Monday, 4 December 2017

MARBANJO

Kalau kamu tahu, di tepi sana, di salah satu belahan Jawa, ada sebuah Kampung Asin. Kampung kecil yang dihuni oleh mayoritas  nelayan dan juga pengolahan ikan asin. Sebuah kampung kecil yang orang-orang dan rumah-rumah dan jalan-jalan dan angin-anginnya pada bau oleh amis ikan. Termasuk ikan asin.

Kalau kamu kenal, di kamoung sana, itu dia seorang anak laki yang baru saja remaja. Mestinya hari ini dia kelas dua di sekolah menengah pertama, namun jadi sekolah menengah pailit, karena dia sudah tidak. Sudah tidak lagi sekolah. Kalau ada tanya kenapa, "Kepengen aku sendiri kok berhenti. Mau cari uang saja untuk jajan, sekalian berbantu orangtua," begitu jawabnya.

Kalau kamu kenal, dialah itu orang yang punya nama Atok. Aslinya bernama Rudiyanto, tapi dibuat kecil jadi Atok oleh ibunya biar mudah. Atok, katanya, seingat dia, umurnya sekarang mungkin empat belas atau lima belas. Berkakak empat dan beradik dua. Sementara ayahnya telah tiada, Atok bersama ibu dan dua abangnya menjalankan usaha ikan asin yang diterima dari nelayan. Diolahnya itu ikan-ikan biar mati dan jadi ikan asin, lalu dijual ke luar kampung. Ke pasar ikan.

Kalau kamu kenal Atok lebih dalam, maka akhirnya kamu akan tahu kalau Atpk dan keluarganya ternyata berasal dari Indramayu dulunya. "Tapi aku dan keluarga sudah tak pernah lagi pulang ke Indramayu. Keluarga di kampung sana sudah habis," itu maksudnya habis karena beberapa sudah memang habis jatah hidupnya, selebihnya habis karena semua pada pergi jauh dari kampung dengan niat mulia ingin mencari sukses ke ibu kota, atau ke bapak kota.

Selepas subuh, Atok dan abangnya yang muda bertugas memakai sandal untuk sudi pergi menyambut nelayan favorti mereka. Jadi favorit karena dialah pemasok asin untuk perserikatan maha akbar pengolahan ikan asin keluarga mereka. Nah, itu dia, Bang Naim si pelaut, yang sedang asik merokok kretek sudah menunggu Atok dan abangnya -yang bernama Robin, aslinya Robiyanto. Mengepul-ngepulkan asap rokok Bang Naim sambil telanjang dada, bersama beberapa pelaut lain yang juga membawa tangkapannya dalam pesiar-pesiar mini.

Tapi sebelum sampai dekat ke Bang Naim, si Atok yang usil mengajak abangnya untuk ikut usil bersamanya. Melancarkan sebuah misi kecil tolol yang buang waktu, tapi Atok suka, "Supaya tidak bosan hidup rutin begini teruss! Variasi sedikit dongg!"

"Ah, gila kau, Tok. Ngapain sih? Kau sajalah! Aku tunggu dekat kerat-kerat itu sampai kau usai. Masih ngantuk begini. Mau merokok saja," begitu Robin kalau diajak usil oleh Atok.

"Ah, pengecut kau, Bang! Hahaha," sambil lari Atok meledek.

"Kau yang sinting!" sambil melempar Atok dengan angin lalu nyengir kuda geleng-geleng.

Nah, lihat itu Atok yang katanya sinting. Belum genap jam lima pagi tapi dia memutar sedikit mengitari jalur ke perahu Bang Naim yang tertambat. Turun masuk ke dalam air di tepian dermaga kampung, menyelam di bawah permukaan dan perlahan mendatangi perahu Bang Naim si pelaut dari arah belakang. Dengan beberapa helai rumput mati sseolah rambut panjang tergerai berkilau indah di kepalanya, Atok mulai muncul perlahan dan bertengger ketiak ke bibir perahu Bang Naim seraya berucap manja seolah duyung padahal banci kaleng :

"Bwaaank, minta asin, Bwank..."

Bang Naim menoleh dan langsung terperanjat serta merta sampai berguncang perahunya, hampir terjengkang dari duduknya pula. "Wualaahh! Jiancuuuk! Dasar dedemit sialan! Ada saja ulahmu ini, ah, Tok!" sambil melempar Atok dengan rokoknya tapi tidak kena.

"Hahaha. Katanya pelaut, tapi mosok takut sama putri duyung!"

"Mana ada putri duyung macam kamu ini, bahkan lebih jelek dari banci-banci di Taman Ria. Haha. Kurang ajar betul!"

Robin yang ikut melihat terkekeh-kekeh sambil menghampiri juga, "Haha. Loh, Bang Naim, sekarang tangkap putri duyung juga?"

"Sinting adikmu ini, Bin, jual sajalah dia, haha."

"Hahaha," tertawa saja begitu mereka.

Masing-masing Atok dan Robin akhirnya pulang mengangkut sekarung ikan hasil Bang Naim berlayar, bedanya, Atok pulang dengan badan yang basah lagi asin. Ikan-ikan itu kemudian dibawa ke 'workshop' ikan asin mereka yang telah ditunggui Bang Rubi dan Mbok Nani sang ibu. Dibersihkannya isi perut ikan-ikan biar pada mati dan dibelek juga. Lalu semua ikan yang sudah, dimasukkan ke dalam sebuah bak besar berisi air yang kemudian dicampuri garam yang kelewatan. Diaduknya bak itu bergantian selama kurang lebih dua jam lamanya, katanya supaya asinnya meresap sampai ke daging. Meski seumur hidupnya ikan-ikan itu di air asin. Selepas dua jam direndam, akhirnya ikan-ikan asin itu dijemur di bawah matahari panas selama dua hari, kurang lebih, sebelum akhirnya dijual ke pasar ikan, dibeli oleh ibumu, lalu kamu makan bersama nasi dan lainnya.

Tak banyak sebetulnya Atok dapat dari ia berhenti sekolah begitu, lebih kurang cuma sekitar sepuluh ribu satu harinya, tapi buat Atok cukup. Sekitaran pukul satu atau dua, biasanya mereka selesai hari itu, kemudian pulang ke rumah untuk pada sama-sama santap makan siang.

"Mbok, Atok mau main dulu, ya?"

"Sama siapa, Tok? Sama Banjo?" tanya simbok. Sebenarnya itu pertanyaan retoris simbok saja karena kalau kamu juga tahu, seperti sombok yang juga tahu, bahwa Atok pasti main dengan si Banjo itu, sobatnya si Atok semenjak kecil. Banjo itu bukanlah banjo yang alat musik. Banjo yang ini adalah anak baru gede, sama seperti si Atok juga. Yang sudah tidak lagi sekolah, seperti si Atok yang juga. Tapi berhenti terpaksa karena ayahnya yang almarhum tiga tahun lalu tak lagi bisa membiayai sekolahmya. Maka terpaksalah Banjo berhenti sekolah dan jadi ikut bersama pamannya mencari kerang hijau di laut. Karena dia anak pertama di keluarganya.

"Iya, Mbok. Biasa, sama Marbanjo yang hitam seperti cukil nasi kita itu, hehe."

"Hush! Jangan gitu kamu, kayak kamu nggak hitam saja."

"Aku hitam, Mbok. Tapi hitam seperti karang di lautan. Kokoh dihantam dan disegani. Hehe."

"Halah, ngawur, ah. Ngeles aja seperti bajaj di Jakarta. Mau main ke mana, Tok?"

"Ke Ostraliya, Mbok, dekat kok," sembarangan Atok.

"He? Ostarliya? Di mana itu? Ngawur, ah!"

"Haha. Iya, Mbok. Mau ke Ostraliya, nyalon jadi presiden nggantiin Kaka Slank. Aku pergi ya, Mbok," pamit dia sambil mencium tangan mboknya yang tipis.

"Iya, hati-hati. Pulang sebelum malam ya!" teriak simbok pada anak lakinya yang sudah loncat keluar, ke jalanan Kampung Asin yang bau ikan.

Atok pergi ke Kampung Hijau untuk menjemput si Banjo di rumahnya karena tidak punya handphone. Adalah sebuah kampung kecil juga di sebelah Kampung Asin. Menjemput Banjo yang juga baru saja pulang mencari kerang di lautan yang berbuah lima belas ribuan rupiah. Keduanya lalu membeli beberapa batang rokok ketengan dan main rental playstation di warung yang jual rokok keparat itu juga. Main playstation sampai pukul setengah empat sore.

Setelah merasa puas, mereka lantas pergi menuju tepi laut Kampung Hijau. Untuk bertelanjang dada lalu menceburkan diri di tepian laut yang cukup tenang. Di perairan yang tak bersih karena tak jarang ada sampah dan juga lainnya, namu mereka cukup senang. Itu saja. Melakukan aneka gaya salto dari atas perahu-perahu yang ditambat. Beradu kontes 'siapa paling lama dalam air.' Beradu cepat ke sana dan kemari berenang. Lalu lagi, aneka salto dipertunjukkan.

Di ujung petang, Atok dan Banjo biasa duduk di dahan-dahan sebuah pohon rindang sambil menikmati matahari senja. Untuk sekedar obral-obrol saja, tukar cerita ini itu, dan tentu untuk beberapa batang rokok yang tersisa. Menutup hari yang terasa sama sepanjang tahun dan mungkin selamanya.

"Tok...," itu suara Banjo kalau kamu belum tahu.

"Oy," itu Atok sambil menghembuskan asap rokok.

"Lanjut ceritanya," itu aku, iseng saja menulis ini pada kamu yang membaca. Mari kita kembali ke Atok dan Banjo.

"Aku? Hmm... Jadi, itu, apa namanya, jadi mentri. Tapi yang khusus urusan laut dan pantai sajalah."

"Ha. Ha. Ha." Memang begitu Banjo kalau tertawa, "Ngapain kau mau jadi mentri urus-urus laut dan pantai?"

"Supaya aku bisa bikin rental PS yang lebih bagus! Haha."

"Ha. Ha. Ha."

"Supaya rumah-rumah kita di pantai jadi bagus-bagus dan besar!"

"Jadi makin sempit dong? Ha. Ha. Ha."

"Yang penting bagus, Jo! Haha."

"Terus?"

"Nanti semua sekolah di pantai kubuat gratis, Jo. Lalu gaji orang-orang macam kita kubuat jadi dua batang emas per hari!"

"Wah! Benar, Tok? Ha. Ha. Ha." Banjo bertepuk tangan memanas-manasi Atok yang sedang berapi-api. Sinting. Sungguh sinting!

"Oh, ya tentu benar, Jo! Gak cuma itu. Dua batang emas plus sebungkus rokok gratis!"

"Ha. Ha. Ha."

"Filter! No kretek-kretek lah!!"

"Ha! Ha! Ha! Ha!" Banjo terdengar sangat puas, "Aku diajak kerja sama kamu gak, Tok??"

"Nggak! Jangan, Jo! Kamu orang hebat dan pintar lagi jujur. Orang sepertimu akan kusekolahkan lagi. Ke luar negeri!"

"Ha. Ha. Untuk apa toh, Tok?"

"Untuk nanti sekolah tentang laut, Marbanjo."

"Loh. Buat apa?"

"Buat nanti balik ke sini dan bantu aku mikirin laut. Dari tadi kan aku baru soal yang pantai saja. Padahal aku Menupal. Mentri Urusan Pantai dan Laut! Hahaha."

"Ha. Ha. Ha. Ha. Ha. Sinting!"

"Gila ya? Haha."

"Miring, Tok! Ha. Ha. Ha."

Begitulah Atok dan Banjo sore itu di atas sebuah pohon yang jadi emas ketika disiram senja. Betapa bahagia yang cuma sederhana. Jauh sangat lebih sederhana dibanding 'bahagia itu sederhana' orang-orang kota millenia yang jauh dilengkapi, dipenuhi, dilebihkan dari cukup, oleh berbagai macam ini dan itu, tapi masih juga berkeluh tentang ini dan itu. Tapi sungguh, kebahagiaan, pada dasarnya bersifat relatif ukurannya, begitu juga dengan ujian, yang sama, dalam satuan ukurannya bersifat relatif. Dan sungguh, sama seperti kebahagiaan, ujian dan kesedihan pun akan datang mengambil jatah perannya. Bahkan terkadang terasa berat, karena seringkali juga datang, langsung menggantikan kebahagiaan yang tengah ada. Sama persis seperti hari ini. Saat genap sudah empat hari Atok tak juga datang ke Kampung Hijau, ke rumah Banjo. Ke muka Banjo yang menunggu karibnya datang sepulang kerja seperti hari-hari yang biasa. Melainkan abangnya, si Robin, yang datang dengan raut duka, juga kabar duka. Tentang Atok kawan karibnya yang telah tinggal nama. Dibuat hilang tak bernyawa. Membuat hilang semua tawa.

Menurut cerita, Atok meninggal di jalan pulang malam itu sepulang senja dari bersama Banjo. Tewas dipukuli dua orang pemuda Kampung Asin yang sedang dimabuk. Atok dipalaki uang oleh keduanya, namun Atok melawan, Atok melawan untuk mempertahankan seribu rupiah di kantong celananya. Dua keping logam limaratusan yang mesti pulang bersamanya seperti hari-hari biasanya. Dua keping yang selalu begitu, disisakan untuk masuk ke dalam dua celengan pribadinya. Yang satu bertuliskan : 'Untuk Simbok Haji.' Dan yang satunya : 'Untuk Marbanjo Sekolah Lagi.'

Untuk. Marbanjo. Sekolah. Lagi.

Robin datang memberitahu kabar duka. Juga untuk meberikan celengan yang 'Untuk Marbanjo Sekolah Lagi.' Kemudian Robin pulang, meninggalkan Banjo, yang terduduk lesu di muka pintu, yang meleleh air matanya begitu. Hingga menjelang senja Banjo keluar dari rumahnya, membawa sebuah botol tertutup berisi gulungan kertas. Menuju ke tepi pantai dan matahari senja. Kemudian menggali sebuah lubang di bawah pohon karibnya, lalu mengubur botol tersebut ke dalamnya. Lalu disiraminya gundukan tanah tersebut dengan air mata lara. Duka. Dan nestapa.

-

Surat untukmu,
Atok, sahabat Banjo :

Atok.

Atok. Sahabatku. Mentri urusan pantai dan lautku.
Rupanya Allah lebih sayang padamu, begitu kata simbokku. Aamiin.

Atok. Karibku yang pinter. Yang lebih lama kuat di air.
Rupanya guyonmu soal menyekolahkanku bukan omong kosong. Aku tahu kau tahu aku masih ingin sekolah. Tapi guyonmu bukan cuma omong. Kosong. Oleh karena itu, kawanku sayang, aku bersumpah akan berusaha kembali ke sekolah.

Atok. Atok usil yang berbahagia.
Aku bersyukur dan berterimakasih boleh berkawan dengan yang sepertimu. Sungguh aku merasa senang sekali karenanya. Semoga Atok ada di surga Allah. Aamiin.




Sahabat Atok selalu,

Marbanjo.

-

Wednesday, 29 November 2017

JONG ESE MONOLOG

Ese. Jong Ese. Begitu jawabnya kalau ada orang kasih tanya dia punya nama. Seorang pemuda tanggung dengan setelan yang katanya flamboyan. Yang jika pergi ke mana senangnya memakai kemeja motif bunga-bunga lengan panjang yang digulung sepertiganya. Celananya adalah panjang dari bahan katun yang cutbray modelnya. Rambutnya tanggung sebahu, ikal dibiarkannya tak terikat dan bebas merdeka bersama kulitnya yang sawo matang. Wajahnya biasa saja, berhias serumpun kumis tipis yang lebih tebal dari janggut di ujung dagunya.

Jika berjalan, Ese terlihat sangat santai bersama tangan rampingnya yang berayun-ayung mengiringi langkahnya yang santai. Tak jarang wajahnya juga sambil celingukan ke sana kemari dengan acuh. Sekali waktu jika hari terasa lebih dingin, dilapisnya kemeja flamboyan itu dengan jaket jeans yang sedikit lusuh. Tampak dari belakang jaket itu berhias lukisan tangannya dari cat akrilik dengan sebuah tulisan : "DARI MANA HENDAK KE MANA."

Di hari-hari sendu, Ese lebih senang menyendiri. Di bawah sebuah pohon kersen favoritnya yang rasanya sangat jarang berbuah. Hanya duduk saja begitu sampai biru, sampai beku dipeluk perasaan sendu. Bersama awan-awan sore yang bergerak pelan ditiupi angin dari timur. Seperti sore ini, seperti sekarang ini, bersama jaket pilihannya.

Lama sudah rasanya Ese melamun kosong di bawah pohon itu. Rupa-rupanya kekosongan lamunan Ese telah membawa seorang Ese lainnya yang tiba-tiba mengetuk pikirannya. Seorang Ese yang sama persis seperti Ese yang selama ini menjadi dirinya. Hingga Ese merasa perlu berkata padanya, "Ada perlu apa kemari? Aku tahu siapa Engkau."

"Entahlah. Cuma datang saja. Kulihat Kau melamun sendiri. Siapa tahu kau butuh teman untuk sendiri."

"Aku tak merasa butuh teman untuk sendiri. Itu pasti. Tapi bolehlah kau duduk di sini kalau mau kasih aku kawan," balas Ese santai.

Cukup lama sebetulnya Ese cuma diam dan duduk sambil tetap melamun begitu. Lalu, "Apa yang kau lamunkan, Ese? Ceritalah sedikit itu Kau punya pikiran."

"Begini, Ese," jawab Ese, "Pada dasarnya pikiranku sungguh ada di semua mana yang bisa ada. Pada serangkaian peristiwa lampau yang muncul. Pada peristiwa yang mungkin akan ada selanjutnya. Pada itu Kau boleh lihat ujung daun di atasmu. Pada itu burung merpati yang belum pernah sama sekali lewat pada kita. Pada itu batu kecil di ujung jalan. Pada itu langit yang memang begitu warnanya. Pada itu mereka yang punya negara kita. Pada itu bunga bakung yang mekar dalam sebuah lagu. Pada itu ibu penjual ketan yang entah kenapa memilih ketan untuk dijual. Pada itu asap kendaraan yang masuk ke dalam knalpot jika waktu sudi mundur ke belakang, yang secara praktis jika kau undur waktu makanmu justru tetap saja maju ke depan. Pada itu mereka orang-orang yang tidak kukenal. Pada itu mereka orang-orang yang ternyata aku sudah kenal. Pada itu dirimu, Ese, yang juga adalah aku. Pada itu aku yang kini melamunku di bawah pohon kersen."

"Wah, wah. Kau ini betul lah seorang pria dengan pikiran yang tidak praktis ya. He. He."

"Ya begitulah jika kau berpendapat demikian. Begitulah aku di matamu jadinya," Ese menanggapi.

Lama lagi lalu Ese kembali melamun merasai sore yang sudah semakin. Daun-daun pohon kersen melambai laun-laun dikutip angin pelan-pelan.

"Aku tak  pernah betul bisa menyusun semuanya," gumam Ese tetiba.

"He? Bagaimana?"

"Iya. Maksudku, aku tak pernah betul-betul bisa menyusun demikian pikiranku secara rapi dan pasti. Jadi ya begitu," Ese melengkapi penjelasannya.

"Ooh. Hmmmmm... Ah, sudahlah, Bung. Biar saja begitu. Mungkin bagus jadinya nanti."

Mengernyit dahi Ese, "He? Bagus bagaimana? Jadi apa maksudmu, Ese?"

"Yaa tak tahu pun aku jadi apa itu nanti. Tapi mungkin bagus menurutku Kau kacau begitu. Siapa bisa sangka mungkin itu kacau bisa jadi ini, atau jadi itu, jadi hasil. Mungkin juga ada bagus itu Tuhan kasih Engkau punya kacau. Atau mungkin sebenarnya itu bukan kacau, melainkan lainnya."

Bermenung Ese mendengarnya. Bermenung Ese karenanya. Ssementara sore tak terasa sudah saja semakin. Itu kita tahu karena hari sudah mau jadi gelap, tapi sedang mandi bumi dan langit oleh emas matahari senja bersama angin yang cinta dunia. Ah, sudah cukup dan waktunya mesti pulang ke rumah buat Jong Ese, sehingga berkatalah dia orang, "Boleh jadi Engkau betul, Ese, dan semoga saja betul."

"Ese. Hari sudah masuk petang. Aku mau ada jalan pulang. Kau mau ikut atau di sini saja?" lanjut Ese.

"Pulanglah, kawanku sayang. aku mau diam di sini melanjutkan Engkau."

"Bersama siapa pula? Sendiri juga?"

"Bersama Eleanor Rigby-nya The Beatles. Kau pulanglah."

"Salam untuk mereka ya, Ese. Untukmu juga, terimakasih sudah kasih aku banyak tadi. Semoga jumpa lagi kita di sini."

Dan oh, lihatlah juga olehmu itu senja. Sinar-sinarnya yang menembusi sebahagian awan bergumpal. Pohon kersennya yang melambai-lambai kasih kita sampai jumpa. Batu kecilnya yang diam di ujung jalan. Burung merpati yang tetiba lewat melengkung bersama seekor merpati lainnya. Mekarnya bunga bakung di lagu yang telah lama berseminya. Ketan sisa yang dibawa pulang oleh ibu yang menjualnya. Juga asap kendaraan lalu lalang yang tentu asapnya keluar dari knalpot di pantatnya. Juga peristiwa-peristiwa lampau yang sesekali sering juga ingin ditengok. Tentu juga peristiwa-peristiwa selanjutnya yang satu persatu sudah siap menyambut Jong Ese, menyambutmu, menyambutku, menyambut kita, saat kita sudah siap bertemu.

Dan oh, lihatlah olehmu juga, itu Jong Ese, itu kamu, itu aku, itu kita semua. Berjalan ramai-ramai dan bersamaan di atas muka sebuah bola raksasa di bawah kita yang karenanya jadi berputar seperti akrobat dalam pertunjukan sirkus yang mulia. Menuju pulang. Menuju ke sampai jumpa.




28 November, 2017.

SISA HUJAN DAN CAHAYA

Maghrib menjelang. Sore itu, selain gelap, faktanya hujan juga ikut datang bersamaan. Turun bersama matahari memberi salam penyambutan datangnya perjamuan malam. Lamat-lamat kudengar suara rintik-rintik air hujan yang menenangkan. Namun, toh, setiapmanusia dihinggapi keresahannya masing-masing. Dan punyaku, selepas maghrib mengajakku untuk keluar dari rumah, menuju Bandung dan jalan-jalan basahnya.

Di depan pagar rumah rupanya jalan kecil di depan rumahku  betul basah. Berkilapan cahaya rumah-rumah yang dipendari aspal basah. Hawanya sejuk lagi damai. Namun setiap manusia dihinggapi keresahannya masing-masing, toh? Kueratkan retsleting jaket tebalku supaya aku segera berangkat. Ke jalan-jalan gang kecil. Ke jalan-jalan perumahan yang juga basah. Ke jalan-jalan kompleks perumahan tentara yang juga basah. Ke jalan Setiabudi yang panjang menurun yang sama, juga basah. Menuju jalan Cemara yang juga dibuat basah.

Itu karena hari sudah malam dan hari sudah gelap. Membuat lampu-lampu jalan pada menyala. Membuat lampu-lampu rumah pada menyala. Membuat lampu-lampu taman pada menyala. Membuat lampu-lampu kendaraan juga pada semua menyala. Membuat semuanya jadi pada terbias di muka jalan-jalan yang basah. Memantul-mantul ringan pada air-air gerimis kecil yang masih rindu pada bumi. Membuat sebuah fenomena jingga yang adalah sebuah kenyataan.

Fenomena dan kenyataan.

Kenyataan bahwa rupanya malam ini jadi hajat akbar seluruh laron-laron yang datang entah dari mana. Terbang ke sana juga kemari ke cahaya-cahaya. Cahaya di tiang-tiang lamu jalanan. Cahaya di pasak-pasak lampu taman. Cahaya di perseliweran lampu-lampu kendaraan. Di jalan dan di udara.

Ratusan. Ribuan. Ratusan ribu. Ratus ribuan. Laron-laron ikut meramaikan jalanan. Pada hajatan menyambut tanah basah dan cahaya jalanan. Sayap-sayapnya yang rapuh tak jarang pada tanggal dari tubuh mereka. Melayang-layang tak keruan disapu angin jalanan yang malam. Lalu berserakan juga di muka jalanan basah. Dan semuanya yang bening itu menambah bias cahaya-cahaya yang di mana-mana. Dan rupa-rupanya itu juga kenyataan sejenak yang sudah berhasil menampik keresahan manusia sepanjang perjalanan kecilnya.

Ya Tuhan. Begitulah rupanya hajat besar pesta buana laron-laron yang sederhana. Yang sepertinya pada bahagia oleh karena hujan dan cahaya. Untuk ramai-ramai berdansa sambil terbang liar menuju aneka cahaya. Untuk kemudian tanggal semua sayapnya. Untuk kemudian jatuh dan cuma merayap-rayap di atas lantai-lantai bumi. Untuk kemudian saling berpasangan jantan dan betina. Untuk berbuntutan ke mana dan ke mana. Di bawah sisa-sisa hujan dan aneka cahaya.

Setidaknya begitulah terjemahanku tentang mereka. Dan tak perlulah aku tahu alasan ilmiahnya. Agar aku duduk dan menulis di sini, bercangkir kopi, bersama Sebastian Klinger dan Jurgen Kruse, yang dibawakan berupa Spiegel Im Spiegel.




28 November, 2017.

Sunday, 12 March 2017

SEPI KEBIRI

Malamnya sendu
Malamnya pilu
Malamnya kelu
Malamnya bisu

Malamnya rindu.

Friday, 23 December 2016

SIARAN TENGAH MALAM

Selepas tengah malam menuju pagi
Jangkrik-jangkrik berderik
Angin-angin malam menembus
Detak-detik jam dinding berisik

Kemudian begitulah
Seperti radio khusus tengah malam

Radio favoritku memulai siarannya
Mengantarkanku ke peraduan
Mengupas semua isi dunia dan wicara
Menyisakan senyum-senyum tak bertuan

Radio favorit, jangan berhenti siaran
Menuju pagi, selepas tengah malam.

Sunday, 23 October 2016

BATAS DAN JARAK

batas/ba·tas/ n 1 garis (sisi) yang menjadi perhinggaan suatu bidang (ruang, daerah, dan sebagainya); pemisah antara dua bidang (ruang, daerah, dan sebagainya); sempadan: mana -- kebun ini?; sungai ini menjadi -- Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah; 2 ketentuan yang tidak boleh dilampaui:pembentukan kabinet diberi -- waktu seminggu; tindakan itu dianggap orang telah melampaui -- kekuasaannya; 3 perhinggaan: air sungai itu tidak dalam, hanya sampai -- lutut;berjalan sampai ke -- , berlayar sampai ke pulau, pb segala usaha hendaknya sampai kepada maksudnya;
-- apkir batas waktu suatu material dapat digunakan dengan aman; 

-- cair Tan kandungan air maksimum dalam tanah tempat tanah mulai bersifat, seperti cairan; 
-- elastik Fis batas lenting; 
-- lenting Fis tegangan maksimum yang dapat ditunjang oleh bahan atau bangunan tanpa menderita perubahan bentuk (deformasi) yang tetap (permanen); batas elastik; 
-- pemandangan kaki langit; tepi langit; horizon; 
-- penanggalan internasional Geo garis batas yang letaknya kira-kira bertepatan dengan meridian 180o dari utara ke selatan melalui Samudra Pasifik;


Otak manusia mengetahui sesuatu tentang kata "batas". Berdasarkan pengertian batas yang dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebelumnya, jika disederhanakan, batas akan berkaitan dengan konsep jarak, wilayah, waktu, ruang, pengetahuan, jangkauan, dan lain-lain sebagainya. Pada setiap satuan konsepnya, manusia akan selalu berada dalam suatu titik yang selalu memiliki batas, namun itu juga berarti ada hal-hal lain yang berada di luar batas tersebut.

Batas senantiasa menghasilkan sebuah celah, ruang, interval, atau apapun yang selanjutnya menjadi pemisah antara sesuatu yang ada di dalam batas dengan sesuatu yang ada di luar batas tersebut. Hal ini seringkali menimbulkan sebuah masalah bagi manusia dan seringkali dengan cepat dianggap menjadi suatu masalah besar oleh manusia di muka bumi yang kita cintai sepanjang masa. Menurut saya, fenomena itu terjadi pada persepsi manusia dikarenakan adanya sebuah fenomena lain yang kita sebut sebagai relativitas yang selalu memiliki suatu satuan sendiri yang tidak bisa ditetapkan. Ketika terhambat oleh sebuah batas, umumnya manusia seringkali dengan cepat mengambil kesimpulan dan lupa akan relativitas yang ada, sehingga dengan cepat suatu batas akan dianggap menjadi sebuah masalah yang menimbulkan berbagai kecemasan dan kekhawatiran. Lebih jauh lagi hal tersebut akan menimbulkan perasaan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia dalam menghadapi masalah batas tersebut.

Relativitas sesungguhnya akan memberikan opsi-opsi baru bagi manusia. Memunculkan perbandingan-perbandingan lain yang menghasilkan berbagai macam probabilitas yang memungkinkan manusia justru melampaui batas yang ditemuinya, sehingga baiknya manusia bisa lebih bijak memandang suatu batasan dengan menemukan relativitas-relativitas lain yang memberikan perspektif baru dalam mencari alternatif lain guna melampaui batas atau menyelesaikan sebuah permasalahan yang berkaitan dengan batasan yang ditemuinya.

Berbicara soal jarak. Jarak seringkali dianggap sebagai suatu permasalahan karena membatasi suatu kemampuan atau jangkauan manusia terhadap sesuatu yang ada di luar batas jangkauannya dan hal tersebut membatasi kita dari keinginan kita untuk menjangkau sesuatu yang kita inginkan, sehingga kita seringkali merasa cemas, sedih, dan khawatir atau bahkan putus asa dengan keadaan tersebut. Memang, keadaan tersebut pun seringkali tidak dapat saya pungkiri secara pribadi, namun tentu saja ada baiknya jika kita mencoba mencari lebih banyak pengetahuan yang membawa kita pada sesuatu yang bisa membawa kita relatif lebih dekat kepada batasan jangkauan kita. Sehingga sekalipun dirundung oleh keterbatasan jarak dan waktu secara fisik, setidaknya pengetahuan tersebut akan memberikan kita sedikit banyak penghiburan bagi diri kita sendiri.

Secara fisik, kita memang memiliki banyak sekali keterbatasan khususnya jarak yang tentu saja terjadi karena adanya pernikahan yang sah antara ruang dan waktu, dan kebanyakan selalu begitu. Namun kita tentunya tidak boleh bersedih begitu saja karena hal tersebut dan kemudian menyedihkan keterbatasan yang ada pada diri manusia secara fisik. Di luar kemampuan fisik, nyatanya manusia memiliki kemampuan yang jauh melampaui batasan-batasan fisik yang dimilikinya, yaitu kemampuan berpikir yang dimiliki oleh otak manusia.

Pertama, kemampuan otak manusia memungkinkan kita memiliki sebuah kemampuan yang disebut imajinasi. Kemampuan tersebut memungkinkan kita untuk keluar lebih jauh dari rumah tangga yang telah dijalin oleh ruang dan waktu sejak lama, memungkinkan kita untuk bergerak lebih bebas, memang tidak secara fisik namun secara psikologis tak jarang mampu berdampak positif bahkan relatif lebih jauh dibandingkan pencapaian yang dilakukan secara fisik di beberapa kasus. Berdasarkan sumber yang diperoleh, kemampuan imajinasi manusia berfungsi dalam dua bentuk, yaitu imajinasi sintesis dan imajinasi kreatif. Imajinasi kreatiflah yang memungkinkan pikiran kita yang terbatas berkomunikasi langsung dengan intelegensi tanpa batas. Melalui imjainasi ini pula kita memperoleh firasat, inspirasi, atau ilham. Bahkan lebih jauh lagi, imajinasi kreatif juga memungkinkan kita untuk bisa menyesuaikan diri atau berkomunikasi dengan pikiran dan perasaan sadar dan bawah sadar manusia lainnya.

Kedua, disebutkan dari sumber lain bahwa terdapat beberapa fakta menarik tentang otak dan pikiran manusia yang menyebutkan bahwa kemampuan pikiran kita jauh melebihi dimensi ruang dan waktu itu sendiri, fakta-fakta tersebut di antaranya adalah :
  1. Pikiran manusia terhubung dengan alam semesta, Universal Conciousness/Morphogenetic Field. Singkatnya, menurut beberapa ilmuwan menyatakan bahwa pikiran manusia memiliki hubungan secara tidak sadar dengan alam semesta yang kita tinggali. Kemampuan manusia untuk dapat berhubungan ini disebut oleh seorang psikolog bernama Karl Jung sebagai Universal Conciousness, dan oleh seorang ahli biolog bernama Rupert Sheldrake sebagai Morphogenetic Field. Karena pikiran manusia terhubung dengan alam semesta, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa secara tidak langsung pula pikiran manusia dengan manusia lainnya juga dapat terhubung melalui sesuatu yang disebut medan energi. Saling berhubungannya pikiran manusia ini disebut juga sebagai 'hubungan pikiran' atau 'hubungan batin' (mental connection) yang seringkali terasa lebih kuat oleh mereka yang terikat oleh hubungan darah.
  2. Pikiran manusia saling berinteraksi di alam bawah sadar. Saya rasa hal ini dapat terjadi ketika terjadi interaksi baik secara langsung atau tidak langsung melalui kontak baik secara fisik, visual, ataupun melalui suara.
  3. Pikiran manusia dapat menjelajah di alam semesta. Pada saat-saat tertentu, khususnya pada saat dalam kondisi tidak sadar, dikatakan bahwa pikiran atau kesadaran kita dapat menjelajah ke manapun di alam semesta kita ini, hal ini biasanya sering terjadi di dalam mimpi, di alam bawah sadar manusia. Memang agak sedikit sulit dipahami, namun jika didasari pada fakta pertama dimana dikatakan bahwa pikiran kita dapat terhubung dengan alam semesta dan dengan manusia lainnya.
Berdasarkan sumber yang saya peroleh memang mungkin belum memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga bisa saja fakta-fakyta yang dikemukakan baru merupakan sebuah teori saja. Kendati demikian, rasanya jauh di bawah sana saya pribadi merasakan bahwa teori yang mungkin saja benar tersebut dapat diasumsikan benar secara subjektif berdasarkan pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan teori tersebut semasa kita hidup.

Dengan ditulisnya tulisan singkat ini, saya tidak ada maksud untuk menggurui atau bermaksud mengajarkan apa yang saya peroleh dari sumber yang belum kuat. Akan tetapi, sedikitnya saya berharap bisa memberikan sebuah pandangan lain terhadap apa yang saya bahas kali ini. Selanjutnya, untuk mengikis perasaan-perasaan cemas, khawatir, sedih, dan lainnya yang tercipta karena adanya keterbatasan dan jarak yang nyata, berikut akan saya sampaikan sebuah perbandingan sederhana mengenai jarak.

Mari kita asumsikan bahwa ada dua orang yang terpisah sangat jauh di muka bumi kita tercinta ini. Bumi memiliki keliling total sejauh 40.075 km, sehingga kemungkinan dua orang tersebut berpisah paling jauh adalah dengan jarak setengah keliling bumi, yaitu sejauh 20.037,5 km, itulah jarak maksimal dua orang dapat terpisah. Dengan jarak yang sangat jauh tersebut tentu saja akan terasa sangat berat rasanya bagi kedua orang tersebut sehingga seringkali muncul perasaan cemas, khawatir, sedih, rindu, dan lain sebagainya di antara keduanya tentang masa sekarang dan masa yang akan datang di antara mereka. Namun kita sadar bahwa jauh atau dekat itu relatif, relativitas tersebut berlaku ketika kita menemukan sebuah perbandingan jarak atau batas lainnya yang jauh lebih hebat dan lebih dahsyat, yang justru sebenarnya tersimpan dalam diri masing-masing dua orang yang terpisah tersebut. Contoh kecilnya, bahkan di dalam otak mereka sesungguhnya tersimpan sesuatu yang jauh dan jauh lebih panjang jika dibentangkan, yaitu urat syaraf di otak yang jumlahnya mencapai 14 milyar yang jika dibentangkan akan memiliki panjang sebesar 480.000 km atau 12 kali lebih panjang dari keliling bumi, atau 24 kali lebih panjang dari jarak maksimal kedua orang tersebut terpisah. Dan setiap milimeter dari seluruh 480.000 km syaraf tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk saling terhubung dengan alam semesta, dengan orang yang terpisah darinya. Sehingga untuk mengikis rasa cemas, khawatir, sedih, dan yang lainnya hanya dibutuhkan sedikit kepercayaan antara keduanya. Sama halnya dengan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, Tuhan yang bahkan tak pernah ditemuinya, dan ternyata lebih dekat dari urat nadinya, yang kita butuhkan adalah kepercayaan atau iman.

Maka seandainya saja kita ambil secara random, seorang anak terpisah dari ayah dan ibunya sejauh 14.157 km, yaitu sejauh 2.768 jam perjalanan darat dan laut dilakukan, yang ternyata sejauh 7/20 keliling bumi, yang ternyata sebesar 35% dari keliling bumi, yang ternyata hanya sejauh 0.02949375 dari panjang urat syaraf otak manusia. Dan ya, hanya sedekat itulah rupanya jarak yang tercipta antara sebuah daerah bernama Antapani, Bandung, Indonesia dengan daerah lain yang bernama Herningvej, Aalborg, Denmark.


Sumber :
https://goo.gl/L1HvbM
https://goo.gl/jt76fg
https://goo.gl/DJKhG1
https://goo.gl/W8IqUW
https://goo.gl/XbvMeo

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------




BATAS DAN JARAK














Tak ada yang lebih dekat
Kecuali Tuhan yang melihat seluruh umat













Tak ada yang lebih mampu menempuh jauh
Kecuali doa yang terkirim sembari bersimpuh















Tak ada kekuatan kecil yang lebih niscaya
Kecuali membiarkan diri sedikit lebih percaya














Tak ada yang kuat menahan jarak yang melebar
Kecuali kau kuat untuk sedikit lebih sabar














Hingga tak ada yang lebih bahagia
Kecuali bertemu waktu untuk berjumpa...

Sunday, 28 August 2016

DUNIA AKAN LEBIH MENARIK

Halo.

Selamat hari Minggu sedunia.

Sudah dua minggu, dan akan lebih, aku tidak punya hari libur. Rasanya ini dua minggu paling produktif dalam satu tahun ini, menyelesaikan sebuah tanggung jawab besar yang sudah dipupuk selama enam tahun kurang lebih. Sampai beberapa hari lagi semuanya akan dituntaskan secara legitimate. Mudah-mudahan sampai.

Seperti yang pernah diutarakan oleh saudara Gema, ini adalah betul sebuah perjalanan spiritual. Sebuah perjalanan panjang ---sebagian orang berasumsi teralu panjang--- yang betul-betul memberikan banyak hal : perubahan, pembelajaran, ah, dua itu saja sudah sangat banyak. Akan ada banyak kejutan-kejutan di perjalanan selanjutnya. Siapkah?

Ide-ide serta berbagai macam wacana selalu terlintas dan berkelebat liar di kepalaku. Entah mimpi, harapan, tantangan, keinginan, kegilaan, keisengan, semuanya berseliweran. Terlontar ke sana kemari ibarat kembang api. Halo. Kira-kira yang mana yang harus dikejar. Yang harus diperjuangkan. Yang harus diwujudkan. Sayangnya, aku tidak terbiasa merencanakan sesuatu secara jauh dan panjang. Aku terlalu terbiasa dengan hal-hal teknis yang beradaptasi dengan waktu yang sempit, menanti kejutan-kejutan yang manis dan yang pahit. Atau hanya membungkus suatu ide besar yang gila, tanpa teknis yang detail. Setidaknya aku paham apa yang kulakukan.

Yaah, memang menurut beberapa teman ketika kita berpindah pada fase ini ke fase berikutnya akan menghasilkan beberapa pertanyaan besar tentang masa depan. Biarlah dulu, aku lebih suka berdiam diri dan mencerna sendiri sambil berpikir lama. Biarlah dulu, sementara ini kunikmati dengan syahdu perasaan bahagia ini. Begitu bahagia hingga meledak ke mana-mana. Biarlah dulu, aku hanya ingin duduk bersantai di atas sebuah pohon, disapu angin semilir, disirami terang mentari yang teduh, dihujani dedaunan kecil yang gugur perlahan.

Sekali lagi, selamat hari Minggu sedunia.

Semoga segalanya menjadi lebih menarik, yeah!

:))