Alih-alih menemui skripsi
Bermenung aku bersama Danilla dalam telisik
Yang bicara lewat nada-nada
Kalau didengar akan masuk dari jalan telinga
Lalu naik ke kepala, kemudian turun rasanya di sekitar dada
Rasanya dulu dengar nada-nada yang salah
Yang ternyata pernyataan sesat atau salah
Karena kata menyatakan suatu pemikiran yang menggiring
Bila saja aku tidak bodoh dan pandai memilah yang miring
Bila saja Danilla ada malam itu dalam nada tanpa kata
Nada yang rasanya jauh lebih jujur dan dekat ke dada
Dadaku sendiri,
kepalaku sendiri,
pikiranku sendiri,
kata hatiku sendiri tentu,
tentu aku tidak lari ke sini dan bersedih bermenung
Kemarilah sepeda terbangku
Temani aku menemui sinarnya malam ini
Dalam kegelapan yang kucintai sepanjang masa.
Monday, 29 February 2016
Friday, 29 January 2016
ALANG : SI ANAK MALANG
Pada suatu masa, hiduplah seorang anak laki-laki bersama ayahnya yang miskin. Anak malang tersebut, pada masa itu hidup tanpa ibu, hanya bersama ayahnya, karena oh karena sang ibu sudah lama pergi meninggalkan mereka, untuk pergi ke pasar emnjual singkong keju hasil curian. Sudah dua puluh tujuh koma lima menit si ibu pergi.
Pada masa selanjutnya, yaitu esok harinya. Si anak malang tersebut, yang ialah anak bernama Alang (akronim anak malang), harus pergi ke sekolah menuntut ilmu.
("Woyyy!!! Mana ilmu aing? Kadieukeun!!!" atau "Saudara Ilmu, anda saya tuntut!!")
Alang adalah anak yang rajin. sudah dari pukul 02.00 dini hari ia bangun untuk siap-siap berangkat ke sekolah. Ia mandi (besar, gayungnya....) lalu sahur. Dari jam tiga ia sudah mulai berangkat ke sekolah. Ia pamit pada ayahnya, tapi tidak pada ibunya, karena ibu belum pulang. Dari jualan singkong keju kemarin. Karena Alang anak soleh, ia tetap harus pamit pada bunda, walau tidak secara langsung. Maka ia SMS bundanya itu :
"Mah, Alang otewe skul, ya"
Ibunya membalas SMS Alang :
"Jangan SMS. BBM aja, Lang"
Maka Alang BBM si ibu :
"Mah, Alang otewe skul, ya"
Ibunya membalas BBM dari Alang :
Nitip dahar (makan), Lang. Endog (telur) we. Padang nya"
Maka Alang membalas BBM sang ibu :
"Oke. Love you, Mah <3 p="">3>
Si ibu? BBM Alang hanya di-read.
Alang sedih. Tapi tetap harus sekolah. Iapun keluar rumah, malangnya anak miskin ini. Ia nyalakan sepeda motornya untuk berangkat ke sekolah. Motornya HONDA. HONDA CB 250. Dapat maling di kedai kopi pinggir jalan.
Maka Alang pun melesat di jalanan dini hari yang sepi. Dengan kecepatan rata-rata 140 km/jam Alang mengemudikan motornya sambil berlinang air mata. Bukan karena BBM-nya yang hanya di-read oleh sang ibu. Tapi karena Alang tidak pakai helm. Coba bayangkan, dengan kecepatan rata-rata 140 km/jam, angin akan............ Oke.
Setelah kurang lebih tiga jam setengah Alang memacu motornya, yang artinya sudah sekitar jam 06.30 pagi, Alang masih belum menurunkan kecepatannya yang melesat seperti "ssssshhhaaaaaattttttt!!!!". Dalam deru angin berpacu Alang berseru dengan lantang,
"Sialan!! Sial! Sial!", dan kemudian meningkatkan kecepatan rata-rata motornya menjadi sekitar 141,5 km/jam.
Hmmm....
Setelah tujuh jam berkendara seperti setan kemasukan orang, yang mana artinya sudah jam 10.00 pagi. Yang artinya Alang sangat-sangat-sangat-sangat-sekali lagi dong-sangaatttttt terlambat sampai di sekolah.
BAGAIMANA TIDAK, KAWAN-KAWAN??!!
RUMAH ALANG DI SUKABUMI!!!
SEKOLAH ALANG DI SOLO!!!!!!!!!!
SOLO!!!! MEN!
Tidak! Alang bukan anak yang rajin, kawan-kawan!! Lihat bagaimana ia terlambat ke sekolah! Sungguh bukan contoh yang baik!
Maka apa selanjutnya?
Alang tidak masuk sekolah hari itu, karena tidak boleh masuk sekolah terlambat. Toleransi paling lambat adalah jam 09.55, apalagi jam 10.00!!!!
Akhirnya Alang pun memutuskan untuk nongkrong di luar sekolah, merasa capek setelah tujuh jam berkendara Sukabumi-Solo. Alang nongkrong hingga jam 16.00 sore. Setelah itu baru ia pulang lagi ke Sukabumi, dan baru sampai di rumah jam 23.00 malam.
Itu teralu melelahkan, kawan. Dia butuh tidur. Maka ia tidur selama tiga jam untuk kembali bangun jam 02.00 dan siap-siap untuk pergi ke sekolah. Untuk kemudian berkendara seperti sapi yang kemasukan rudal dan terbawa terbang selama tujuh jam ke sekolah. Untuk kemudian datang terlambat di sekolah. Untuk kemudian nongkrong di warung hingga sore. Untuk kemudian berkendara tujuh jam lagi ke Sukabumi.
Begitulah siklus tersebut berlangsung selama lima tahun ia di SMA di Solo, dua tahun tidak naik kelas.
Lalu untuk apa????????????
Untuk kemudian dia di-Drop Out dari sekolah karena nilainya nol semua.
Lalu, selanjutnya?
Pada tahun monyet, Alang wafat karena kecelakaan lalu lintas. Innalillahi. Dalam sebuah surat kabar tertulis sebagai headline news bahwa tim forensik menyatakan bahwa :
SEORANG PELAJAR MENINGGAL DUNIA KARENA KECELAKAAN.
Kuat dugaan, karena mengemudi dengan kecepatan tinggi dalam keadaan mengantuk karena kurang tidur selama lima tahun.
.
.
.
.
.
.
.
Bodo amat!!!!
TAMAT.
*NB : cerita ini datang, ke benak saya, seketika saja, ketika saya disalip oleh anak sekolah ugal-ugalan yang ngeselin, beungeutnya ngeselin, ga enakeun liatnya.
*NB : cerita ini datang, ke benak saya, seketika saja, ketika saya disalip oleh anak sekolah ugal-ugalan yang ngeselin, beungeutnya ngeselin, ga enakeun liatnya.
WAKTU PPL
Duhai merpati
Aku rindu mereka
Kawan-kawanku
Yang lugu lagi ceria
Yang lucu lagi gila
Yang baik lagi setia
Yang dihujat orang lagi setia
Yang muda lagi berani
Yang jauh lagi dekat
Yang lagi jauh dan membuatku begitu merindu sendu lagi membiru
Tuhanku yang Maha Baik lagi Maha Pengasih Penyayang,
Izinkan aku injak cium Bandungku Sabtu ini
Aku rindu mereka
Kawan-kawanku
Yang lugu lagi ceria
Yang lucu lagi gila
Yang baik lagi setia
Yang dihujat orang lagi setia
Yang muda lagi berani
Yang jauh lagi dekat
Yang lagi jauh dan membuatku begitu merindu sendu lagi membiru
Tuhanku yang Maha Baik lagi Maha Pengasih Penyayang,
Izinkan aku injak cium Bandungku Sabtu ini
Thursday, 7 January 2016
SEBUAH CERITA SENJA
Pada zaman dulu. Dulu sekali sebelum masehi. Saking dulunya, aku sendiri bingung. Hiduplah seorang anak bersama ayahnya di atas sebuah bukit di belahan dunia bagian timur, timurnya barat. Anak tersebut bisa laki-laki, bisa juga perempuan. Maka bertanyalah anak itu kepada ayahnya dengan sedih, pertanyaan yang sama yang ada di benakku,
"Wahai, Ayah. Ke manakah ibuku?"
Dijawab oleh sang ayah, "Itu, ibu di dapur. Sedang memasak."
"Oh," jawab si anak itu.
Maka hiduplah mereka bertiga di atas bukit tersebut, bertiga. Harmoni cinta.
Sebut saja lima belas tahun telah berlalu. Anak itupun sudah tumbuh dewasa. Karena aku bingung membuat ceritanya, mari kita samakan persepsi. Anak itu bernama Angka. Perempuan atau laki-laki ya? Nama lengkapnya, Semangka. Seorang anak muda dengan tubuh bulat dan berwajah ceria, selalu tampak berseri-seri.
Di bukit yang hanya bertiga itu, Angka memiliki seorang sahabat erat yang bernama Ngurub Utnah, seekor burung hantu yang biasa dipanggil Engur. Mereka mulai menjadi sahabat sejak minggu yang lalu. Persahabatan mereka berjalan satu arah komunikasi sampai saat ini, dikarenakan Engur masih belum bisa menguasai bahasa manusia sama sekali. Angka selalu mengutarakan segala keluh kesahnya kepada Engur, dan Engur selalu setia mendengarkan. Kemanapun mereka pergi pasti selalu berdua, Engur selalu bertengger di bahu Angka.
Suatu siang yang cengdem, menceng tapi adem, keduanya sedang asyik bercengkrama di atas sebuah pohon di puncak bukit itu. Menikmati pemandangan ayah Angka yang sedang menikmati pemandangan indah di bawah bukit.
Angka : "Ngur, kamu tahu tidak ayahku sedang apa?"
Engur :
Angka : "Ayah sedang tidak galau."
Engur :
Angka : "Sekarang, kamu tahu aku sedang apa?"
Engur :
Angka : "Aku yang sedang galau, Ngur. Benakku dipenuhi oleh banyak pertanyaan yang mengganjal."
Engur :
Angka : "Aku kasih kamu tahu deh, ya, aku sedang dipenuhi oleh pertanyaan yang semuanya sama, yaitu, "Apa itu cinta?""
Engur : *mengeluarkan kotoran dari bagian belakang tubuhnya
Angka : "Apa maksudmu, Ngur?"
Engur : *memutar kepalanya 180 derajat
Angka : "Hmmm..."
Engur : *mematuki tangkai tempatnya bertengger
Angka : "Aku menjadi sedikit bingung mendengar pendapatmu. Tapi, Ngur..."
Engur : *tuk..tuk..tuktuk......tuktuk..tuk
Angka : "Ah, kau benar juga. Mungkin aku hanya gila, melankolia teralu lama berselimut bersamaku."
Engur : *tiba-tiba saja mengepakkan sayapnya lalu terbang menjauh ke arah bawah bukit
Angka : "ENGUR!!!!!!!!!"
Engur : *terbang makin jauh
Angka : "NITIP TEH GELAAASSSSSSS!!!!!"
Engur : *manuver berputar 360 derajat
Angka : "DUAAAAAAAAAAAAAA, NGURR!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Sejak saat itu, Ngurub Utnah tak pernah kembali lagi ke sisi Semangka. Entah apa yang ada di pikiran Ngurub Utnah pada saat memutuskan untuk meninggalkan sahabat baiknya itu. Hanya satu hal yang bisa kuceritakan, terakhir dari cerita ini. Pada akhir senja itu, di bawah pohon, di atas tanah merahnya, dengan sepotong ranting Semangka menulis sebuah sajak :
[TENTANG CINTA]
[Cinta hanya sebuah tanda tanya
Dan akan tetap menjadi sebuah tanda tanya
Sungguh benar dikata kawanku Ngurub Utnah
"Usah kau bermenung, cinta adalah yang penting kamu bahagia, Semangka, dalam hati."
Maka pada ayah dan ibuku aku kembali.]
Malam itu, turun hujan yang lebat tiada dua. Menyebabkan erosi-erosi kecil di bukit tua.
Sajak curahan hati Semangka pun hilang sudah disapu hujan.
Semangka tertidur makin pulas setelah berkata, "Hujan. Ngeunah sare euy ieu mah."
Sebuah senyum lugu terlukis di antara dua pipinya yang bulat.
Sunday, 3 January 2016
BIAR MENJADI-JADI
Biarlah jika tidak menjadi tampan
Biarlah tidak menjadi kaya meraya
Biarlah hujan dan badai datang bersama
Asal tetap aku menjadi aku
Hingga hanya aku yang jadi menjadi-jadi.
Biarlah tidak menjadi kaya meraya
Biarlah hujan dan badai datang bersama
Asal tetap aku menjadi aku
Hingga hanya aku yang jadi menjadi-jadi.
Saturday, 28 November 2015
BERHENTI BERHARAP (GAWEAN) - SHEILA ADA 7
Aku tak percaya lagiDengan apa yang kau beriAku terdampar disiniTersudut menunggu s***psi
Aku tak percaya lagiAkan guna matahariYang dulu mampu terangiSudut gelap s***psi ini
Aku berhenti berharapDan menunggu datang gelapSampai nanti suatu saatTak ada cinta kudapat
Kenapa ada deritaBila bahagia terciptaKenapa ada sang hitamBila s***psi menyenangkanha... ha...
Reff :
Aku sidang....Sidang tilang....Ku terima... kekalahanku...
Kapan sidang...Bukan tilang...Kusalut kan .. kebijakanmu...
wow..
Kau ajarkan aku MPAKau ajarkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau berikan aku metlitnyaKau berikan aku derita..
Kapan sidang....Bukan tilang....Ku harapkan... kegigihanku...
[female voice]Rebahkan kalbumuLepaskan perlahanKau akan mengertiSemua..
Aku berhenti berharapDan berlari pada terangSampai nanti suatu saatPasti S.Pd kudapat
Aku tak percaya lagiAkan guna matahariYang dulu mampu terangiSudut gelap s***psi ini
Aku berhenti berharapDan menunggu datang gelapSampai nanti suatu saatTak ada cinta kudapat
Kenapa ada deritaBila bahagia terciptaKenapa ada sang hitamBila s***psi menyenangkanha... ha...
Reff :
Aku sidang....Sidang tilang....Ku terima... kekalahanku...
Kapan sidang...Bukan tilang...Kusalut kan .. kebijakanmu...
wow..
Kau ajarkan aku MPAKau ajarkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau berikan aku metlitnyaKau berikan aku derita..
Kapan sidang....Bukan tilang....Ku harapkan... kegigihanku...
[female voice]Rebahkan kalbumuLepaskan perlahanKau akan mengertiSemua..
Aku berhenti berharapDan berlari pada terangSampai nanti suatu saatPasti S.Pd kudapat
Monday, 8 June 2015
COGITANS TRISTITIA
Dan tiada kalam sekuat kalam ilahi. Yang menyayat pilu
setiap manusia. Bahkan yang mengaku tiada punya hati.
Pada kalam yang menerangi, pada manusia celaka sepertiku
yang mencuri dengar kalamNya.
Dan tiada makhluk yang lebih lemah. Adalah manusia yang
menginjak-injak semut padahal tiada punya kuasa.
Merekalah, kitalah, atau akulah saja sendiri.
Yang lupa pada segala, menempa diri dalam jelaga penuh dosa.
Tenggelam dipupuk petaka. Membawa diri pada arti yang celaka.
Segala berkat yang lahir bersama matahari kemarin pagi.
Datang dalam warna ceria pada manusia-manusia. Yang mereka laik atasnya.
Namun untuk aku seorang. Adalah sebesar gunung bayangan yang datang kemarin.
Serupa ketakutan yang menyaru menjadi angin maut. Aku tak melihatnya datang,
aku merasakan tekanannya.
Selanjutnya tentang waktu. Yang memisahkan kita dari yang akan datang,
dengan yang sudah lampau.
Tanpa harus berbicara interpretasi.
Biar malam menggulung waktu untukku.
Subscribe to:
Posts (Atom)