Tuesday, 20 November 2018

JURNAL PERJALANAN KE JOGJA


Jurnal Perjalanan ke Jogja, 10-16 November 2018

Sepuluh November. Bulan Penghujan. Sejak lepas zuhur Bandung sudah mulai hujan seperti biasa. Seperti kemarin dan sebelumnya. Meski agak menghambat beberapa aktivitas, hujan tetap adalah berkah dan jangan kau debat itu. Membuat Bandung jadi setengah rindu dan setengah sendu.

Aku akan ke Jogja hari ini. Untuk ke sana, pilihan jatuh pada kereta Kahuripan. Yang dibuat murah pemerintah. Dan diatur untuk berangkat pada pukul 18.10. kereta Kahuripan adalah kereta kelas ekonomi. Kereta dengan harga tiket paling murah disbanding kelas-kelas lain. Dengan harga yang paling murah, penumpang Kahuripan mayoritasnya adalah masyarakat menengah ke bawah. Seperti aku.

Lihat. Ada bapak-bapak. Ada ibu-ibu. Ada anak-anak. Ada kakek-kakek. Ada nenek-nenek. Ada mas-mas. Ada mbak-mbak. Ada yang sendiri. Ada yang berdua. Ada yang bersama keluarga. Ada yang bersama kawan-kawannya. Aku sendiri. Yang lain, masing-masing dan bersama masing-masingnya.

Lihat. Ada AC, Air Conditioner. Ada stop kontak. Ada pengeras suara. Ada pengharum ruangan. Ada yang dulu tidak ada, sekarang jadi ada di kereta ekonomi. Itu semua karena ulah pemerintah. Yang mau jadi lebih maju. Bersama dengan restu dan suara rakyatnya yang jelata. Meninggalkan aku dalam memori kereta api ekonomi zaman dulu di kenangan yang samar-samar.

Samar-samar itu ada di sekitar tahun 2005-2006. Jogja pertama dengan kereta ekonomi. Yang tidak ada AC, Air Conditioner. Yang tidak ada stop kontak. Yang tidak ada pengeras suara. Yang tidak ada pengharum ruangan. Lalu apa yang ada? Jika kau juga pernah, mari kita kenang bersama.

Kereta api ekonomi zaman itu tentu saja jauh lebih murah disbanding yang sekarang. Sebuah kereta api dari pemerintah untuk masyarakat menengah dan benar-benar bawah. Kereta ekonomi zaman itu bisa disebut kereta yang miskin. Sekaligus sangat kaya. Kaya bagaimana? Kaya raya. Tentu saja. Bagaimana tidak?

Lihat. Ada bapak-bapak. Ada ibu-ibu. Ada anak-anak. Ada kakek-kakek. Ada nenek-nenek. Ada mas-mas. Ada mbak-mbak. Ada begitu banyak manusia dalam satu gerbong. Di segala penjuru. Di tempat duduk. Di tempat berdiri. Di tempat sirkulasi jalan. Di kolong tempat duduk, tidur beralas koran. Di bordes-bordes sambungan gerbong. Di atap gerbong kereta. Di setiap ruang yang bisa diisi oleh manusia, di situ manusia berada. Manusia yang duduk. Manusia yang berdiri. Manusia yang berbaring. Manusia yang berdesakan. Manusia yang lalu-lalang di padat gerbong. Manusia yang dilangkahi. Manusia yang membawa pulang bahan belanja. Manusia yang baru pulang mengumpulkan rumput untuk ternaknya. Manusia yang berjualan. Berjualan aneka. Lotek. Pecel. Ayam goring. Nasi rames. Nasi bungkus. Nasi kuning. Kacang. Tahu. Permen. Cendol. Teh. Sirup. Rokok. Kopi. Lengkap.bahkan sekali waktu juga ada ayam. Yang masih hidup. Naik kereta tentu karena dibawa oleh manusia. Dan sebagainya.

Kereta api ekonomi hari ini tentu jauh lebih nyaman. Lebih rapi. Lebih wangi. Lebih elok. Lebih memanusiakan manusia. Apalagi kelas bisnis dan eksekutif. Jangan sekali-sekali kau bandingkan. Kereta api ekonomi yang dulu memang jauh tertinggal, tapi bagiku, juga lebih kaya. Jauh lebih bernilai. Kaya akan nilai. Karena kita betul amat bersentuhan dengan lapisan bawah masyarakat sampai ke urat nadi. Sampai ke realita kehidupan. Sampai setara dengan seekor ayam. Semua itu larut dalam kenangan perjalanan.

Oh. Ini sudah sampai mana? Aku kurang tahu. Sudah jam berapa? Aku kurang tahu. Karena aku hanyalah makhluk yang segala kurang dan penuh cela. Tapi beberapa anak di gerbong masih saling bercanda. Beberapa orang mulai tertidur. Atau bermenung menatap ke luar jendela gerbong. Mencari titik-titik lampu di kegelapan. Mencari titik-titik takdir di kehidupan. Oh, jangan khawatir penumpang sekalian. Saat ini takdir kita semua sama. Berjalan di atas rel dan bantalan-bantalan kayu dan kerikil. Bersiul di antara angin yang berdesau di dinding gerbong. Dituntun sebuah lolongan panjang klakson kereta api yang mantap melaju tanpa melirik ke masa yang lalu.
-
Pengeras suara buka suara. Kita mendekati stasiun Cipeundeuy. Di manakah Cipeundeuy? Aku hanyalah makhluk yang segala kurang dan penuh cela.

Kuletakkan pulpen dan buku, sementara.
-
Pukul 22.12. kereta baru mulai kembali jalan setelah sebelumnya berhenti di Stasiun Banjar. Cukup lama sampai aku sempat menghabiskan sebatang rokok sambil ngobrol santai dengan seorang bapak usia 60. Bapak ini dapat posisi duduk di 20-B, persis di sebelahku. Juga naik kereta api dari Stasiun Kiaracondong. Naik kereta ramai-ramai dengan keluarganya.

“Abdi mah ka Solo, A,” kata Si Bapak. Si Bapak dan keluarganya mau ke Solo.

Kupikir sepertinya bukan untuk berlibur ke Solo. Benar. Rupanya hendak menjenguk saudaranya yang jatuh sakit. Maka marilah bersama kita doakan semoga sakit saudara Si Bapak diringankan dan segera kembali sehat seperti sedia kala. Aamiin.

Seat 19-A. Diisi oleh seorang mbak-mbak usia 20an. Dari percakapan antara Si Bapak 20-B dengan Si Mbak 19-A, aku jadi tahu kalau Si Mbak ini ternyata asli Jawa. Di Bandung tinggal bersama suaminya yang juga orang Jawa, kerja di Bandung. Di Bandung, katanya tinggal di daerah Tegallega dan sendiri di kereta hendak pulang ke Jawa Timur. Saat ini Si Mbak sedang asyik main HP dan masih belum diketahui siapa namanya. Mari kita sejenak berdoa agar doa-doa baik senantiasa meliputi Si Mbak dan keluarga. Aamiin.

Seat 19-B. Diketahui adalah keponakan Si Bapak 20-B. Hampir sejak awal pindah ke sekitaran seat 18 untuk bergabung bersama keluarga lainnya.

Seat 19-C. Tidak diketahui siapa pemilik aslinya. Tapi kemudian diisi oleh seorang muda yang merelakan tempat duduk aslinya ditempati keponakan Si Bapak 20-B. Seorang muda yang bernama Faisal setelah kuajak basa-basi. Mas Faisal ini rupanya alumni Kedokteran Hewan UGM angkatan 2010. Sama, aku juga 2010. Dia kerja di daerah Cikalong, semacam dinas peternakan agar sapi-sapi jadi sehat. Jadi gemuk. Dan jadi siap dibuat mati untuk manusia. Mungkin.

Faisal sama denganku. Naik kereta untuk bisa turun di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.

“Mungkin aku mau ketemu teman lama dulu di Jogja,” kata Faisal, karena Faisal asli Jawa Timur, maka jawab begitu.

Mungkin saja semasa kecil Faisal rajin minum suplemen Scott-Emulsion karena sekarang dia tinggi. Sekitar 175 cm ke atas. Atau karena dia suka main basket. Itu kupikir karena tadi dia nonton video-video pertandingan basket di HP-nya. Faisal punya rambut panjang sebahu seperti aku dulu. Karena seperti aku dulu, maka aku tahu, rambutnya panjang sebahu karena tumbuh setiap hari.

Nah.

Tentu saja selanjutnya seat 20-A. Takkan kulupa cerita. Tapi sebelumnya, marilah juga kita luangkan waktu kembali untuk mendoakan Faisal. Agar segala doa-doa baik senantiasa meliputi Faisal. Di darat, laut, dan udara. Aamiin.

Seat 20-A. Nala. Nala. Nala. Itu namanya untuk kau catat. Seorang teteh-teteh muda yang lebih muda dariku. Kupanggil teteh karena untuk menghormat seorang perempuan.

“Aku asli Bandung,”itu katanya dan tepatnya di Moh. Toha. Mau ke mana, ternyata sama mau ke Jogja.

Teh Nala rupanya baru saja lulus kuliah dari Telkom University jurusan Teknik Industri. Sebelum sidang akhir sudah dapat pekerjaan. Alhamdulillah. Waktu ditanya hendak apa ke Jogja, untuk berlibur sejenak. Semacam short escape katanya sambil tersenyum.

Kau, kawan. Memang rakyat merdeka yang bebas untuk berpendapat. Tapi untuk satu hal ini, khusus tentang Teh Nala, kau dilarang untuk tidak bersepakat.

Teh Nala, menurutku adalah seorang yang periang. Seorang periang yang juga cantik. Seorang periang yang cantik dan beralis tegas. Seorang periang yang cantik, beralis tegas dan berkerudung. Seorang periang yang cantik, beralis tegas, berkerudung dan sekarang sedang tertidur. Bersandar ke sisi jendela.

Apalagi yang mesti kutulis tentang Teh Nala? Selain aku suka.

Apakah hanya di kereta atau ada kesempatan lain di Jogja, bersama Teh Nala. Atau di Bandung? Allah pemegang kuasa. Pemilik jalan segala cerita. Aku malu. Alu berserah pada-Nya. Tanpa mau mengganggu Teh Nala yang sedang tertidur, marilah ikut bersama. Sejenak saja berdoa. Khusus untuk Teh Nala. Semoga segala doa-doa baik senantiasa meliputi segenap Teh Nala. Jaya di darat, laut, dan di udara. Di bumi dan di akhirat. Aamiin.
-
Hampir separuh gerbong tertidur. Aku tidak sedetikpun. Aku juga belum shalat Isya. Semoga kawan sekalian tidak lupa. Maka marilah.
-
(sekitar pukul 01.35, 11 November 2018)

Ke luar jendela melempar pandang
Melepas piker jauh melayang

Siapa sanggup menangkap pandang
Mengunci pikir mengekang layang

-
Sekitar pukul 02.15, menjelang Stasiun Wates, aku bersedih hati.
-
Sekitar pukul 02.15, menjelang Stasiun Wates. Seorang kondektur dan petugas berseragam menghampiri Teh Nala yang sedang tertidur. Memberitakan bahwa Ibu Nabila (Teh Nala), yang akan turun di Wates untuk segera bersiap dan jangan tertidur.

Ada yang salah. Wates masih belum Jogja, atau setidaknya masih daerah pinggiran Jogja. Benar saja. Teh Nala langsung beranjak dan menyusul kondektur dan petugas ke bordes gerbong. Meski tidak terdengar, tapi terlihat bahwa memang ada masalah. Beberapa menit Teh Nala masih terlihat berargumen dengan keduanya. Tak lama, Teh Nala kembali ke dalam. Sepertinya dengan mood yang sangat tidak baik. Kuberanikan bertanya apa yang terjadi.

“Nggak. Mau ngambil tas,” jawab Teh Nala yang kemudian berjalan kea rah bordes dan tak lagi terlihat.

Di Stasiun Wates kereta berhenti. Aku menuju bordes kereta dan menjulurkan kepalaku keluar dari pintu gerbong. Celingukan mencari Teh Nala. Tak terlihat. Bahkan sampai kereta hendak laju kembali. Oh. Rupanya terhalang. Saat kereta laju dan gerbongku melewati peron Stasiun Wates, kudapati Teh Nala sedang duduk. Entah apa yang dinantinya.

Dari balik jendela aku hanya diam melihatnya berlalu.

Ada yang salah. Karena seharusnya Teh Nala juga turun di Stasiun Lempuyangan Jogja. Ada yang sedih, karena seharusnya jika Teh Nala turun di Lempuyangan, sama denganku, aku mau berbicara sedikit lebih lama dengan Teh Nala.

Tapi sungguh Allah pemegang kuasa.

Maka bantulah aku, kawan. Mendoakan Teh Nala baik-baik saja. Selamat sampai di Jogja. Aamiin.
-
Pukul 03.00, 11 November 2018.

Kereta Kahuripan berhenti sempurna di Stasiun Lempuyangan. Setelah berpamitan dengan Si Bapak 20-B, aku dan Mas Faisal berdamai dengan kaki yang selonjoran. Segelas kopi hitam dan beberapa batang rokok. Stasiun Lempuyangan tampak begitu sepi. Terutama tanpa Teh Nala.

Selepas shubuh, jemputanku datang. Mas Harfi, kawanku semasa pesantren dulu yang menjadi tuan rumah selama aku di Jogja kali ini. Apa yang ada antara aku dan Mas Faisal tak banyak. Kututup dan kuikat dalam satu jabat tangan erat antar pria. Saling terimakasih, dan doa-doa baik serta selamat jalan.

Sambutan Mas Harfi sebagai tuan rumah, bagiku luar biasa hangat. Alhamdulillah. Menjelang pagi aku diajak sarapan sate ayam Madura. Lezat dan gratis. Lalu dipersilakan tidur di penginapan miliknya.

Di mana Teh Nala berada?
-
Selepas zuhur, aku, Mas Harfi dan adik-adik Mas Harfi pergi ke arah Gunung Merapi. Juga bersama Kak Tisha, anak Mas Harfi yang manis dan lucu. Kak Tisha sempat duduk di pangkuanku waktu di mobil. Kupikir, betapa bahagianya aku jika kelak jadi seorang ayah.

Kami pergi ke daerah Umbulharjo. Ada Warung Kopi Merapi. Suasana sangat damai. Meski warung amat ramai. Banyak yang wisata jeep di sekitar merapi. Tapi sungguh, aku takkan pernah sudi bayar wisata jeep jika hanya untuk duduk dan menikmati naik dan duduk manis. Sekurangnya, aku hanya sudi membayar untuk duduk di balik kemudi.

Umbulharjo masihlah sebuah pedesaan yang asri. Rumah-rumah di kanan kiri jalan sangat sederhana. Atapnya semua joglo. Sebuah lukisan yang damai.

Di Kopi Merapi, aku pesan kopi arabika susu merapi. Cukup enak. Obrolan banyak diisi topik-topik pekerjaan dan hubungan bisnis di dunia bangunan dengan Mas Harfi. Bentuk arsitektur Warung Kopi Merapi bukan penyebabnya, meskipun ruang-ruang cenderung terbuka tanpa dinding. Hanya struktur-struktur kayu dan bamboo yang diekspos plus meja dari batuan erupsi Merapi yang dibuat rata permukaannya. Tentu atapnya joglo.

Warung Kopi Merapi sore itu amatlah ramai. Kepalaku terus berputar dengan mata yang awas. Teh Nala tidak ada di antara keramaian itu.
-
Angkringan dan Kopi Jos.

Sekitaran pukul Sembilan malam, Mas Harfi mengajakku makan malam. Berangkat kami bertiga dengan Fajri, salah satu adik Mas Harfi.

“Erek dahar naon, Tonj? angkringan bae ta sate klatak?”

Itu Mas Harfi Tanya akum au makan apa. Angkringan atau sate klatak. Sate klatak itu sate kambing, tapi tusuk satenya pakai besi jari-jari velg sepeda. Aku yakin pasti enak. Tapi aku pilih angkringan.

“Rek ditraktir klatak nu mahal malah pilih nu murah sia mah, haha.”

Artinya : Mau ditraktir yang mahal kok malah pilih yang murah.

Aku ikut tertawa. Nyengir.

Buat aku, mahalnya sate klatak hanya secara nilai ekonomi saja. Angkringan, meskipun murah secara ekonomi, tapi lebih sarat nilai subjektifnya. Nilai kenangannya. Nilai ceritanya. Nilai kerakyatannya. Ah, pokoknya aku subjektif saja. Semacam jatuh cinta.

Karena masih hari Minggu dan malam, daerah tempat angkringan sangat ramai oleh beraneka manusia. Manusia Jogja lokal dan yang tidak orisinil sepertiku. Membuat kepalaku terus berputar.

Mungkinkah Teh Nala ada di sekitar?
-
(11 November 2018)

Di sini
Umbulharjo
Di sini
Merapi
Di sini
Jombor
Di kratonkah?
Kedai kopikah?
Pantaikah?
Esok dan seterusnya

Di mana Nala berada?

-
Sekitar pukul setengah sembilan, masih di November.

Kutemukan :
Nala. Nabilah. 

Tapi belum secara fisik.

Alhamdulillah. Semoga segala doa-doa baik senantiasa meliputinya. Aamiin.
-
12 November 2018.

Hari Senin 12 November aku ikut Mas Harfi ke mana-mana. Mulai dari pagi nganter Kak Tisha sekolah. Nganter Mas Harfi dan istri ke BJ Home lihat-lihat keramik dan pintu WC. Berkeliling-keliling mencari penyewaan scaffolding untuk di proyek. Lalu menghabiskan waktu dari siang hingga sore di proyek rumah Mas Harfi. Malamnya kubantu Mas Harfi dengan membuatkan desain tampak depan 3D untuk proyeknya.

Gambar selesai pada sekitaran pukul 00.30. Mas Harfi tampak puas. Aku tampak ganteng. Lalu kami meluncur ke jalanan Kota Jogja. Tentu saja.

“Kuliner malam, Mas Bray!”

Gudeg Bromo. Itu tujuanku dan Mas Harfi. Loh, ada Gudeg Bromo. Bedanya sama gudeg biasa apa?

“Gudeg Bromo mah pedes, Bray!”

Jadi selain nangka dan krecek, kita bebas pilih lauknya. Kupilih gorengan tempekering dua. Telor ala gudeg. Juga ayam suwir. Waduh, enak sekali. Sebelum mati, kalau sempat, cobalah olehmu Gudeg Bromo di Jogja.
-
13 November 2018. Hari Selasa.

“Besok kita ngetrail, Bray. Ke Merapi,” itu kata Mas Harfi kemarin, tanggal 12 November. Betapa bahagianya aku saat mendengarnya. Begitu bersemangat. Sampai-sampai setelah makan Gudeg Jogja aku langsung ingin tidur agar esok hari tubuh segar.

Sialnya aku baru bangun jam 11.00. Kemarin lelah. Bangun kesiangan. Mas Harfi rupanya juga. Mas Harfi akhirnya datang di sekitar 11.30 menjemputku. Aku langsung mandi dan bersiap. Setelah semua siap, maka tentu berangkat kami menuju arah Gunung Merapi. Kembali ke Umbulharjo.

Rute ngetrail dimulai dari sebuah sungai di kaki Gunung Merapi. Sebagai pembuka, aku disuruh untuk mencoba motor lebih dulu. Monstrac 200 cc. aku harus coba gigi satu sampai tiga di jalanan kerikil dan berair di sisi sungai. Gigi tiga artinya ngebut. Oke. No Problem. Dan kurasa aku cukup baik di pembukaan.

Seperti yang sudah kubayangkan selama ini. Ngetrail sangat menyenangkan. Nyatanya, ngetrail juga cukup sulit dan sangat menguras tenaga. Beberapa kali aku tersangkut di batuan sungai dan lumpur-lumpur. Mas Harfi sebagai seorang pro yang membantuku jika aku gagal melepaskan motor dari perkara tersangkut. Perjalanan tetap menyenangkan meski sulit. Kami melewati sungai. Sawah-sawah. Jalanan hutan-hutan. Warga-warga yang sangat ramah saat disapa. Lalu kembali melewati Warung Kopi Merapi. Terus ke atas sampai tiba di tempat bernama Bungker. Yaitu titik tertinggi yang mampu dicapai oleh kendaraan. Untuk menuju puncak Merapi tentu masih sangat jauh. Tapi ini cukup.

Menjelang pukul 15.00 kabut tebal mulai meliputi seluruh area Bungker. Gerimis mulai ikut hadir perlahan. Hujan segera tiba tak lama lagi. Membuat kami segera turun dan menuju Warung Kopi Merapi untuk ngopi hangat. Kurang beruntung, belum pun mendekati Kopi Merapi, hujan menjadi terlalu deras untuk ditembus. Kami terpaksa berteduh di sebuah warung kecil. Yang dimiliki oleh sepasang bapak-ibu tua yang sangat ramah. Menyalami kami secara langsung sambil mempersilakan untuk macam-macam. Kami berteduh.

Hampir pukul 16.00 namun hujan tak kunjung reda. Monstrac 200 cc-ku tak dilengkapi lampu untuk perjalanan malam hari. Maka terpaksa kami harus pulang menembus hujan. Basah. Syahdu. Dan bersahaja.
-
Malamnya ternyata Mas Harfi kelelahan di rumahnya dan tak sanggup menemaniku. Membuatnya jadi mempersilakan aku pinjam motor vario untuk pergi sesukaku. Maka aku pergi ke Jalan Kranggan.

Ada apa di Kranggan?

Sebuah kedai kopi bernama Blanco. Sudah sejak di Bandung aku ingin ke Blanco. Sebuah kedai kopi serupa Kineruku di Bandung. Kedai kopi dengan beragam buku bebas baca, meski tak sebesar Kineruku. Blanco Coffee & Book. Tempatnya bagus. Dan segera hadir secangkir Hemingway. Signature coffee-nya Blanco. Terbuat dari triple-shots of fratpresso. Dan enak.

Aku duduk di teras bagian luar agar bisa merokok. Alih-alih membaca buku yang ada di Blanco, aku memilih untuk menulis. Melanjutkan jurnal perjalanankudi Jogja hingga saat ini. Alhamdulillah.

Besok. Rabu, 14 November 2018. Dan aku ada rencana pergi sendiri menuju Candi Cetho. Sebuah candi peninggalan Majapahit. Di daerah Karanganyar dan lebih dekat ke Solo. Lalu terus ke daerah Magelang. Lalu mungkin silaturahim ke Bi Nining, saudaraku yang di Jogja. Membuat hari esok jadi panjang dan melelahkan. Membuat aku harus cukup istirahat untuk semuanya itu. Membuat aku harus meninggalkan Blanco Coffee & Book. Membuat aku selesai sementara menulis jurnal dengan sebuah tanda strip berikut ini :
-
Rabu, 14 November 2018.

Aku bangun jam 05.00. Shalat shubuh. Tidur-tiduran. Mandi jam 06.00. Menyiapkan barang bawaan. Nongkrong di saung penginapan. Lalu isi waktu dengan ngobrol-ngobrol ngopi bersama Faza dan Mas Anang. Mas Anang orangnya baik dan mudah akrab. Sejak kemarin-kemarin, Mas Anang banyak ngobrol denganku di penginapan. Mas Anang juga yang kasih tau aku cara mendapatkan tiket kereta tanpa harus booking online atau antre di loket stasiun. Mas Anang juga yang selalu buatkan aku kopi di penginapan. Mungkin nanti enamel pin yang melekat di ranselku akan kuberikan untuk Mas Anang.

Setelah konsultasi soal rute terbaik pada Mas Anang, jam 8 kurang aku memulai perjalanan menuju Candi Cetho di Karanganyar.

Perjalanan jauh. Berdebu. Melewati macam-macam. Jalan antarkota Jogja-Solo. Klaten. Sawah-sawah yang terhampar. Bendungan yang airnya dangkal. Karanganyar. Rupanya, menuju Candi Cetho dari Karanganyar masih jauh lagi. Rupanya searah dengan Tawangmangu dan sudah masuk wilayah Solo, bahkan sedikit lebih jauh lagi. Tahun 2014 silam aku juga ke Solo, ke Tawangmangu. Cetho, dari Tawangmangu masih haris ke atas lagi lebih jauh. Ke kaki Gunung Lawu.

Sekitar pukul 11.00 hujan turun. Terlalu deras untuk diterjang. Maka aku berteduh di warung kopi pinggir jalan yang suasana dan pemandangannya seperti di Puncak. Hanya saja jauh lebih indah. Pesan kopi. Sarapan mie rebus pedas. Sambil menulis ini. Cetho masih 3 km lagi.
-
Candi Cetho, kawan, terletak di kaki Gunung Lawu. Juga sangat dekat dan searah dengan jalur pendakian Gunung Lawu. Aku disarankan untuk pergi mengunjungi Candi Cetho oleh Rere dan A Mar waktu di Bandung. Menurut sumber, Candi Cetho merupakan candi terakhir peninggalan zaman kerajaan Majapahit dan merupakan situs peribadatan ummat Hindhu. Menurut Rere dan A Mar, Candi Cetho yang terletak di ketinggian ini memiliki semacam suasana yang sendu. Aku disarankan untuk mengunjungi Candi Cetho di sekitar siang menuju sore hari, kalau bisa terutama senja, karena view Candi Cetho sangat strategis untuk menikmati matahari terbenam.

Karena satu dan lain hal, aku berhasil tiba di Candi Cetho siang hari pada sekitar pukul 13.00. Hujan lebat. Menundaku untuk bisa segera memasuki kawasan candid an berteduh bersama petugas parkir sambil ngobrol. Setelah hujan mulai reda dan menyisakan gerimis kuputuskan untuk mulai memasuki area candi.

Candi Cetho memang belum seramai Candi Borobudur. Tapi pengunjung hari itu cukup ramai. Banyak orang pacaran. Lalu berfoto-foto di tangga-tangga candi. Membuatku jadi agak terhalang untuk mencapai bagian teratas candi dengan segera. Cukup menyebalkan kurasa. Karena suasana sendu yang ditawarkan oleh Candi Cetho menjadi buyar karena suara-suara pengunjung yang lain. Cekikikan. Ngobrol segala rupa. Rebut berswafoto. Dan lain-lain. Membuatku kehilangan naluriku untuk meresapi atmosfir Candi Cetho. Membuatku kehilangan kata-kata yang tajam untuk menggambarkan perasaan di Candi Cetho.

Aku mencoba menenangkan pikiran. Mencoba meresapi atmosfir yang ada. Mengabaikan pengunjung-pengunjung lain yang senang. Aku duduk di tingkat keempat candi yang diisi oleh dua buah semacam pendopo cukup besar dengan tiang-tiang kayu beratap rumbia. Aku menyalakan batangan-batangan rokok untuk dihisap. Mengeluarkan buku catatan dan mulai membuat sketsa Candi Cetho. Hal itu sedikit membantuku membangun mood dan naluri menulisku. Membuatku mulai asyik sendiri duduk bersama buku catatan di pendopo tingkat empat Candi Cetho.

Rupanya, hari mulai lewat pukul 15.00. aku tak bisa berlama-lama di Cetho. Karena rencanaku, setelah ini aku harus segera bertolak ke Magelang. Dan itu sangat jauh. Aku takut waktuku tidak akan cukup untuk seluruh agenda yang telah kususun jika terlalu lama di Cetho. Maka aku segera turun, berpamitan pada petugas parkir, dan lekas berkendara menuruni jalan yang berliku.
-
(14 November 2018, Candi Cetho)

Bumi dan langit
Gunung dan lembah
Hujan dan angin
Tanah dan batu
Dupa dan lilin
Puja dan doa

Jangan bersedih
Saat menunggu dan menepi

Jangan bersendu
Aku ‘kan menemukanmu

-
Masih karanganyar, namun kemudian hujan turun teramat deras bersama angin yang berhembus amat kuat. Aku segera mencari tempat berteduh. Kutemui sebuah warung kelontong dengan tempat duduk. Pesan kopi, berteduh, tapi tetap cukup basah karena hujan terbawa angin yang mulai badai. Oh, Tuhan. Hujan turun deras sekali. Sempatkah aku tiba di Magelang sebelum maghrib?

Tidak.

Meski hujan tak sampai berjam-jam turun, tapi ke Magelang, setelah kutimbang dengan matang, tidak memungkinkan. Aku salah belok entah di sebelah mana, menyebabkan aku jadi masuk ke jalanan dalam Kota Solo yang ternyata macet. Seperti Jakarta di rush hour-nya. Aku mulai lelah dan lesu bertemu situasi yang begitu. Setelah lolos dari kemacetan kota Solo, aku terdorong ke jalan raya Solo-Jogja di Klaten. Semacam jalan by-pass yang sangat panjang dan tak berujung di mana semua orang berkendara sangat cepat. Bahkan kudapati berkali-kali beberapa mbak-mbak memacu motornya hingga 80 km/jam. Gila. Aku mulai bosan. Lelah. Dan ingin punya pintu ke mana saja. Lalu kuperiksa GPS di HPku. Ternyata untuk mencapai Magelang dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam setengah lagi. Begitu pula untuk sampai ke Jogja. Sementara hari menjelang senja. Ah, aku tak lagi sanggup untuk tiga jam berkendara ke Magelang lalu ke Jogja. Maka kuputuskan untuk langsung menuju pusat kota Jogja. Melupakan Magelang.

Beberapa kali hujan dan gerimis turun bergantian sebentar-sebentar. Aku tak lagi berhenti. Aku terus memacu motor pinjaman sampai tiba di Jogja. Dan itu sudah lepas magrib. Tujuanku adalah alun-alun Jogja, Kraton Ngayogyakarta, yang sedang menyelenggarakan acara Sekaten tahunan. Sekaten kujumpai dalam bentuk sebuah pasar malam yang amat meriah dan sangat ramai oleh masyarakat. Banyak orang berjualan. Makanan. Minuman. Pakaian dan asesoris macam-macam. Juga berbagai wahana dan atraksi. Bom-bom-car. Tong setan. Komidi putar. Kora-kora. Dan wahana-wahana khas pasar malam yang lainnya.

Ah, Teh Nala tetap tak ada di antara keramaian Sekaten yang memeriahkan alun-alun Jogja. Aku hanya melihat-lihat suasana Sekaten. Tanpa membeli apapun. Tanpa berkawan satu pun. Aku jadi sepi sendiri. Aku tidak tahan kesepian di tengah-tengah keramaian yang hingar dan bingar. Maka ke sisi aku menepi. Bagian utara alun-alun kota Jogja. Kudapati sebuah kedai kopi bernuansa khas bangunan kota Jogja, beratap Joglo, berdinding kayu warna krem. Di mukanya tertulis “Kopi Walik.” Tak ramai orang. Menarik perhatianku untuk mampir dan menghabiskan waktu. Tentu saja kopi dan makan malam.

Setelah memilih tempat duduk di sisi jendela yang terbuka ke arah Sekaten, kupesan kopi yang paling relevan dengan nama kedai kopi ini. Aku pesan Kopi Walik. Kepada seorang waiter aku bertanya, apa itu kopi walik.

“Bla…bla…bla…bla… Kopinya kebalik, Mas,” oohh, walik itu ternyata balik atau kebalik. Aku langsung ngeuh dan yakin pilihanku tidak salah. Maka kupesan segelas kopi walik dan seporsi nasi goreng khas kopi walik.

Tak perlu lama. Seorang mbak-mbak kemudian menghampiri meja tempat aku berada dengan membawa kopi walik pesananku. Aku terperanjat tak menyangka. Ternyata kopi walik disajikan dengan cara yang tak lazim dan baru pertama kali kulihat. Tak kusangka ‘kopinya kebalik’ yang dijelaskan oleh mas-mas waiter ternyata disajikan dengan cara ini. Gelas beling yang berisi kopi hitam diposisikan terbalik, tertelungkup di atas sebuah piring kecil. Membuat kopi hitam yang ada di dalam gelas terperangkap di dalam gelas dan tidak tumpah ke mana-mana. Setelah menyajikan kopi walik ke mejaku, si mbak langsung pergi meninggalkan aku yang kebingungan. Asem!

“Mbakk!!” aku memekik. Si mbak berbalik dan menghampiriku.

“Ini gimana cara minumnya, Mbak??”dalam hati aku menertawakan ketidakpahamanku. Dalam hati mungkin si mbak melakukan hal yang sama sembari berucap “katro kamu, Mas.”

Setelah si mbak menjelaskan caranya. Lantas aku coba. Jadi, untuk meminum kopi walik, hal pertama yang harus dilakukan adalah memutar gelas yang tertempel di atas piring kecil secara perlahan. Membuat bibir gelas bergesekan dengan permukaan piring.hal itu akan membuat gelas dapat terangkat sedikitdan membiarkan air kopi yang ada di dalam gelas perlahan tumpah ke piring kecil. Dari piring itulah kopi dapat diminum, disruput, perlahan dengan posisi gelas tetap menempel di permukaan piring agar tidak seluruhnya kopi tumpah sekaligus ke piring dan ke mana-mana. Hingga tiga sampai empat kali putaran dan bukaan, ampas kopi akan lebih banyak keluar lebih dulu. Sehingga harus sedikit demi sedikit ampas dibiarkan keluar. Putaran dan bukaan selanjutnya, kopi walik sudah dapat dinikmati dengan cara yang unik dan menyenangkan.

Selama aku berdiam diri di kedai Kopi Walik, gerimis turun cukup lebat. Orang-orang masih tetap menikmati Sekaten dalam romantisme gerimis yang mengundang. Mengundang perasaan. Perasaan untuk tetap ingin diam dan berteduh saja di Kopi Walik untukku. Membuat aku jadi sungkan untuk bertamu ke rumah Bi Nining saudaraku karena hari menjadi terlalu malam untuk bertamu. Karena gerimis baru reda di sekitar jam sembilan malam lewat.

Setelah gerimis betul-betul berhenti, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Kopi Walik. Ke mana aku pergi? Ke Malioboro.
-
Malam terakhir. 14 November 2018.

Malam terakhir di Jogja kuhabiskan di Malioboro. Gerimis. Kehabisan kata-kata. Perasaan tak keruan yang tumpah semalam, bercucuran dalam langkah-langkah kecil sepanjang jalan. Tanpa foto dan catatan.

Abder. Seorang mahasiswawa ISI Jogja, Seni Lukis tingkat satu. Kutemui dalam lima ratus sketsa satu semester. Satu dibuat di sampingku. Ditambah aneka percakapan tentang filsafat, seni, pendidikan, dan arsitektur yang terbuka. Juga tentang Bandung, Padang, dan Jogja.

Jogja adalah kota yang entah bagaimana, hampir semua penduduknya amat terbuka. Interaksi langsung dan terbuka sangat mungkin dilakukan di manapun. Terutama di ruang-ruang kehidupan yang dekat dengan urat nadi kerakyatan. Mebuatku senang untuk berlama-lama ngobrol dengan petugas parkir yang belum tahu Gegerkalong itu ada di bumi dan belum ditelan lautan. Membuatku senang memberi jalan untuk mobil yang mau belok, yang juga senang memberiku jalan karena mau lurus. Aku harus meliputi seluruh Jogja dengan terimakasih yang deras.

Besok, segalanya adalah kembali tentang Bandung. Itu semua karena Pidi Baiq berkata :

Dan Bandung. Bagiku bukan Cuma. Urusan wilayah belaka. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan. Yang bersamaku ketika sunyi.

Tapi juga jika kuganti sedikit :

Dan Jogja. Bagiku bukan Cuma. Urusan wilayah belaka. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan. Yang bersamaku ketika itu.

Alhamdulillah.
-
15 November 2018.

Menjelang ashar aku bersiap meninggalkan Jogja. Ndalem Winie Asri, penginapan Mas Harfi, saat itu tidak ada Mas Anang. Aku cukup sedih karena belum sempat pamit ke beliau. Maka kutanggalkan enamel pin motif kuskus yang terpasang di ranselku. Kutitipkan pada Mbak resepsionis penginapan, khusus, untuk Mas Anang.
-
Mas Pungki.

Cerita tentang Mas Pungki adalah salah satu pengalaman paling seru di hidupku. Mas Pungki sendiri adalah seorang kondektur (kenek) bus Bandung Express jurusan Jogja-Semarang-Bandung. Bus yang membawaku kembali ke pelukan Bandung.

Nah. Waktu itu malam sudah setengah dua belas. Bus memasuki sebuah tempat perhentian dekat daerah Tegal. Penumpang lain banyaknya sedang tidur. Aku baru saja terbangun. Melihat bus berhenti di tempat perhentian, aku menyempatkan diri untuk turun dan merokok sejenak. Mas kondektur terlihat sibuk mengkoordinasikan sesuatu dengan petugas P.O. Bandung Express. Rupanya belum habis sebatang rokok, bus sudah akan kembali melaju. Segera kumatikan rokokku. Melihatku demikian, mas kondektur berseru, “Mas, kalau mau merokok di depan aja, kosong, kok,” sambil menunjuk posisi kursi lipat tempat kondektur bus biasa bercokol.

Loh. Aku tanya, “Lha, emang Masnya?”

Mas kondektur kasih isyarat dia yang akan gantikan supir.

Loh. Aku tanya, “Lha, pak supirnya?”

Mas kondektur kasih isyarat pak supir mau tidur.

Mantap sekali!

Aku bosan memang duduk di belakang. Kalau naik bus, sejak kecil, aku selalu suka duduk di bagian depan. Melihat jalanan dari kaca mobil yang amat besar. Lalu ditawari duduk di paling, paling depan? Tentu saja aku bersedia dan sangat bersemngat. Tenang, Mas. Aku pasti akan jadi kondektur magang dan teman ngobrol yang baik. Janji!

Maka ketika bus kembali maju aku bergegas mengenakan jaket dan mengamankan ranselku di belakang. Lalu menduduki posisi kondektur dengan penuh kebanggaan. Oh, kawan, kau mesti paham bahwa ini sangat seru bagiku! Seru sekali!

Segera aku merokok di jendela bak seorang kondektur sungguhan. Segera juga kubuka percakapan dengan mas kondektur yang sementara naik jabatan menjadi supir bus Bandung Express. Tercatat aku resmi menjadi kondektur magang bus Bandung Express pada 14 November 2018 saat bus mulai memasuki Kota Tegal.

“Nama saya Pungki, nama panggilan sih. Kalau aslinya Haryono.”

“Kalau saya Arif, Mas. Nama panggilannya Tonji.”

“Kok Tonji? Tonji itu apa, toh?”

“Dulu saya tonggos, Mas. Dipelesetin jadi Tonji, hehe,” Mas Pungki ketawa.

Aku ngobrol buanyaaaakkk sekali dengan Mas Pungki. Menemani Mas Pungki kerja di antara orang-orang yang tidur. Mas Pungki, kalau dia jujur, sekarang usia tiga-empat. Sudah menikah dan berhasil membuat dua orang anak bersama dengan istrinya tercinta. Mas Pungki asli orang Sleman, Jogja. Istrinya asli orang Cimahi dan tinggal di Cimindi bersama anak-anak. Mereka resmi menjadi suami-istri saat Mas Pungki berumur dua-enam.

Ih. Sungguh aku sangat senang ngobrol dengan Mas Pungki. Ngobrol segala macam yang mungkin. Sampai-sampai aku curhat tentang Teh Nala ke Mas Pungki. Dia sampai tertawa enak saat tahu aku kehilangan kesempatan untuk minta nomor kontak Teh Nala. Membuat Mas Pungki jadi makin terbuka ngobrol denganku. Membuat Mas Pungki jadi berbagi cerita tentang pertemuan pertamanya dengan sang istri.

Ternyata oh ternyata. Oh ternyata oh ternyata. Pertemuan keduanya terjadi saat Mas Pungki sudah jadi kondektur dulu. Sementara sang istri sedang jadi penumpang bus yang ada Mas Pungkinya!

“Mantep, e, si Mas! Haha!” aku berseru. Mas Pungki senyum-senyum.

Mas Pungki memang tidak bercerita detail tentang jurus apa yang digunakan untuk mendapatkan istrinya di pertemuan pertama mereka. Tapi aku paham penjelasannya tentang kesempatan yang mungkin Cuma satu-satunya itu. Selebihnya, kamudian Mas Pungki berbagi denganku tentang kehidupan rumah tangga. Tentang menjadi seorang suami. Tentang mencari nafkah. Tentang menjadi seorang ayah. Mas Pungki, malam itu, selain menjadi atasanku, juga menjadi guru kehidupan yang baik. Aku mendengarkan dengan serius. Aku menjadi bawahan yang baik semampuku. Aku menurunkan beberapa penumpang dengan baik semampuku. Aku menurunkan beberapa barang dari bagasi dengan baik semampuku. Aku mengawasi jalanan untuk Mas Pungki menyusul truk-truk malam dengan baik semampuku. Sampai Kadipaten. Sampai aku benar-benar mengantuk dan pamit kembali tidur ke belakang.
-
Bandung kuinjak. Mantap. Pukul 07.00, 16 November 2018 di depan pintu keluar bus Terminal Leuwipanjang. Kuulurkan tanganku pada Mas Pungki. Terimakasih teramat banyak. Saling mendoakan. Perpisahan. Singkat. Padat dalam tangan yang berjabat erat. Mas Haryono, Mas Pungki, dadah.
-
Di luar jaket, Bandung rasanya dingin. Pisang molen kubeli sebanyak empat buah dan bayar tunai tanpa kasbon sebesar empat ribu rupiah. Di pinggiran jalan banyak orang menanti bus-bus keluar dari Terminal Leuwipanjang, sama sepertiku, yang berdiri menunggu Damri ke arah Ledeng.

Setelah duduk di dalam bus Damri, rupanya sampai di Ledeng tak terasa lama. Berjalan aku menyusuri kampus UPI, kampusku, berjalan ke bawah menuju Warung Pak Ajat tempat aku biasa nongkrong semasa kuliah dulu. Silaturahim dengan Bapak dan Ibu Ajat sambil pesan segelas kopi hitam. Lalu dijemput Ibu dan pulang menuju rumah tempat aku tinggal, mandi dan sikat gigi. 

Alhamdulillah.
-
16 November 2018. Siang-sore di Kineruku.

Kawanku yang baik. Perjalanan kehidupan mungkin masih panjang, atau mungkin sebentar lagi selesai. Namun perjalanan sendirianku ke Jogja tahun ini di November sudah selesai. Jurnal perjalanan ini oleh karena hal tersebut juga mesti kubuat selesai. Maka berikut ini, adalah bagian penutupan :

Penutupan.

Kepada Bapak Kahuripan seat 20-B gerbong 5, beserta segenap keluarga yang ada. Semoga keluarga Bapak di Solo diberikan kesembuhan oleh Allah SWT. Semoga Bapak juga senantiasa dianugerahi kesehatan dan perlingunganNya. Aamiin.

Kepada Mbak Kahuripan seat 19-A gerbong 5. Semoga sehat selalu dan diberi rezeki yang baik bersama suami dan keluarga.

Kepada Mas Faisal. Sal, terimakasih banyak obrolan, rokok,kopi dan powerbank-nya. Terimakasih sudah mau berkawan meski tidak lama. Barangkali nanti bertemu lagi, semoga kau tidak lupa padaku. Semoga sukses.

Kepada Teh Nala. Nabilah. Terimakasih banyak telah berkenan untuk berkenalan singkat. Sedikit obrolan. Terimakasih karena tersenyum. Aku berharap semoga short escape-mu kemarin berjalan lancar. Mengenai siapa engkau sebenarnya, atau siapa aku sebenarnya, tergantung pilihan kita sendiri. Tapi tetap Allah yang menentukan. Sementara itu, tetaplah dalam lindungan dan ridha Allah dalam segala hal. Jika Allah menghendaki kita bertemu lain waktu, aku akan banyak bercerita.

Kepada Mas Harfi, istri, Kak Tisha dan Dek Inara. Terimakasih yang sangat banyak karena telah sudi menampungku selama di Jogja. Maafkan aku yang jadi sangat merepotkan. Aku berdoa agar Mas Harfi dan keluarga senantiasa sehat selalu. Dilancarkan rezeki. Kak Tisha dan Dek Inara tumbuh sehat, pintar dan jadi anak yang sholehah. Aamiin.

Kepada Faza, Fajri dan Hanif. Adik-adik sepupu Mas Harfi. Senantiasa diberikan kelancaran di perkuliahan. Baik-baik dan loyal pada Mas Harfi. Terimakasih sudah mau menemaniku di Ndalem Winie Asri. Pinjakmkan pulpen. Pinjamkan motor. Temani ngetrail ke Merapi. Matur nuwun.

Kepada Mas dan Mbak pegawai Ndalem Winie Asri. Khususnya Mas Anang. Matur nuwun. Saktenan-tenane matur nuwun. Makasih Mas Anang yang hampir tiap hari buatkan aku kopi atau teh. Makasih sudah kasih tahu aku cara mendapatkan tiket kereta tanpa antre.enamel pin kuskus untuk Mas Anang, mudah-mudahan Mas Anang suka. Dijaga dan jangan sampai hilang. Semoga suami, anak, istri sehat selalu. Aamiin.

Kepada Mas-mas petugas parkir di Candi Cetho yang someah dan periang. Terimakasih sudah mau menemaniku ngobrol-ngobrol sambil menunggu hujan reda. Sehat-sehat ya, Mase. Semoga suatu saat nanti Mas ada rezeki dan kesempatan jalan-jalan ke Bandung. Aamiin.

Kepada Mas Abder. Uda Abder. Abder. Selamat menempuh pendidikan seni lukis. Semoga luas dalam pengetahuan, luas dalam pergaulan, luas dalam pemikiran. Dengan seni sebagai salah satu alat untuk menemukan kebenaran, semoga kau temukan perspektif senimu sendiri. Semoga kelak menjadi seorang seniman yang kuat dalam berkarya. Aamiin.

Mas Haryono. Alias Mas Pungki. Sungguh aku berterimakasih sebanyak mungkin. Telah mengizinkan aku duduk di posisi kondektur. Matur nuwun sudah ngobrol, berbagi, dan mengajariku banyak hal dalam waktu singkat. Terimakasih atas doa yang Mas Pungki panjatkan untukku. Atas itu semua, aku juga berdoa untuk Mas Pungki. Semoga Mas Pungki sehat selalu. Anak istri juga. Dilindungi oleh Gusti Allah. Semoga Mas Pungki senantiasa dikuatkan oleh Allah untuk menempuh hidup di bumi juga selamat sampai di akhirat. Aamiin. Jika suatu saat aku harus ke Jogja atau ke Bandung dengan Bandung Express, aku berdoa semoga kita berjumpa lagi. Aku ingin Mas Pungki tahu bahwa aku sangat senang bisa bertemu dan ngobrol banyak dengan Mas Pungki. Mas Pungki, keren abisss.

Lalu kepada seluruh rakyat dan tanah Jogja. Karanganyar. Solo. Klaten. Baki. Magelang. Tegal. Kadipaten. Matur nuwun. Semoga paying perlindungan menaungi seluruhnya. Diliputi kebaikan. Jaya di darat, laut, juga udara.

Terimakasih dan doa-doa, insyaallah semua kebagian. Deras dan tak terbendung. Aamiin.
-
16 November 2018

Aku sengaja
Datang ke bumi
Untuk banyak hal

Aku sengaja
Datang ke bumi
Untuk tegak dan melihat matahari
Untuk diam dan melihat bulan dan bintang
Berlari-lari di pegunungan Kirgistan
Menyaksikan uap kopi di Mongolia
Tidur dan berbaring di dasar Sungai Thames

Ikan-ikan biarkan berenang di lautan
Burung-burung biarkan mereka bebas tak terkurung
Bebas melintasi manusia yang sibuk mencari kayu bakar

Aku sengaja
Datang ke bumi
Untuk banyak hal
Untuk melepaskan kunang-kunang ke udara
Untuk mengeluarkan jutaan gantungan kunci aneka rupa
Yang kusimpan dalam ransel
Bergelantungan di langit semesta bersama harapan
Di seluruh penjuru dunia

Aku sengaja
Datang ke bumi
Untuk ditemukan
Oleh kasih dan saying
Oleh suka dan cita
Oleh rindu dan cinta
Yang sejak dulu meliputi manusia
Manusia yang banyak memberi dan menerima
Es lilin, gulali, arum manis, biskuit, kue dan mainan
Salam, tepuk, peluk, belai, cium, canda, tawa dan perasaan
Membuat aku hampir mati karena terpana
Sampai-sampai ingin mengembalikan segalanya
Aku kehabisa bibir untuk tersenyum lebih lebar
Aku kehabisan tangan untuk bertepuk lebih banyak
Aku kehabisan air mata untuk terharu lebih jauh
Aku kehabisan diriku sendiri

Aku sengaja
Datang ke bumi
Untuk menemuimu
Agar kita mampu menerima semuanya
Agar kita mampu memberikan semuanya
Agar kita meliputi seluruh dunia
Agar semesta jadi penuh oleh aneka cerita

Aku sengaja
Datang ke bumi
Untuk menemukanmu

Sudikah engkau ikut denganku?
-


Selesai.
Jogja dan Bandung,
10-16 November 2018,






Muhammad Arif Adiansyah.


Friday, 12 October 2018

SEPERTI SEDIA KALA

Hari sedang Jumat, dan masih dini hari. Kala belum kunjung bertemu dengan kantuk yang mestinya sudah datang. Apa boleh buat, sepertinya karena memang mereka belum saling janji untuk bertemu jam sepuluh hari Kamis. Sehingga Kala dengan terpaksa, masih harus bisa melihat jarum jam yang berputar patah-patah di dinding kamarnya. Melihat beberapa bajunya yang tergantung di balik pintu kamar. Melihat cicak yang merayap di dinding lewat cermin di lemari pakaiannya. Semuanya itu terlihat karena lampu kamar menyala, terang, padahal di luar sana sudah gelap. Gelap karena matahari sudah sepakat. Jika malam, bulan yang mesti terjaga, meski tak terlihat karena tertutup awan.

Kala menjadi bingung dengan keadaan. Bingung apa yang harus diperbuat sementara kantuk tak kunjung datang. Bingung apa yang harus diperbuat, untuk memanggil kantuk datang ke kamarnya. Bingung, karena Kala belum sempat meminta kontak kantuk, baik nomor telepon atau media sosial. Itu membuat Kala berpikir, tapi tidak jelas. 

Seperti:

"Dapatkah kupanggil kantuk datang dengan semacam ritual atau semacamnya?"

Atau:

"Apa mungkin kantuk sebetulnya sudah datang, hanya saja tak tahu cara mengetuk pintu?"

Atau:

"Mengapa gadis dua puluh empat tahun sepertiku mesti selalu ditanyai: "Kapan nikah?""

Tidak. Tidak. Tidak. Tentu saja hal-hal seperti itu hanya akan membuat kantuk semakin sulit datang padamu Kala. Kala harus menemukan cara lain untuk mengundang kantuk segera datang. Sehingga Kala sejenak menuju meja belajarnya. Mengambil buku diarynya dan sebuah ballpoint. Kembali ke kasur, duduk dan mulai menulis:

KALA

Kala
Kala atau menang itu hal biasa
Kala-lawar misalnya
Yang tidak hanya hidup di malam hari
Siang juga hidup, tapi tidur

Kala
Kala atau menang itu luar biasa
Kala-jengking misalnya
Yang menurut zodiak sulit asmara
Namun baik secara finansial, bulan ini

Kala
Kala atau menang, atau menang atau kala
Kala-teka misalnya
Yang menguasai ilmu beladiri
Bukan untuk bertarung, melainkan penguasaan diri

Kala
Apa yang kau lakukan?
Jika begini terus kau takkan pernah tidur
Mau sampai kapan?

Sekonyong-konyong, Kala terbangun dari tidurnya. Dari mimpinya. Tersentak. Mimpi terjatuh. Terjatuh dari panggung sandiwara. Panggung pencitraan. Ah, pasti karena lupa baca doa.

"Bismika Allahumma ahya, wa bismika, amuut. Aamiin."

Thursday, 27 September 2018

SERENDIPITY KEDAI SENJA

Sore sedang hujan. Karena boleh, jalan dan trotoar di sebelah kedai kopi sederhana menjadi basah. Karena bisa, meski tertutupi teritisan atap, daun-daun tanaman Li Quan Yu yang menjuntai tergantung juga ikut basah, dan itu persis di muka kedai kopi. Apalagi kursi-kursi besi dan meja-meja besi yang putih di pelataran depan kedai, lebih basah lagi. Menjadikannya kosong dan sepi karena hujan memang masih.

Tepi tengok ke dalam kedai. Di balik kaca jendela yang separuhnya ditempeli bintik-bintik percik air hujan, padahal bingkainya berwarna putih dan bernama jendela. Di baliknya ada orang-orang yang berteduh dari hujan. Atau dari pekerjaan. Atau dari kehidupan. Atau dari waktu. Tapi tahukah mereka? Berteduhnya hanya sementara, menunggu cuma sampai reda. Kamu tentu tahu.

Jendela lainnya punya kaca yang bening, sama seperti yang sebelumnya. Jendela ini punya kaca yang sama, separuhnya basah oleh bintik, padahal bingkainya yang aluminium sudah diberi warna putih, juga diberi nama yang sama. Jendela. Tapi jendela yang satu ini spesial, karena di baliknya ada aku. Yang bersama secangkir kopi, hadir karena kupesan.

Aku hadir karena sama berteduh dari hujan. Atau dari pekerjaan. Atau dari kehidupan. Atau dari waktu. Aku pakai jaket karena dingin. Aku pakai sebuah celana jeans karena warnanya biru dan mulai pudar. Juga pakai sepasang sepatu boots warna cokelat karena sudah terlanjur dibeli. Tentu saja, aku sedang sambil menulis karena pegang pulpen dan punya buku tulis. Apa yang kutulis kau takkan tahu karena menurutku itu rahasia.

Tapi ini sungguh bukan rahasia. Karena tiba-tiba lonceng-lonceng kecil yang tergantung di atas pintu masuk pada bergoyang. Menjadi terdengar bunyi-bunyi berkerincing karena pintunya terbuka. Atau dibuka. Menyebabkan mataku jadi awas dan terkunci pada apa yang datang dari pintu masuk. Menjadi aneh karena yang mendengar suara lonceng adalah kupingku, yang daunnya panjang sebelah.

Sungguh bukan rahasia. Ternyata manusia. Entah bernama siapa. Dan betul perempuan, seorang perempuan betulan. Pasti karena dingin, dia pakai sebuah sweater rajut warna hitam berlapis parka dengan warna senada tapi lebih muda yang kau sebut apa? Abu-abu? Terserah. Dia juga pakai celana jeans dengan warna yang lebih gelap dari jeansku, dan belum pudar. Jeans itu dipakai karena dia punya. Alasan yang sama seperti sepatu kets hitam-putih yang dipakainya. Itu juga membuatnya jadi membawa sebuah totebag hitam. Dan tentu saja kerudungnya berwarna hitam, karena dijual hitam dan menjadi miliknya setelah dibeli.

Ditepis-tepisnya basah yang separuhnya melekat pada apa yang dipakainya. Pintu kembali menutup, lonceng lagi berbunyi, namun tak lagi kudengar. Berjalan dia ke arah kasir. Kupastikan itu adalah karena dia kedinginan dan mau pesan sesuatu yang hangat. Mungkin kopi. Pasti untuk dia sendiri. Bukan untukku. Atau belum. Aduh. Postur tubuhnya agak mungil. Tidak lebih mungil dari mutiara. Tapi lebih indah dia. Tak seperti kupu-kupu. Dia lalu mencari tempat duduk dengan cara berjalan kaki. Sementara merak warna-warni, dia tidak. Tapi lihatlah, dia lebih anggun. Dia sudah selesai mencari tempat duduk. Hal itu membuatnya jadi duduk dan sama berteduh. Di samping jendela lainnya. Dan membuat jendela tersebut jauh lebih spesial ketimbang jendela di sebelahku. Jendelanya itu, di sebelah kursi dan meja. Persis di depan meja tempat aku sudah lebih dulu duduk.

Heh. Tepat di depanku!

Sekilas dilihatnya orang yang duduk di meja depan meja tempatnya duduk. Seorang laki-laki kikuk yang tiba-tiba pura-pura berpikir dan sibuk menulis. Aduh. Tentu saja itu aku. Yang tiba-tiba langsung menyeruput kopi entah kenapa. Sementara dia perempuan tampak tidak terlalu peduli juga, tapi sempat menahan senyum yang entah karena apa. Lalu duduk diam dan mulai asyik dengan smartphone di tangannya.

Musik folk terdengar mendayu-dayu di seantero kedai kopi. Itu karena suaranya keluar dari speaker kedai. Meski samar-samar, suara hujan yang sudah sedari tadi turun ramai-ramai semakin deras. Perempuan mungil di depanku mulai menikmati pesanannya yang sudah datang dan berupa secangkir teh yang rasanya manis lagi hangat. Aku sendiri kelihatannya masih serius menulis sesuatu yang rahasia. Tapi apa yang kutulis tak lagi penting. Itu tentu saja karena aku hanya pura-pura belaka. Pura-pura oleh sebab perempuan di depanku rupanya seorang pencuri. Yang sesekali tersenyum di depan layar smartphonenya. Apa-apaan. Manis begitu. Yang menghangatkan telapak tangannya pada cangkir tehnya yang manis lagi hangat. Yang wajahnya terpapar sinar kuning merkuri lampu kedai karena hari menjelang senja dan matahari perlahan kalah terang darinya. Menyebabkan aku jadi kehilangan konsentrasi menulis yang sebelumnya kumiliki. Menyebabkan segala rahasia semesta yang kutulis seakan hilang nilai dan pendar. Membuat aku menjadi berjuta. Menyebabkan aku senang mencuri pandang.

Kawan, tahukah engkau, bahwa yoghurt lezat karena fermentasi, sedang kopi kuat karena argumentasi. Mengapa kutulis demikian? Entah. Karena sebagaimana kau sudah tahu. Perasaan bukan bagian dari persamaan matematika. Juga bukan termasuk dalam kategori hal yang berjudul logika. Mudah-mudahan kau setuju begitu. Sehingga entah kenapa lalu kutulis sesuatu di atas secarik kertas. Sehingga entah kenapa pula aku berdiri meninggalkan mejaku. Sehingga entah kenapa aku berjalan setengah kikuk menuju perempuan yang ada di depanku. Menyebabkan aku jadi menyerahkan secarik kertas yang kutulisi sebelumnya.

Tulisan yang ini bukan rahasia, sehingga jika kau baca perlahan akan kau dapati sebuah tulisan tanganku berbunyi:

SERENDIPITY KEDAI SENJA

TIADA PERNAH ADA
PERMATA YANG MENCURI MANUSIA
KECUALI DI KEDAI INI
IALAH NONA YANG PERTAMA

BELUM HABIS HUJAN REDA
BERTEDUH DI KEDAI SAMPAI HABIS SENJA
JIKALAH KU DUDUK DI KURSI INI
SUDIKAH NONA BERBAGI MEJA?

Wednesday, 18 April 2018

IKUT PERASAAN: BAGIAN TIGA

IKUT PERASAAN: BAGIAN TIGA

Sudah cukup lama sebetulnya Sang Malam diam begitu. Mungkin sudah ada sekitar setengah tahun ia terlihat tak seperti biasanya, membuatnya terlihat lebih sering berdiam diri, melamun, bermenung, bahkan bisa sampai berjam-jam lamanya. Hal itu membuat banyak makhluk yang mengenalnya ─ seluruh makhluk mengenalnya ─ jadi bertanya-tanya tentang apa yang terjadi padanya. Bahkan secara sembarangan, sesekali beredar rumor bahwa Sang Malam sedang tidak waras, karena kesurupan setan! Ah, tapi macam mana malam kesurupan setan, memangnya pernah ada kasus malam kesurupan setan? Sungguh tidak masuk di akal.

Aku, sebagai penulis cerita, tentu punya tanggung jawab khusus untuk harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada setiap tokoh yang tertulis di cerita ini. Dan juga sudah tugasku untuk menceritakan apa-apa yang terjadi tersebut kepada pembaca sekalian yang terhormat. Bahwa sungguh, sebetulnya Sang Malam tidaklah kesurupan makhluk sebangsa jin atau setan, yang halus, karena memang pada dasarnya hal tersebut tidak masuk akal. Bahwa sungguh, sebetulnya apa yang terjadi pada Malam adalah merupakan suatu hal yang baru dan berat bagi Sang Malam itu sendiri dan telah melandanya selama setengah tahun belakangan ini. Bahwa sungguh, sebetulnya permasalahan yang melanda Sang Malam nyatanya jauh lebih berat dan jauh lebih esensial ketimbang hanya kesurupan makhluk astral belaka seperti yang telah dirumorkan oleh seluruh makhluk yang mengenalnya. Bahwa sungguh, sebetulnya hal ini adalah sebuah persoalan besar yang akan berdampak sangat serius bagi keberlangsungan seluruh kehidupan di alam semesta.

Nah, maka ketahuilah oleh kalian seluruhnya wahai pembaca yang terhormat, bahwasanya selama setengah tahun ini rupanya Sang Malam tengah menanggung, atau mungkin lebih tepat jika Sang Malam tengah mengandung. Ya, mengandung. Semacam istilah yang biasa disematkan kepada seorang ibu mungkin begitu, hamil. Persoalan ini tentu saja secara langsung berpengaruh kuat bagi Sang Malam sendiri. Membuat orientasi kegiatan Malam sehari-hari menjadi tidak jelas. Membuat orientasi hidup Sang Malam akhirnya menjadi gamang dan tak pasti. Karena pikiran begitu terganggu tentang apa yang terjadi pada dirinya. Apakah gerangan kiranya yang selama ini dikandungnya. Apakah gerangan kiranya yang selama ini ditanggungnya. Apakah gerangan kiranya yang selama ini ada di dalam tubuhnya. Terasa seolah apa yang ada di dalam tubuhnya ini memiliki suatu kekuatan yang begitu dahsyat. Seolah-olah terasa mampu untuk membuat bumi terbelah atau semacamnya. Dan apapun itu, rasanya, apa yang ada di dalam tubuhnya memiliki tuntutan khusus untuk keluar dari tubuhnya. Untuk lahir dan bebas untuk bertemu isi semesta. Untuk kemudian bisa dengan bebas melepaskan segenap kekuatannya yang dahsyat ke seluruh dunia.

Seiring dengan bergulirnya waktu, Sang Malam paham betul, bahwa apa yang selama ini terkandung di dalam tubuhnya adalah suatu hal baru yang begitu besar dan fenomenal bagi dunia. Sehingga pada bulan-bulan selanjutnya setelah setengah tahun tersebut Sang Malam telah menjadi lebih tenang dan jelas sehari-harinya. Ia paham betul bahwa apa yang tengah dikandungnya mestilah ia rawat sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Agar pada saatnya nanti apa yang dikandungnya harus lahir ke dunia tak ada satu kekurangan apapun yang akan membatasi potensi yang dimilikinya. Tanggung jawab tersebut dipahami betul oleh Sang Malam dengan memberikan semacam nutrisi khusus yang dibutuhkan oleh makhluk di dalam tubuhnya. Hal itu membuat makhluk-makhluk lain di sekitarnya tak jarang mendengarnya melantunkan berbagai nyanyian-nyanyian alam yang tak dipahami namun begitu menyentuh. Atau terdengar siulan-siulan atau senandung-senandung yang sayup-sayup terbang dibawa angin ke berbagai penjuru melintasi sungai-sungai dan gunung-gunung. Di waktu-waktu lain, beberapa makhluk lain juga mendapati Sang Malam tengah duduk memandangi matahari yang terbit dan matahari yang tenggelam. Atau di waktu lain didapati ia tengah duduk di tepi sungai, seolah sedang berbicara sendiri sambil mengamati ikan-ikan salmon yang berenang-renang. Atau saat ia sedang beralan-jalan ringan di tepi pantai sembari bermain-main kecil dengan ombak yang menggodanya. Dan catatlah olehmu, bahwa apa yang dilakukan oleh Malam bukanlah suatu akibat dari kesurupan makhluk astral, melainkan sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap suatu kekuatan besar yang selama ini terkandung di dalam tubuhnya hingga tiba saat kelahirannya.

Sang Malam paham betul kapan kiranya makhluk yang dikandungnya ini akan keluar dan lahir ke dunia. Sehingga pada usia delapan bulan kandungannya ia mulai lebih banyak berkontemplasi. Mencoba memahami berbagai esensi dari kehidupan dan isi semesta yang ada. Apa yang dilakukannya tersebut ternyata merupakan suatu bentuk usaha dalam memahami dan memaknai apa yang dikandungnya. Dengan apa yang ditemukannya dari pemahaman dan pemaknaan itulah kemudian yang akan menjadi dasar pemberian nama bagi apa yang dikandungnya. Karena segala sesuatu yang ada di dunia tentulah mesti memiliki nama bukan? Karena apalah arti sebuah makhluk jika tak memiliki nama untuk dimaknai. Dan apalah pula arti sebuah nama jika tak mengandung sebuah makna khusus bagi makhluk yang menyandang nama tersebut. Betul begitu, dan mestilah betul.

Maka setelah proses panjang kontemplasi dalam memaknai dan memahami apa yang dikandungnya selama delapan bulan ke belakang, Sang Malam pun akhirnya telah mengantungi sebuah nama yang akan disematkan pada kandungannya. Ia pun selanjutnya berpikir, mengingat apa yang dikandungnya selama ini merupakan suatu hal besar yang memiliki potensi bahkan mungkin tak terhingga. Ia berpikir bahwa selayaknya seluruh makhluk di alam semesta ini mestilah mengetahui akan datangnya kelahiran suatu hal yang besar dan dahsyat. Ia berpikir bahwa perlulah kiranya ia memberikan undangan kepada seluruh makhluk yang ada agar mereka semuanya bisa memilih untuk ikut hadir ataupun tidak dalam menyambut kelahiran yang akan segera tiba waktunya. Tentu saja, karena ini merupakan salah satu peristiwa yang sangat bersejarah bagi seluruh dunia. Semua berhak hadir. Semua berhak tidak hadir. Namun seluruhnya harus tahu bahwa akan lahir sesuatu yang sangat besar dan ajaib dari tubuhnya setelah dikandung sekian lama. Membuatnya berpikir agar nanti menjelang saat kelahiran, akan ia umumkan ke seluruh penjuru semesta apa yang akan hadir ke dunia.

Maka sembari mengusapi tubuhnya, ia berkata pada apa yang ada di dalamnya:

“Bersiaplah engkau untuk lahir ke dunia. Kau, tentu saja, kuberi nama: Perasaan.”

Wednesday, 4 April 2018

IKUT PERASAAN: BAGIAN DUA

IKUT PERASAAN: BAGIAN DUA

Nah. Waktu itu masih siang suasananya. Matahari masih bertugas, Bulan belum, setidaknya begitu menurut seorang anak manusia kepada kawannya suatu hari dulu. Kelinci-kelinci yang tujuh puluh ekor juga masih berada di Tibet, terlihat wajar di sebuah padang karena hanya melompat-lompat, atau berlari-lari, atau sedang makan, atau sedang diintai oleh seekor elang yang sudah sekitar lima menit berputar-putar di dekat lereng pegunungan. Ayah Rusa sedang gagah, karena kepalanya tegak, melihat keadaan sekitar. Memantau dua ekor anaknya yang berlari-lari kecil di sekitar, sementara Ibu Rusa masih asyik mengunyah rumput kesukaannya. Lalu ikut menunduk, ikut makan rumput, mungkin jadi ingin makan rumput juga melihat istrinya yang seolah nikmat betul menikmati rumput. Binatang-binatang lain juga seperti kodratnya, menjalani kehidupan secara wajar sebagai makhluk Tuhan yang diklasifikasikan sebagai hewan.

Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya Pinus terlihat sangat malas dengan hanya bergoyang-goyang atau terdoyong-doyong oleh angin yang berhembus kuat ke batangnya, daun-daunnya juga bergetar. Mereka tidak malas, sungguh, karena memang begitu perilaku mereka kalau sudah tinggi, betul bukan? Pohon-pohon Karet juga terlihat wajar. Berbaris ramai-ramai berjarak sampai disebut oleh manusia bahwa mereka itu adalah hutan karet. Tidak tampak jelas juga mana pohon karet yang lebih tua atau yang lebih muda, seolah tidak ada itu yang namanya kesenjangan sosial antargenerasi, mengarang saja, karena toh semua sama, disayati tubuhnya oleh manusia supaya getahnya dapat diambil sebanyak-banyaknya. Yang sama juga bergoyang-goyang bagian atasnya ketika dilewati angin. Begitu juga pohon Ek, semua tampak wajar di dunia yang biasa-biasa saja.

Betul. Begitu juga dengan planet-planet yang punya tugas di tata surya kita. Yang jika disebutkan secara berurutan adalah Pluto, Neptunus, Uranus, Saturnus, Jupiter, Mars, Bumi, Venus, dan terakhir Merkurius. Begitu urutannya jika aku ingin menyebutkan mereka dari yang paling jauh dari Matahari. Masing-masing mereka masih bersikap wajar dengan tetap berjalan pada sumbunya yang secara umum disepakati mengitari Matahari dengan kecepatannya masing-masing.

Sampai beberapa saat, siang itu, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang terdengar oleh mereka itu seluruhnya yang sekonyong-konyong begitu saja berkata:

“Halo semuanya. Pemberitahuan, bahwasanya nanti malam, di bukit, Perasaan akan lahir ke dunia. Saya ulangi, bahwasanya nanti malam, yaitu , Perasaan akan lahir ke dunia. Semuanya dibebaskan untuk hadir atau tidak hadir di kelahiran Perasaan. Sekian dan terimakasih.”

Demikian suara tersebut kira-kira terdengar oleh seluruh hewan-hewan di dunia, oleh seuruh tumbuh-tumbuhan di dunia, oleh seluruh angkasa raya yang merdeka. Sehingga mereka seluruhnya tiba-tiba terdiam dari seluruh aktivitas yang sedang mereka lakukan. Ayah Rusa dan keluarganya berhenti mengunyah. Harimau yang tidur siang berhenti dari tidur sehingga terbangun. Kelinci-kelinci dari Tibet tiba-tiba membeku, tapi bukan karena kedinginan. Ayam-ayam kampung, ayam-ayam negeri, ayam-ayam luar negeri, semua ayam itu terdiam. Pohon-pohon pinus, pohon-pohon karet, pohon-pohon ek, pohon-pohon beringin, pohon-pohon toge dan lainnya, semua berhenti bergoyang, seolah mereka memang kuat untuk tidak bergoyang ketika terkena angin yang berhembus. Matahari, Bulan, dan planet-planet lainnya juga ikut terdiam, berhenti dari aktivitasnya yang sangat wajar seperti hari-hari biasa di dunia yang biasa. Lalu secara bersamaan semuanya bergumam:

“Itu suara Malam.”

Pertanyaan-pertanyaan kemudian muncul begitu saja. Tentang apa itu Perasaan. Tentang siapa itu Perasaan. Tentang bagaimana wujud Perasaan. Tentang apa yang dibawa oleh Perasaan. Tentang apa yang akan dilakukan Perasaan. Tentang perilaku Perasaan, apakah ia suka berbicara, apakah ia suka berlarian, apakah ia suka makan rumput, apakah ia suka mandi cahaya, apakah ia suka berguling-guling. Tentang macam-macam. Karena Perasaan semacam sesuatu yang tidak pernah mereka tahu di dunia. Karena Perasaan semacam sesuatu yang baru di sepanjang kehidupan yang sebelumnya sudah mereka jalani. Sehingga mereka merasa perlu untuk hadir . Sehingga mereka merasa perlu untuk tahu secara langsung tentang Perasaan. Sehingga mereka merasa perlu untuk sibuk bersiap-siap seolah menyambut lahirnya Perasaan malam ini. Sehingga mereka merasa perlu untuk jauh-jauh melakukan perjalanan menuju Malam yang bertanggungjawab atas informasi yang sekonyong-konyong disebarkannya di siang hari yang bolong, tapi tentu tidak berlubang.

Setelah momen diam sejenak berjamaah itu dilaksanakan secara serentak, mereka seluruhnya jadi tiba-tiba saja seolah sibuk ini-itu, masing-masing. Sibuk menjadi tidak wajar karena ingin hadir menuju bukit malam ini untuk menyaksikan langsung kelahiran Perasaan yang diumumkan oleh Malam. Sibuk menjadi tidak wajar karena sebagian tiba-tiba pergi membeli kacamata hitam atau baju-baju hangat. Sibuk menjadi tidak wajar karena sebagiannya pergi mengelilingi hutan, mencari bunga-bunga yang menarik perhatian mereka, untuk dipetik dan dibawa hadir nanti malam. Sibuk menjadi tidak wajar karena sebagian lain dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya untuk menyiapkan dirinya masing-masing. Dan seluruhnya sibuk menjadi tidak wajar karena solah-olah meninggalkan apa yang biasanya mereka kerjakan sehari-hari. Seolah mereka mengingkari peran dan tanggungjawab yang sejak dulu tersemat di namanya masing-masing.

Sejak perilaku-perilaku yang tidak wajar tersebut, kehidupan tak lagi terasa sama, aktivitas yang ada jauh di luar batas kewajaran, jauh di luar batas nalar pemikiran, dan jauh mejadi sebuah fenomena absurd yang sama sekali tidak masuk akal. Itulah yang dikatakan oleh hewan-hewan dan tumbuhan laut ketika mereka tidak bisa hadir, yaitu susah bernafas, dan tidak masuk akal. Sehingga meskipun mereka sedikitnya merasa tertarik akan berita kelahiran Perasaan, namun tidak bisa ikut hadir, mereka hanya saling berucap saja dengan sesamanya agar semoga  suatu saat Perasaan sudi untuk mampir atau main ke lautan. Maka kehidupan di laut tidak mengalami suatu gejala-gejala yang tidak wajar seperti kehidupan di darat, udara, dan angkasa raya.

Siang dengan segera digulung waktu yang terus-terusan bergulir, disuruh berhenti tetap saja bergulir. Membuat dunia memasuki suasana sore. Nantinya, sore menuju petang. Nantinya, petang menuju malam. Menuju saat-saat kelahiran Perasaaan yang telah dijanjikan oleh Malam siang tadi. Para calon-calon hadirin terlihat mulai bergerak perlahan-lahan menuju Malam yang berjanji. Berduyun-duyun bersama kelompoknnya masing-masing melintasi jarak yang jauh dan yang dekat. Dan jika kau perhatikan dengan seksama, alamak, betapa konyolnya mereka terlihat. Seperti misalnya yang datang dari arah utara, tujuh puluh kelinci dari Tibet itu semuanya ramai-ramai melompat-lompat sepanjang perjalanan menuju bukit, menggunakan jaket-jaket dan penghangat-penghangat telinga bermacam warna. Melewati hutan, padang pasir, padang rumput, Padang Panjang, warna-warni begitu lucu dan tak wajar. Dari arah lain, terlihat sekelompok predator semacam singa, harimau, macan tutul, macan kumbang, kucing hutan, serigala, hyena, cheetah, yang semuanya memakai kacamata hitam seperti bintang film sambil di antara taringnya yang tajam terselip setangkai bunga yang berbeda-beda masing-masingnya. Berlari lari kencang menuju bukit. Lihat juga unggas-unggas yang bisa terbang dan unggas-unggas yang tidak bisa terbang itu, seperti sekumpulan kafilah yang sedang bermigrasi ramai-ramai, tapi aneh, unggasnya bermacam-macam. Pohon-pohon, ya, pohon-pohon. Akar-akarnya tercerabut dari dalam tanah dan bergerak seperti kaki bagi mereka, menjalar dan merayapi permukaan, membuat batangnya bergerak doyong-doyong ke depan ke belakang, seperti hutan yang sedang bergerak secara masif. Planet-planet, Matahari, Bulan, Asteroid, Meteorit, dan seluruh masyarakat angkasa raya mulai bergerak ke satu arah, turun meninggalkan pos yang mestinya diisi. Gara-gara isu kelahiran Perasaan, oh, semuanya jadi tak masuk akal. Sungguh absurd luar biasa. Absurd, tapi indah bagiku. Semoga juga bagimu.

Monday, 2 April 2018

IKUT PERASAAN : BAGIAN SATU

IKUT PERASAAN : BAGIAN SATU 

Sebelum mulai ke isi cerita, saya ingin terlebih dahulu menuliskan semacam pengantarnya. Jadi, pada periode ini saya akan menulis sebuah tulisan, mungkin cerita, yang bagi saya sendiri akan terasa sangat absurd. Karena rasanya saya tidak menyiapkan banyak hal untuk tulisan ini kecuali sebuah usaha untuk tetap waras saat menulisnya.

Tidak terlalu besar harapan saya teman-teman dapat menikmati tulisan yang mungkin terlalu absurd ini. Namun apabila teman-teman nantinya berkenan untuk membacanya, semoga teman-teman dapat menemukan apapun itu dari tulisan ini, aamiin.
Selamat berbahagia.

-

Perasaan manusia itu susah-susah gampang, bisa-tidak bisa, diprediksi. Tapi secara sederhana oleh kita sendiri diberi nama. Ada sedih. Ada senang. Ada takut. Ada bahagia. Ada rindu. Ada kesal. Ada sayang. Ada sakit. Ada marah. Ada lelah. Ada asyik. Dan lainnya. Tapi kebanyakan, saat perasaannya sedang dirasakan, seluruhnya itu tidak bisa secara telanjang dierjemahkan. Tapi mari kita coba, bersama-sama, menerjemahkan perasaan yang tidak jelas secara absurd ke dalam sebuah tulisan.

Misalnya seperti saat ini, kemudian Malam melahirkan seorang anak laki-laki yang tidak laki-laki dan tidak juga perempuan. Perawakannya seperti seorang anak usia dua belas tahun. Rambutnya hitam, tebal, dengan potongan rambut bob yang lucu. Kulitnya tergolong kulit Asia yang terang, tapi tidak bercahaya seperti matahari. Di matanya terpasang sebuah kacamata hitam bulat dengan frame berwarna merah menyala, tapi tidak seperti api. Kaosnya belang-belang strip horizontal warna hitam dan putih. Dibungkus semcam overall model Mario Bros dari bahan jeans. Dia juga pakai sepatu yang bagus, yaitu sepatu kulit model oxford warna cokelat ukuran anak kecil, dilengkapi kaos kaki belang hitam dan putih yang kelihatan karena overall yang ngatung. Anak ini, pipinya boleh kita sebut tembem, dihias hidung bulat yang mungil juga bibir yang merah jambu. Sambil membawa sebuah tas selempang kecil bahan kulit berhias sebuah enamel pin berbentuk matahari, dia dilahirkan tepat malam ini oleh Malam, dan dengan resmi diberi nama : Perasaan.

Perasaan, maksudku anak itu, yang bernama Perasaan, malam itu lahir di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, dari hiruk-pikuk kehidupan manusia yang samar-samar. Perasaan lahir di puncak sebuah bukit yang tenang, tidak banyak tingkah, dan masih hijau tidak gundul. Kelahirannya tidak sepi. Kelahirannya dihadiri oleh berbagai makhluk yang semuanya adalah baik. Kalian bisa lihat sendiri, di sana ada Ayah Rusa dengan tanduknya yang bercabang bersama istrinya, si Ibu Rusa, juga dua ekor anaknya yang sekeluarga sama-sama mengenakan sweater hangat rajutan bahan kain wool. Di sana ada sekitar tujuh puluh kelinci dari Tibet yang semuanya memakai jaket dan penghangat telinga berbagai warna yang cerah. Di sana ada macam-macam predator seperti Singa, Macan, Harimau, Serigala, Beruang. Semua predator itu duduk di sekitar sambil tersenyum hingga terlihat taring di wajahnya, dan kompak semua menggunakan kacamata hitam sambil memegang aneka macam bunga. Di sana ada Semut, Belalang, Lebah, Nyamuk, Kumbang, Kepik, Kunang-kunang. Di sana ada Elang, Burung Hantu, Kolibri, Merak, Kakaktua, Rajawali, Garuda, Ayam Hutan, Ayam Kampung, Ayam Negeri, Ayam Luar Negeri, dan unggas-unggas lainnya. Semuanya hadir dengan gaya berpakaian masing-masing yang lucu dan berwarna lagi merdeka. Topi, syal, jaket, kacamata, kalung, sandal, sepatu, dan lainnya. Bahkan Tuan Berang-berang hadir lengkap dengan baju koko dan sarung yang diselempangkan seperti bapak hansip kalau sedang ronda. Sayang, kawan-kawan ikan dari laut tidak bisa hadir karena katanya susah bernafas dan tidak masuk akal. Tapi tidak apa.

Di sekitar kerumunan hewan-hewan yang kelihatannya berbahagia, ikut meramaikan juga kawan-kawan tumbuhan yang tinggi-tinggi menjulang. Ada tuan-tuan dan nyonya-nyonya Pinus yang berbaris rapat-rapat. Di dekat kerumunan predator ada juga sekumpulan Pohon-pohon Karet yang sudah dewasa, sudah pandai betul memilah mana yang baik dan buruk. Di seberangnya berkumpul Pohon-pohon Karet yang jauh lebih muda, membuat kawan-kawan Pohon Ek di sebelahnya jadi berpikir bahwa ada kesenjangan sosial yang terjadi Antara generasi tua dan muda di keluarga besar pohon karet, meski semuanya tampak bahagia.

Keramaian malam itu rupanya tidak hanya diikuti oleh hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang terhormat. Di atas bukit, tapi tidak berpijak, rupanya telah ramai oleh aneka hadirin yang sudah jauh-jauh dating dari angkasa raya. Ada Awan-awan putih seumpama kapas yang berhias topi kerucut seperti di acara ulang tahun. Ada Bulan yang, subhanallah, terang sekali, beliau malam ini hadir dengan kacamata hitam, yang saat ditanya kenapa memakainya oleh Jupiter, menjawab karena silau oleh Matahari yang ikut meramaikan suasana di sebelah ─ tentu saja ─ Merkurius, yang di sebelah Venus, yang di sebelah Bumi, yang di sebelah Mars, yang di sebelah Jupiter si Bongsor, yang di sebelah Saturnus yang memakai hulahop di pinggang, yang di sebelah Uranus, yang di sebelah Neptunus, yang di sebelah Pluto yang oleh beberapa manusia sudah tidak dianggap tapi masih sudi dating dan meramaikan suasana. Selebihnya, kawan-kawan Meteor dan Asteroid. Selebihnya, juga ada Bintang-bintang yang tidak sedang jatuh demi manusia, mereka berkedip-kedip dan tidak terhitung jumlahnya.

Betapa ramai malam itu oleh berbagai apa saja. Membuat bukit itu seolah menjadi dunia yang berbeda dari yang sudah ada. Membuat semuanya yang hadir menjadi sama, yaitu ajaib. Membuat semuanya yang hadir menjadi sama, yaitu berkumpul. Membuat semuanya yang hadir menjadi sama, yaitu menyambut kelahiran. Membuat semuanya yang hadir menjadi sama, yaitu terbawa. Oleh karena seorang anak, yang bernama : Perasaan.

Thursday, 18 January 2018

HAI, TONJ

Aku mau coba berbicara pada diriku sendiri. Jadi, kumulai saja langsung.

Halo, Markitonj. Tonji. Tonjos. Arif. Atau lainnya.
Ini aku, yang juga adalah kamu setiap hari sejak dulu hingga kini.

Bagaimana kabarmu? Kelihatannya, atau terasanya ya, kamu sedang tidak baik-baik saja hari ini. Aku tahu betul karena keliatannya kau sedang tidak jernih pikir dan rasa, kerjaan desainmu juga terlihat menemui kebuntuan, progresnya sendiri lambat sekali. Payah nih kamu, payah nih aku. Pada dasarnya aku adalah kamu yang juga adalah aku sendiri. Ketika kau bilang kalau kau tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu hari ini, kukira aku juga begitu. Namun biarkan aku coba sedikit membantumu mengurai berbagai permasalahan yang mungkin mengganggu pikir dan rasa yang ada.

Nah, dari mana baiknya kita mulai? Bagaimana kita mulai dengan membuat batasan masalahnya, dalam artian, jangan membahas faktor-faktor yang sepertinya faktor eksternal, kita bicara faktor internal saja, apa yang kau pikir dan rasa. Kalau eksternal bisa-bisa kau menyalahkan orang lain lalu sembunyi di balik pembenaran sepihak. Sepakat ya? Sepakat. Salaman.

Kamu ini mungkin risau, Tonj. Bukan galau ya, udah agak mirip bapak-bapak jangan galau-galau. Tapi kamu risau, bro. Risau karena berbagai perasaan dan kemungkinan masa depan yang tak terbayangkan, atau justru sebenarnya terbayangkan, makanya malah jadi semakin risau. Dan dari apa yang kupetakan dari hari ini, kamu sepertinya dirisaukan oleh sedikitnya dua hal yang mungkin timbul dengan kuat karena kamu melupakan satu hal besar yang sangat esensial. Supaya jelas dan terarah, kita bahas mulai dari dua hal yang merisaukan itu dulu ya.

1. Cinta
Hoeks! Gilagilagilagilaaaa. Sungguh betul terasa sangat menggelikan mengucapkan kata yang satu itu ya karena terlalu syahdu mungkin, halah. Nah. Ya, mau bagaimana ya, sama aku juga buntu, karena sama akulah kamu. Tapi mestilah begini kalau diuraikan secara agak rasional...

Sebenarnya kamu nggak terlalu risau dan khawatir sih tentang cinta karena kamu tahu, kemarin-kemarin kamu sudah coba ngobrol dengan Yang Punya cinta, dan kamu juga sudah punya pemahaman sendiri tentang jawaban Yang Punya cinta ketika kamu coba ngobrol dan bertanya langsung padaNya. Jadi, soal cinta, kamu sebetulnya nggak betul-betul risau, kamu tahu harus apa, kapan, dan di mana. Bagaimana mah, belakangan mungkin. Aku paham betul kamu mestinya cukup bisa berimprovisasi soal bagaimana gimana di lapangan. Jadi skip aja, ya, langsung ke nomor dua!

2. Babarudakan
Nah, ini. Ini yang sepertinya betul-betul merisaukan kamu sampai ngahuleng tarik dan kabetrik. Babarudakan. Babarudakan, pada dasarnya memiliki definisi dan batasan yang cukup luas di kehidupan kamu sejauh ini. Walaupun sebenarnya pergaulanmu nggak seluas siiiii siapa itu? Pacar anaknya si anak singkong, halah ribet. GOFAR HILMAN. Halah gitu aja lupa banget, ah. Iya, begitu, Tonj.

Jadi, entah tadi siang atau sore aku sempat menangkap sebersit kerisauan di pikiranmu yang kira-kira secara telanjang berbunyi, "Bisa jeung barudak nepi ka iraha nya?"

Gimana ya... Aku, atau kamu, kadang suka berpikir, apa memang nggak bisa ya nanti kalau sudah pada berkeluarga, pada punya istri, punya anak, terus masih sering ngacapruk nggak jelas gitu di grup chat atau di media sosial. Apa nanti memang nggak bisa ya, untuk tiba-tiba ngomong sembarangan ingin ke mana, berlagak hayu, berlagak salaman, kemudian langsung benar-benar pergi entah ke mana ke sana ke mari. Apa nanti memang seribet itu ya tanggungjawabnya sehingga kita mesti jadi pada jauh dan berpisah, meski nggak betul-betul dipisah kematian juga, atau belum. Apa nanti kata babarudakan akan benar-benar akan cuma jadi bahan nostalgia ketika kita udah nggak mungkin lagi sama seperti sebelumnya ya, Tonj. Apa nanti kehidupan kita memang benar-benar harus bergulir sampai meninggalkan suasana kehidupan sebelumnya ya. Iya sih, sebetulnya fase-fase seperti begitu kan sudah beberapa kali juga mungkin ya. Tapi kan tetap saja, apa betul mesti begitu? Jangan-jangan selama ini aku atau kamu salah, atau dunia salah. Atau cuma aku dan kamu saja ya, Tonj, yang terlalu banyak merengek. Yang terlalu kekanak-kanakan karena semacam ingin tinggal satu lingkungan dekat bersama babarudakan itu. Yang terlalu cengeng karena semacam sungguh, rasanya babarudakan di masa depan sudah nggak ada lagi yang mungkin menyamai ke-babarudakan yang masih berlaku sampai hari ini. Apa betul itu nanti anak istri semacam nggak bisa sinergis dengan ke-babarudakan. Apa betul yang begini disebut zona nyaman. Kenapa harus keluar dari zona nyaman. Kenapa tidak bisa babarudakan tetap babarudakan yang tidak zona nyaman tapi tetap zona nyaman. Apa betul mesti begitu ya.

Jelas begitulah rupanya kerisauanmu hari ini, Tonj. Aku cuma mebantu mengurainya untuk kamu malam ini, sementara jawabannya tetap ada padamu sendiri sekalipun akulah yang membuat keseluruhan cerita dan narasinya. Karena yang kita bicarakan sudah disepakati adalah permasalahan yang bersifat internal, maka kamu tidak punya kendali penuh terhadap hidup dan pemikiran orang lain di sekitarmu, juga tentang masa depan dan jalan cerita mereka masing-masing, kawanku yang sedang risau

Maka dari itu, perlulah kau ingat kembali wahai, aku : "Selama ini kau memang dibentuk untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang ada di setiap persimpangan." Maka tegaklah wahai wajahku, dan hadapi segala kemungkinan di depanmu dengan mental 'hayu' dan mental 'salaman' yang berapi-api. Karena sungguh, tidak akan ada jawaban kalau kamu nggak maju ke depan, Tonj.

Nah, adapun hal esensial yang kamu tinggalkan dan menyebabkan kamu menemui kerisauan yang memecahkan konsentrasi adalah : "Kau tinggalkan sembahyangmu kemarin. Goblok!"

Nah nah nah. Sudah, ya. Sudah ringan air mukamu sekarang. Maka aku selesai dengan tugasku malam ini.

Dadah, Markitonj!

Sekian :)