Aku tak percaya lagiDengan apa yang kau beriAku terdampar disiniTersudut menunggu s***psi
Aku tak percaya lagiAkan guna matahariYang dulu mampu terangiSudut gelap s***psi ini
Aku berhenti berharapDan menunggu datang gelapSampai nanti suatu saatTak ada cinta kudapat
Kenapa ada deritaBila bahagia terciptaKenapa ada sang hitamBila s***psi menyenangkanha... ha...
Reff :
Aku sidang....Sidang tilang....Ku terima... kekalahanku...
Kapan sidang...Bukan tilang...Kusalut kan .. kebijakanmu...
wow..
Kau ajarkan aku MPAKau ajarkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau berikan aku metlitnyaKau berikan aku derita..
Kapan sidang....Bukan tilang....Ku harapkan... kegigihanku...
[female voice]Rebahkan kalbumuLepaskan perlahanKau akan mengertiSemua..
Aku berhenti berharapDan berlari pada terangSampai nanti suatu saatPasti S.Pd kudapat
Saturday, 28 November 2015
Monday, 8 June 2015
COGITANS TRISTITIA
Dan tiada kalam sekuat kalam ilahi. Yang menyayat pilu
setiap manusia. Bahkan yang mengaku tiada punya hati.
Pada kalam yang menerangi, pada manusia celaka sepertiku
yang mencuri dengar kalamNya.
Dan tiada makhluk yang lebih lemah. Adalah manusia yang
menginjak-injak semut padahal tiada punya kuasa.
Merekalah, kitalah, atau akulah saja sendiri.
Yang lupa pada segala, menempa diri dalam jelaga penuh dosa.
Tenggelam dipupuk petaka. Membawa diri pada arti yang celaka.
Segala berkat yang lahir bersama matahari kemarin pagi.
Datang dalam warna ceria pada manusia-manusia. Yang mereka laik atasnya.
Namun untuk aku seorang. Adalah sebesar gunung bayangan yang datang kemarin.
Serupa ketakutan yang menyaru menjadi angin maut. Aku tak melihatnya datang,
aku merasakan tekanannya.
Selanjutnya tentang waktu. Yang memisahkan kita dari yang akan datang,
dengan yang sudah lampau.
Tanpa harus berbicara interpretasi.
Biar malam menggulung waktu untukku.
Thursday, 30 October 2014
MAKSUD BENCANA
Dan, kutemukan aku, siang ini duduk di depan sebuah pohon besar. Banyak orang di sekitarnya. Larut dalam kemasing-masingan dunianya. Padahal duniaku dan mereka, satu.
Ada ibu yang berdua dengan anaknya.
Ada cinta yang bermanis berdua.
Ada beberapa berkumpulan dengan kawanannya.
Ada kesendirian yang bermadu dengan bacaannya.
Tidaklah kami bersama, tidaklah kami saling mengenal, lalu apa yang bisa menyatukan kami?
Adalah musuh bersama.
Maka.
Beri kami bencana.
SENDIRIAN
Sendirian, semudah kontemplasi di kegelapan yang terang
Sendirian, sesulit berdiri sepi di hiruk pikuk keramaian
Sendirian, semudah kata rindu lalu berkata ingin pulang
Sendirian, serumit cinta yang bertikai dalam peraduan
Sendirian, semudah bui menerima dosa di pengasingan
Sendirian, serumit rasa yang mesti peka untuk larut di penjiwaan
Sendirian, lalu sesederhana mereka yang sendiri teralu ingin berduaan
Sendirian, sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, mestikah berduaan?
Sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, siapkah berduaan?
Sendirian, sesulit berdiri sepi di hiruk pikuk keramaian
Sendirian, semudah kata rindu lalu berkata ingin pulang
Sendirian, serumit cinta yang bertikai dalam peraduan
Sendirian, semudah bui menerima dosa di pengasingan
Sendirian, serumit rasa yang mesti peka untuk larut di penjiwaan
Sendirian, lalu sesederhana mereka yang sendiri teralu ingin berduaan
Sendirian, sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, mestikah berduaan?
Sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, siapkah berduaan?
Friday, 19 September 2014
GELISAH KOTA I
Pada aspal jalan yang berair di horison
Pada ilusinya yang menguap
Kita boleh bercermin
Aku lihat aku saja
Kulihat aku memotong
Kulihat aku meraung
Kulihat aku memacu waktu
Kulihat aku menggerutu mencaci
Kulihat aku mengumpat
Kulihat aku bermasam wajah
Kulihat aku meresahkan
Kulihat aku egois, hina
Kulihat aku menyela
Kulihat aku mencelakakan
Kulihat aku semena kelakuan setan saja
Kulihat aku melanggar
Kulihat aku menabrak
Kulihat orang lebih menabrak
Kulihat orang bersalah, dosa besar, dasar, sialan!
Kulihat manusia lain bejat tak kira hewan di jalanan
Kulihat dunia tak hitam, putih pun
Semesta adalah abu kelabu di atas aspal jalan itu
Etika dan adab diuapkan bersama kumpar polusi
Pembenaran kepentingan dikambing hitamkan
Tidakkah kita picik?
Kita sudah sungguh setaniawi
Kesurupan ego seperti karang
Melupakan tenggang rasa itu dari kejiwaan
Sudikah kita lalu bijaksana?
Bahkan pada remeh yang kita temehkan?
Bahkan hanya berlalu-lintas?
Pada ilusinya yang menguap
Kita boleh bercermin
Aku lihat aku saja
Kulihat aku memotong
Kulihat aku meraung
Kulihat aku memacu waktu
Kulihat aku menggerutu mencaci
Kulihat aku mengumpat
Kulihat aku bermasam wajah
Kulihat aku meresahkan
Kulihat aku egois, hina
Kulihat aku menyela
Kulihat aku mencelakakan
Kulihat aku semena kelakuan setan saja
Kulihat aku melanggar
Kulihat aku menabrak
Kulihat orang lebih menabrak
Kulihat orang bersalah, dosa besar, dasar, sialan!
Kulihat manusia lain bejat tak kira hewan di jalanan
Kulihat dunia tak hitam, putih pun
Semesta adalah abu kelabu di atas aspal jalan itu
Etika dan adab diuapkan bersama kumpar polusi
Pembenaran kepentingan dikambing hitamkan
Tidakkah kita picik?
Kita sudah sungguh setaniawi
Kesurupan ego seperti karang
Melupakan tenggang rasa itu dari kejiwaan
Sudikah kita lalu bijaksana?
Bahkan pada remeh yang kita temehkan?
Bahkan hanya berlalu-lintas?
TAK HIDUP TANPA JIWA
Malam tak gelap tanpa gelap
Pagi tak terang tanpa cahaya
Sore tak jingga tanpa senja
Sakit tak sakit tanpa luka
Senang tak senang tanpa suka
Sedih tak sedih tanpa duka
Hidup tak hidup tanpa jiwa
Kata tak hidup tanpa jiwa
Cinta tak hidup tanpa jiwa
Karya tak hidup tanpa jiwa
Sandiwara tak menghidupkan apapun
Jiwa berikan kehidupan
Jiwa
Usah kita hidupkan satu yang mati
Usah kita hidupkan satu yang hidup, sungguh ia hidup
Usapkan jiwamu mengelus
Akan hidup satu darimu
Pagi tak terang tanpa cahaya
Sore tak jingga tanpa senja
Sakit tak sakit tanpa luka
Senang tak senang tanpa suka
Sedih tak sedih tanpa duka
Hidup tak hidup tanpa jiwa
Kata tak hidup tanpa jiwa
Cinta tak hidup tanpa jiwa
Karya tak hidup tanpa jiwa
Sandiwara tak menghidupkan apapun
Jiwa berikan kehidupan
Jiwa
Usah kita hidupkan satu yang mati
Usah kita hidupkan satu yang hidup, sungguh ia hidup
Usapkan jiwamu mengelus
Akan hidup satu darimu
Sunday, 27 July 2014
AKU DUA RAGA
Tahukah engkau
Bahwa sungguh aku ada dua
Pada setiap siang dan setiap malam
Ketika aku dan kau berjalan bersama
Pada setiap jalan dan setiap persimpangan
Ketika aku berjalan di sebelahmu
Ketika aku berjalan di belakangmu
Atau di depanmu
Engkau berjalan bersamaku,
Yang berusaha terlihat tetap tegak
Yang berusaha bersikap tenang
Yang bertingkah angkuh pada orang lain di sekitar kita
Semata kulakukan,
Agar kau aman dalam lingkaran proteksiku
Agar pejantan lain tahu bahwa engkau adalah aku
Agar kau tidak malu kalau-kalau aku bertingkah
Tahukah engkau
Bahwa sungguh aku ada dua
Aku punya dua raga,
Yang berjalan bersamamu penuh pencitraan
Yang secara kasat terjangkau panca indera
Yang terluka dan berdarah oleh tebasan
Yang terikat oleh ruang dan waktu
Yang terkubur tertutupi tanah merah
Ya, kita berjalan bertiga
Lalu, di manakah aku yang satunya?
Adalah aku,
Yang tak tersentuh oleh kulit
Yang tak terlihat oleh mata
Yang tak terasa oleh lidah
Yang tak tercium oleh hidung
Yang tak terdengar oleh telinga
Adalah aku,
Yang selalu tersenyum dan tertawa
Yang bertingkah berlebihan
Yang selalu menari-nari di sekelilingmu ketika berjalan
Yang mengobatimu dari kemurungan, kesedihan
Yang tidak pergi ke mana pun
Adalah aku,
Yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu
Yang tak hilang darimu, bahkan ketika aku tinggalkan dunia.
Selamat tersenyum :)
-Arif Adiansyah, Muhammad.
Bahwa sungguh aku ada dua
Pada setiap siang dan setiap malam
Ketika aku dan kau berjalan bersama
Pada setiap jalan dan setiap persimpangan
Ketika aku berjalan di sebelahmu
Ketika aku berjalan di belakangmu
Atau di depanmu
Engkau berjalan bersamaku,
Yang berusaha terlihat tetap tegak
Yang berusaha bersikap tenang
Yang bertingkah angkuh pada orang lain di sekitar kita
Semata kulakukan,
Agar kau aman dalam lingkaran proteksiku
Agar pejantan lain tahu bahwa engkau adalah aku
Agar kau tidak malu kalau-kalau aku bertingkah
Tahukah engkau
Bahwa sungguh aku ada dua
Aku punya dua raga,
Yang berjalan bersamamu penuh pencitraan
Yang secara kasat terjangkau panca indera
Yang terluka dan berdarah oleh tebasan
Yang terikat oleh ruang dan waktu
Yang terkubur tertutupi tanah merah
Ya, kita berjalan bertiga
Lalu, di manakah aku yang satunya?
Adalah aku,
Yang tak tersentuh oleh kulit
Yang tak terlihat oleh mata
Yang tak terasa oleh lidah
Yang tak tercium oleh hidung
Yang tak terdengar oleh telinga
Adalah aku,
Yang selalu tersenyum dan tertawa
Yang bertingkah berlebihan
Yang selalu menari-nari di sekelilingmu ketika berjalan
Yang mengobatimu dari kemurungan, kesedihan
Yang tidak pergi ke mana pun
Adalah aku,
Yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu
Yang tak hilang darimu, bahkan ketika aku tinggalkan dunia.
Selamat tersenyum :)
-Arif Adiansyah, Muhammad.
Subscribe to:
Posts (Atom)