melihat keadaan sekitar. Memantau dua ekor anaknya yang berlari-lari kecil di sekitar, sementara Ibu Rusa masih asyik mengunyah rumput kesukaannya. Lalu ikut menunduk, ikut makan rumput, mungkin jadi ingin makan rumput juga melihat istrinya yang seolah nikmat betul menikmati rumput. Binatang-binatang lain juga seperti kodratnya, menjalani kehidupan secara wajar sebagai makhluk Tuhan yang diklasifikasikan sebagai hewan.
Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya Pinus terlihat sangat malas dengan hanya bergoyang-goyang atau terdoyong-doyong oleh angin yang berhembus kuat ke batangnya, daun-daunnya juga bergetar. Mereka tidak malas, sungguh, karena memang begitu perilaku mereka kalau sudah tinggi, betul bukan? Pohon-pohon Karet juga terlihat wajar. Berbaris ramai-ramai berjarak sampai disebut oleh manusia bahwa mereka itu adalah hutan karet. Tidak tampak jelas juga mana pohon karet yang lebih tua atau yang lebih muda, seolah tidak ada itu yang namanya kesenjangan sosial antargenerasi, mengarang saja, karena toh semua sama, disayati tubuhnya oleh manusia supaya getahnya dapat diambil sebanyak-banyaknya. Yang sama juga bergoyang-goyang bagian atasnya ketika dilewati angin. Begitu juga pohon Ek, semua tampak wajar di dunia yang biasa-biasa saja.
Betul. Begitu juga dengan planet-planet yang punya tugas di tata surya kita. Yang jika disebutkan secara berurutan adalah Pluto, Neptunus, Uranus, Saturnus, Jupiter, Mars, Bumi, Venus, dan terakhir Merkurius. Begitu urutannya jika aku ingin menyebutkan mereka dari yang paling jauh dari Matahari. Masing-masing mereka masih bersikap wajar dengan tetap berjalan pada sumbunya yang secara umum disepakati mengitari Matahari dengan kecepatannya masing-masing.
Sampai beberapa saat, siang itu, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang terdengar oleh mereka itu seluruhnya yang sekonyong-konyong begitu saja berkata:
“Halo semuanya. Pemberitahuan, bahwasanya nanti malam, di bukit, Perasaan akan lahir ke dunia. Saya ulangi, bahwasanya nanti malam, yaitu , Perasaan akan lahir ke dunia. Semuanya dibebaskan untuk hadir atau tidak hadir di kelahiran Perasaan. Sekian dan terimakasih.”
Demikian suara tersebut kira-kira terdengar oleh seluruh hewan-hewan di dunia, oleh seuruh tumbuh-tumbuhan di dunia, oleh seluruh angkasa raya yang merdeka. Sehingga mereka seluruhnya tiba-tiba terdiam dari seluruh aktivitas yang sedang mereka lakukan. Ayah Rusa dan keluarganya berhenti mengunyah. Harimau yang tidur siang berhenti dari tidur sehingga terbangun. Kelinci-kelinci dari Tibet tiba-tiba membeku, tapi bukan karena kedinginan. Ayam-ayam kampung, ayam-ayam negeri, ayam-ayam luar negeri, semua ayam itu terdiam. Pohon-pohon pinus, pohon-pohon karet, pohon-pohon ek, pohon-pohon beringin, pohon-pohon toge dan lainnya, semua berhenti bergoyang, seolah mereka memang kuat untuk tidak bergoyang ketika terkena angin yang berhembus. Matahari, Bulan, dan planet-planet lainnya juga ikut terdiam, berhenti dari aktivitasnya yang sangat wajar seperti hari-hari biasa di dunia yang biasa. Lalu secara bersamaan semuanya bergumam:
“Itu suara Malam.”
Pertanyaan-pertanyaan kemudian muncul begitu saja. Tentang apa itu Perasaan. Tentang siapa itu Perasaan. Tentang bagaimana wujud Perasaan. Tentang apa yang dibawa oleh Perasaan. Tentang apa yang akan dilakukan Perasaan. Tentang perilaku Perasaan, apakah ia suka berbicara, apakah ia suka berlarian, apakah ia suka makan rumput, apakah ia suka mandi cahaya, apakah ia suka berguling-guling. Tentang macam-macam. Karena Perasaan semacam sesuatu yang tidak pernah mereka tahu di dunia. Karena Perasaan semacam sesuatu yang baru di sepanjang kehidupan yang sebelumnya sudah mereka jalani. Sehingga mereka merasa perlu untuk hadir . Sehingga mereka merasa perlu untuk tahu secara langsung tentang Perasaan. Sehingga mereka merasa perlu untuk sibuk bersiap-siap seolah menyambut lahirnya Perasaan malam ini. Sehingga mereka merasa perlu untuk jauh-jauh melakukan perjalanan menuju Malam yang bertanggungjawab atas informasi yang sekonyong-konyong disebarkannya di siang hari yang bolong, tapi tentu tidak berlubang.
Setelah momen diam sejenak berjamaah itu dilaksanakan secara serentak, mereka seluruhnya jadi tiba-tiba saja seolah sibuk ini-itu, masing-masing. Sibuk menjadi tidak wajar karena ingin hadir menuju bukit malam ini untuk menyaksikan langsung kelahiran Perasaan yang diumumkan oleh Malam. Sibuk menjadi tidak wajar karena sebagian tiba-tiba pergi membeli kacamata hitam atau baju-baju hangat. Sibuk menjadi tidak wajar karena sebagiannya pergi mengelilingi hutan, mencari bunga-bunga yang menarik perhatian mereka, untuk dipetik dan dibawa hadir nanti malam. Sibuk menjadi tidak wajar karena sebagian lain dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya untuk menyiapkan dirinya masing-masing. Dan seluruhnya sibuk menjadi tidak wajar karena solah-olah meninggalkan apa yang biasanya mereka kerjakan sehari-hari. Seolah mereka mengingkari peran dan tanggungjawab yang sejak dulu tersemat di namanya masing-masing.
Sejak perilaku-perilaku yang tidak wajar tersebut, kehidupan tak lagi terasa sama, aktivitas yang ada jauh di luar batas kewajaran, jauh di luar batas nalar pemikiran, dan jauh mejadi sebuah fenomena absurd yang sama sekali tidak masuk akal. Itulah yang dikatakan oleh hewan-hewan dan tumbuhan laut ketika mereka tidak bisa hadir, yaitu susah bernafas, dan tidak masuk akal. Sehingga meskipun mereka sedikitnya merasa tertarik akan berita kelahiran Perasaan, namun tidak bisa ikut hadir, mereka hanya saling berucap saja dengan sesamanya agar semoga suatu saat Perasaan sudi untuk mampir atau main ke lautan. Maka kehidupan di laut tidak mengalami suatu gejala-gejala yang tidak wajar seperti kehidupan di darat, udara, dan angkasa raya.
Siang dengan segera digulung waktu yang terus-terusan bergulir, disuruh berhenti tetap saja bergulir. Membuat dunia memasuki suasana sore. Nantinya, sore menuju petang. Nantinya, petang menuju malam. Menuju saat-saat kelahiran Perasaaan yang telah dijanjikan oleh Malam siang tadi. Para calon-calon hadirin terlihat mulai bergerak perlahan-lahan menuju Malam yang berjanji. Berduyun-duyun bersama kelompoknnya masing-masing melintasi jarak yang jauh dan yang dekat. Dan jika kau perhatikan dengan seksama, alamak, betapa konyolnya mereka terlihat. Seperti misalnya yang datang dari arah utara, tujuh puluh kelinci dari Tibet itu semuanya ramai-ramai melompat-lompat sepanjang perjalanan menuju bukit, menggunakan jaket-jaket dan penghangat-penghangat telinga bermacam warna. Melewati hutan, padang pasir, padang rumput, Padang Panjang, warna-warni begitu lucu dan tak wajar. Dari arah lain, terlihat sekelompok predator semacam singa, harimau, macan tutul, macan kumbang, kucing hutan, serigala, hyena, cheetah, yang semuanya memakai kacamata hitam seperti bintang film sambil di antara taringnya yang tajam terselip setangkai bunga yang berbeda-beda masing-masingnya. Berlari lari kencang menuju bukit. Lihat juga unggas-unggas yang bisa terbang dan unggas-unggas yang tidak bisa terbang itu, seperti sekumpulan kafilah yang sedang bermigrasi ramai-ramai, tapi aneh, unggasnya bermacam-macam. Pohon-pohon, ya, pohon-pohon. Akar-akarnya tercerabut dari dalam tanah dan bergerak seperti kaki bagi mereka, menjalar dan merayapi permukaan, membuat batangnya bergerak doyong-doyong ke depan ke belakang, seperti hutan yang sedang bergerak secara masif. Planet-planet, Matahari, Bulan, Asteroid, Meteorit, dan seluruh masyarakat angkasa raya mulai bergerak ke satu arah, turun meninggalkan pos yang mestinya diisi. Gara-gara isu kelahiran Perasaan, oh, semuanya jadi tak masuk akal. Sungguh absurd luar biasa. Absurd, tapi indah bagiku. Semoga juga bagimu.
Monday, 2 April 2018
IKUT PERASAAN : BAGIAN SATU
Thursday, 18 January 2018
HAI, TONJ
Monday, 4 December 2017
MARBANJO
Kalau kamu kenal, di kamoung sana, itu dia seorang anak laki yang baru saja remaja. Mestinya hari ini dia kelas dua di sekolah menengah pertama, namun jadi sekolah menengah pailit, karena dia sudah tidak. Sudah tidak lagi sekolah. Kalau ada tanya kenapa, "Kepengen aku sendiri kok berhenti. Mau cari uang saja untuk jajan, sekalian berbantu orangtua," begitu jawabnya.
Kalau kamu kenal, dialah itu orang yang punya nama Atok. Aslinya bernama Rudiyanto, tapi dibuat kecil jadi Atok oleh ibunya biar mudah. Atok, katanya, seingat dia, umurnya sekarang mungkin empat belas atau lima belas. Berkakak empat dan beradik dua. Sementara ayahnya telah tiada, Atok bersama ibu dan dua abangnya menjalankan usaha ikan asin yang diterima dari nelayan. Diolahnya itu ikan-ikan biar mati dan jadi ikan asin, lalu dijual ke luar kampung. Ke pasar ikan.
Kalau kamu kenal Atok lebih dalam, maka akhirnya kamu akan tahu kalau Atpk dan keluarganya ternyata berasal dari Indramayu dulunya. "Tapi aku dan keluarga sudah tak pernah lagi pulang ke Indramayu. Keluarga di kampung sana sudah habis," itu maksudnya habis karena beberapa sudah memang habis jatah hidupnya, selebihnya habis karena semua pada pergi jauh dari kampung dengan niat mulia ingin mencari sukses ke ibu kota, atau ke bapak kota.
Selepas subuh, Atok dan abangnya yang muda bertugas memakai sandal untuk sudi pergi menyambut nelayan favorti mereka. Jadi favorit karena dialah pemasok asin untuk perserikatan maha akbar pengolahan ikan asin keluarga mereka. Nah, itu dia, Bang Naim si pelaut, yang sedang asik merokok kretek sudah menunggu Atok dan abangnya -yang bernama Robin, aslinya Robiyanto. Mengepul-ngepulkan asap rokok Bang Naim sambil telanjang dada, bersama beberapa pelaut lain yang juga membawa tangkapannya dalam pesiar-pesiar mini.
Tapi sebelum sampai dekat ke Bang Naim, si Atok yang usil mengajak abangnya untuk ikut usil bersamanya. Melancarkan sebuah misi kecil tolol yang buang waktu, tapi Atok suka, "Supaya tidak bosan hidup rutin begini teruss! Variasi sedikit dongg!"
"Ah, gila kau, Tok. Ngapain sih? Kau sajalah! Aku tunggu dekat kerat-kerat itu sampai kau usai. Masih ngantuk begini. Mau merokok saja," begitu Robin kalau diajak usil oleh Atok.
"Ah, pengecut kau, Bang! Hahaha," sambil lari Atok meledek.
"Kau yang sinting!" sambil melempar Atok dengan angin lalu nyengir kuda geleng-geleng.
Nah, lihat itu Atok yang katanya sinting. Belum genap jam lima pagi tapi dia memutar sedikit mengitari jalur ke perahu Bang Naim yang tertambat. Turun masuk ke dalam air di tepian dermaga kampung, menyelam di bawah permukaan dan perlahan mendatangi perahu Bang Naim si pelaut dari arah belakang. Dengan beberapa helai rumput mati sseolah rambut panjang tergerai berkilau indah di kepalanya, Atok mulai muncul perlahan dan bertengger ketiak ke bibir perahu Bang Naim seraya berucap manja seolah duyung padahal banci kaleng :
"Bwaaank, minta asin, Bwank..."
Bang Naim menoleh dan langsung terperanjat serta merta sampai berguncang perahunya, hampir terjengkang dari duduknya pula. "Wualaahh! Jiancuuuk! Dasar dedemit sialan! Ada saja ulahmu ini, ah, Tok!" sambil melempar Atok dengan rokoknya tapi tidak kena.
"Hahaha. Katanya pelaut, tapi mosok takut sama putri duyung!"
"Mana ada putri duyung macam kamu ini, bahkan lebih jelek dari banci-banci di Taman Ria. Haha. Kurang ajar betul!"
Robin yang ikut melihat terkekeh-kekeh sambil menghampiri juga, "Haha. Loh, Bang Naim, sekarang tangkap putri duyung juga?"
"Sinting adikmu ini, Bin, jual sajalah dia, haha."
"Hahaha," tertawa saja begitu mereka.
Masing-masing Atok dan Robin akhirnya pulang mengangkut sekarung ikan hasil Bang Naim berlayar, bedanya, Atok pulang dengan badan yang basah lagi asin. Ikan-ikan itu kemudian dibawa ke 'workshop' ikan asin mereka yang telah ditunggui Bang Rubi dan Mbok Nani sang ibu. Dibersihkannya isi perut ikan-ikan biar pada mati dan dibelek juga. Lalu semua ikan yang sudah, dimasukkan ke dalam sebuah bak besar berisi air yang kemudian dicampuri garam yang kelewatan. Diaduknya bak itu bergantian selama kurang lebih dua jam lamanya, katanya supaya asinnya meresap sampai ke daging. Meski seumur hidupnya ikan-ikan itu di air asin. Selepas dua jam direndam, akhirnya ikan-ikan asin itu dijemur di bawah matahari panas selama dua hari, kurang lebih, sebelum akhirnya dijual ke pasar ikan, dibeli oleh ibumu, lalu kamu makan bersama nasi dan lainnya.
Tak banyak sebetulnya Atok dapat dari ia berhenti sekolah begitu, lebih kurang cuma sekitar sepuluh ribu satu harinya, tapi buat Atok cukup. Sekitaran pukul satu atau dua, biasanya mereka selesai hari itu, kemudian pulang ke rumah untuk pada sama-sama santap makan siang.
"Mbok, Atok mau main dulu, ya?"
"Sama siapa, Tok? Sama Banjo?" tanya simbok. Sebenarnya itu pertanyaan retoris simbok saja karena kalau kamu juga tahu, seperti sombok yang juga tahu, bahwa Atok pasti main dengan si Banjo itu, sobatnya si Atok semenjak kecil. Banjo itu bukanlah banjo yang alat musik. Banjo yang ini adalah anak baru gede, sama seperti si Atok juga. Yang sudah tidak lagi sekolah, seperti si Atok yang juga. Tapi berhenti terpaksa karena ayahnya yang almarhum tiga tahun lalu tak lagi bisa membiayai sekolahmya. Maka terpaksalah Banjo berhenti sekolah dan jadi ikut bersama pamannya mencari kerang hijau di laut. Karena dia anak pertama di keluarganya.
"Iya, Mbok. Biasa, sama Marbanjo yang hitam seperti cukil nasi kita itu, hehe."
"Hush! Jangan gitu kamu, kayak kamu nggak hitam saja."
"Aku hitam, Mbok. Tapi hitam seperti karang di lautan. Kokoh dihantam dan disegani. Hehe."
"Halah, ngawur, ah. Ngeles aja seperti bajaj di Jakarta. Mau main ke mana, Tok?"
"Ke Ostraliya, Mbok, dekat kok," sembarangan Atok.
"He? Ostarliya? Di mana itu? Ngawur, ah!"
"Haha. Iya, Mbok. Mau ke Ostraliya, nyalon jadi presiden nggantiin Kaka Slank. Aku pergi ya, Mbok," pamit dia sambil mencium tangan mboknya yang tipis.
"Iya, hati-hati. Pulang sebelum malam ya!" teriak simbok pada anak lakinya yang sudah loncat keluar, ke jalanan Kampung Asin yang bau ikan.
Atok pergi ke Kampung Hijau untuk menjemput si Banjo di rumahnya karena tidak punya handphone. Adalah sebuah kampung kecil juga di sebelah Kampung Asin. Menjemput Banjo yang juga baru saja pulang mencari kerang di lautan yang berbuah lima belas ribuan rupiah. Keduanya lalu membeli beberapa batang rokok ketengan dan main rental playstation di warung yang jual rokok keparat itu juga. Main playstation sampai pukul setengah empat sore.
Setelah merasa puas, mereka lantas pergi menuju tepi laut Kampung Hijau. Untuk bertelanjang dada lalu menceburkan diri di tepian laut yang cukup tenang. Di perairan yang tak bersih karena tak jarang ada sampah dan juga lainnya, namu mereka cukup senang. Itu saja. Melakukan aneka gaya salto dari atas perahu-perahu yang ditambat. Beradu kontes 'siapa paling lama dalam air.' Beradu cepat ke sana dan kemari berenang. Lalu lagi, aneka salto dipertunjukkan.
Di ujung petang, Atok dan Banjo biasa duduk di dahan-dahan sebuah pohon rindang sambil menikmati matahari senja. Untuk sekedar obral-obrol saja, tukar cerita ini itu, dan tentu untuk beberapa batang rokok yang tersisa. Menutup hari yang terasa sama sepanjang tahun dan mungkin selamanya.
"Tok...," itu suara Banjo kalau kamu belum tahu.
"Oy," itu Atok sambil menghembuskan asap rokok.
"Lanjut ceritanya," itu aku, iseng saja menulis ini pada kamu yang membaca. Mari kita kembali ke Atok dan Banjo.
"Aku? Hmm... Jadi, itu, apa namanya, jadi mentri. Tapi yang khusus urusan laut dan pantai sajalah."
"Ha. Ha. Ha." Memang begitu Banjo kalau tertawa, "Ngapain kau mau jadi mentri urus-urus laut dan pantai?"
"Supaya aku bisa bikin rental PS yang lebih bagus! Haha."
"Ha. Ha. Ha."
"Supaya rumah-rumah kita di pantai jadi bagus-bagus dan besar!"
"Jadi makin sempit dong? Ha. Ha. Ha."
"Yang penting bagus, Jo! Haha."
"Terus?"
"Nanti semua sekolah di pantai kubuat gratis, Jo. Lalu gaji orang-orang macam kita kubuat jadi dua batang emas per hari!"
"Wah! Benar, Tok? Ha. Ha. Ha." Banjo bertepuk tangan memanas-manasi Atok yang sedang berapi-api. Sinting. Sungguh sinting!
"Oh, ya tentu benar, Jo! Gak cuma itu. Dua batang emas plus sebungkus rokok gratis!"
"Ha. Ha. Ha."
"Filter! No kretek-kretek lah!!"
"Ha! Ha! Ha! Ha!" Banjo terdengar sangat puas, "Aku diajak kerja sama kamu gak, Tok??"
"Nggak! Jangan, Jo! Kamu orang hebat dan pintar lagi jujur. Orang sepertimu akan kusekolahkan lagi. Ke luar negeri!"
"Ha. Ha. Untuk apa toh, Tok?"
"Untuk nanti sekolah tentang laut, Marbanjo."
"Loh. Buat apa?"
"Buat nanti balik ke sini dan bantu aku mikirin laut. Dari tadi kan aku baru soal yang pantai saja. Padahal aku Menupal. Mentri Urusan Pantai dan Laut! Hahaha."
"Ha. Ha. Ha. Ha. Ha. Sinting!"
"Gila ya? Haha."
"Miring, Tok! Ha. Ha. Ha."
Begitulah Atok dan Banjo sore itu di atas sebuah pohon yang jadi emas ketika disiram senja. Betapa bahagia yang cuma sederhana. Jauh sangat lebih sederhana dibanding 'bahagia itu sederhana' orang-orang kota millenia yang jauh dilengkapi, dipenuhi, dilebihkan dari cukup, oleh berbagai macam ini dan itu, tapi masih juga berkeluh tentang ini dan itu. Tapi sungguh, kebahagiaan, pada dasarnya bersifat relatif ukurannya, begitu juga dengan ujian, yang sama, dalam satuan ukurannya bersifat relatif. Dan sungguh, sama seperti kebahagiaan, ujian dan kesedihan pun akan datang mengambil jatah perannya. Bahkan terkadang terasa berat, karena seringkali juga datang, langsung menggantikan kebahagiaan yang tengah ada. Sama persis seperti hari ini. Saat genap sudah empat hari Atok tak juga datang ke Kampung Hijau, ke rumah Banjo. Ke muka Banjo yang menunggu karibnya datang sepulang kerja seperti hari-hari yang biasa. Melainkan abangnya, si Robin, yang datang dengan raut duka, juga kabar duka. Tentang Atok kawan karibnya yang telah tinggal nama. Dibuat hilang tak bernyawa. Membuat hilang semua tawa.
Menurut cerita, Atok meninggal di jalan pulang malam itu sepulang senja dari bersama Banjo. Tewas dipukuli dua orang pemuda Kampung Asin yang sedang dimabuk. Atok dipalaki uang oleh keduanya, namun Atok melawan, Atok melawan untuk mempertahankan seribu rupiah di kantong celananya. Dua keping logam limaratusan yang mesti pulang bersamanya seperti hari-hari biasanya. Dua keping yang selalu begitu, disisakan untuk masuk ke dalam dua celengan pribadinya. Yang satu bertuliskan : 'Untuk Simbok Haji.' Dan yang satunya : 'Untuk Marbanjo Sekolah Lagi.'
Untuk. Marbanjo. Sekolah. Lagi.
Robin datang memberitahu kabar duka. Juga untuk meberikan celengan yang 'Untuk Marbanjo Sekolah Lagi.' Kemudian Robin pulang, meninggalkan Banjo, yang terduduk lesu di muka pintu, yang meleleh air matanya begitu. Hingga menjelang senja Banjo keluar dari rumahnya, membawa sebuah botol tertutup berisi gulungan kertas. Menuju ke tepi pantai dan matahari senja. Kemudian menggali sebuah lubang di bawah pohon karibnya, lalu mengubur botol tersebut ke dalamnya. Lalu disiraminya gundukan tanah tersebut dengan air mata lara. Duka. Dan nestapa.
-
Surat untukmu,
Atok, sahabat Banjo :
Atok.
Atok. Sahabatku. Mentri urusan pantai dan lautku.
Rupanya Allah lebih sayang padamu, begitu kata simbokku. Aamiin.
Atok. Karibku yang pinter. Yang lebih lama kuat di air.
Rupanya guyonmu soal menyekolahkanku bukan omong kosong. Aku tahu kau tahu aku masih ingin sekolah. Tapi guyonmu bukan cuma omong. Kosong. Oleh karena itu, kawanku sayang, aku bersumpah akan berusaha kembali ke sekolah.
Atok. Atok usil yang berbahagia.
Aku bersyukur dan berterimakasih boleh berkawan dengan yang sepertimu. Sungguh aku merasa senang sekali karenanya. Semoga Atok ada di surga Allah. Aamiin.
Sahabat Atok selalu,
Marbanjo.
-