Ese. Jong Ese. Begitu jawabnya kalau ada orang kasih tanya dia punya nama. Seorang pemuda tanggung dengan setelan yang katanya flamboyan. Yang jika pergi ke mana senangnya memakai kemeja motif bunga-bunga lengan panjang yang digulung sepertiganya. Celananya adalah panjang dari bahan katun yang cutbray modelnya. Rambutnya tanggung sebahu, ikal dibiarkannya tak terikat dan bebas merdeka bersama kulitnya yang sawo matang. Wajahnya biasa saja, berhias serumpun kumis tipis yang lebih tebal dari janggut di ujung dagunya.
Jika berjalan, Ese terlihat sangat santai bersama tangan rampingnya yang berayun-ayung mengiringi langkahnya yang santai. Tak jarang wajahnya juga sambil celingukan ke sana kemari dengan acuh. Sekali waktu jika hari terasa lebih dingin, dilapisnya kemeja flamboyan itu dengan jaket jeans yang sedikit lusuh. Tampak dari belakang jaket itu berhias lukisan tangannya dari cat akrilik dengan sebuah tulisan : "DARI MANA HENDAK KE MANA."
Di hari-hari sendu, Ese lebih senang menyendiri. Di bawah sebuah pohon kersen favoritnya yang rasanya sangat jarang berbuah. Hanya duduk saja begitu sampai biru, sampai beku dipeluk perasaan sendu. Bersama awan-awan sore yang bergerak pelan ditiupi angin dari timur. Seperti sore ini, seperti sekarang ini, bersama jaket pilihannya.
Lama sudah rasanya Ese melamun kosong di bawah pohon itu. Rupa-rupanya kekosongan lamunan Ese telah membawa seorang Ese lainnya yang tiba-tiba mengetuk pikirannya. Seorang Ese yang sama persis seperti Ese yang selama ini menjadi dirinya. Hingga Ese merasa perlu berkata padanya, "Ada perlu apa kemari? Aku tahu siapa Engkau."
"Entahlah. Cuma datang saja. Kulihat Kau melamun sendiri. Siapa tahu kau butuh teman untuk sendiri."
"Aku tak merasa butuh teman untuk sendiri. Itu pasti. Tapi bolehlah kau duduk di sini kalau mau kasih aku kawan," balas Ese santai.
Cukup lama sebetulnya Ese cuma diam dan duduk sambil tetap melamun begitu. Lalu, "Apa yang kau lamunkan, Ese? Ceritalah sedikit itu Kau punya pikiran."
"Begini, Ese," jawab Ese, "Pada dasarnya pikiranku sungguh ada di semua mana yang bisa ada. Pada serangkaian peristiwa lampau yang muncul. Pada peristiwa yang mungkin akan ada selanjutnya. Pada itu Kau boleh lihat ujung daun di atasmu. Pada itu burung merpati yang belum pernah sama sekali lewat pada kita. Pada itu batu kecil di ujung jalan. Pada itu langit yang memang begitu warnanya. Pada itu mereka yang punya negara kita. Pada itu bunga bakung yang mekar dalam sebuah lagu. Pada itu ibu penjual ketan yang entah kenapa memilih ketan untuk dijual. Pada itu asap kendaraan yang masuk ke dalam knalpot jika waktu sudi mundur ke belakang, yang secara praktis jika kau undur waktu makanmu justru tetap saja maju ke depan. Pada itu mereka orang-orang yang tidak kukenal. Pada itu mereka orang-orang yang ternyata aku sudah kenal. Pada itu dirimu, Ese, yang juga adalah aku. Pada itu aku yang kini melamunku di bawah pohon kersen."
"Wah, wah. Kau ini betul lah seorang pria dengan pikiran yang tidak praktis ya. He. He."
"Ya begitulah jika kau berpendapat demikian. Begitulah aku di matamu jadinya," Ese menanggapi.
Lama lagi lalu Ese kembali melamun merasai sore yang sudah semakin. Daun-daun pohon kersen melambai laun-laun dikutip angin pelan-pelan.
"Aku tak pernah betul bisa menyusun semuanya," gumam Ese tetiba.
"He? Bagaimana?"
"Iya. Maksudku, aku tak pernah betul-betul bisa menyusun demikian pikiranku secara rapi dan pasti. Jadi ya begitu," Ese melengkapi penjelasannya.
"Ooh. Hmmmmm... Ah, sudahlah, Bung. Biar saja begitu. Mungkin bagus jadinya nanti."
Mengernyit dahi Ese, "He? Bagus bagaimana? Jadi apa maksudmu, Ese?"
"Yaa tak tahu pun aku jadi apa itu nanti. Tapi mungkin bagus menurutku Kau kacau begitu. Siapa bisa sangka mungkin itu kacau bisa jadi ini, atau jadi itu, jadi hasil. Mungkin juga ada bagus itu Tuhan kasih Engkau punya kacau. Atau mungkin sebenarnya itu bukan kacau, melainkan lainnya."
Bermenung Ese mendengarnya. Bermenung Ese karenanya. Ssementara sore tak terasa sudah saja semakin. Itu kita tahu karena hari sudah mau jadi gelap, tapi sedang mandi bumi dan langit oleh emas matahari senja bersama angin yang cinta dunia. Ah, sudah cukup dan waktunya mesti pulang ke rumah buat Jong Ese, sehingga berkatalah dia orang, "Boleh jadi Engkau betul, Ese, dan semoga saja betul."
"Ese. Hari sudah masuk petang. Aku mau ada jalan pulang. Kau mau ikut atau di sini saja?" lanjut Ese.
"Pulanglah, kawanku sayang. aku mau diam di sini melanjutkan Engkau."
"Bersama siapa pula? Sendiri juga?"
"Bersama Eleanor Rigby-nya The Beatles. Kau pulanglah."
"Salam untuk mereka ya, Ese. Untukmu juga, terimakasih sudah kasih aku banyak tadi. Semoga jumpa lagi kita di sini."
Dan oh, lihatlah juga olehmu itu senja. Sinar-sinarnya yang menembusi sebahagian awan bergumpal. Pohon kersennya yang melambai-lambai kasih kita sampai jumpa. Batu kecilnya yang diam di ujung jalan. Burung merpati yang tetiba lewat melengkung bersama seekor merpati lainnya. Mekarnya bunga bakung di lagu yang telah lama berseminya. Ketan sisa yang dibawa pulang oleh ibu yang menjualnya. Juga asap kendaraan lalu lalang yang tentu asapnya keluar dari knalpot di pantatnya. Juga peristiwa-peristiwa lampau yang sesekali sering juga ingin ditengok. Tentu juga peristiwa-peristiwa selanjutnya yang satu persatu sudah siap menyambut Jong Ese, menyambutmu, menyambutku, menyambut kita, saat kita sudah siap bertemu.
Dan oh, lihatlah olehmu juga, itu Jong Ese, itu kamu, itu aku, itu kita semua. Berjalan ramai-ramai dan bersamaan di atas muka sebuah bola raksasa di bawah kita yang karenanya jadi berputar seperti akrobat dalam pertunjukan sirkus yang mulia. Menuju pulang. Menuju ke sampai jumpa.
28 November, 2017.
Wednesday, 29 November 2017
SISA HUJAN DAN CAHAYA
Maghrib menjelang. Sore itu, selain gelap, faktanya hujan juga ikut datang bersamaan. Turun bersama matahari memberi salam penyambutan datangnya perjamuan malam. Lamat-lamat kudengar suara rintik-rintik air hujan yang menenangkan. Namun, toh, setiapmanusia dihinggapi keresahannya masing-masing. Dan punyaku, selepas maghrib mengajakku untuk keluar dari rumah, menuju Bandung dan jalan-jalan basahnya.
Di depan pagar rumah rupanya jalan kecil di depan rumahku betul basah. Berkilapan cahaya rumah-rumah yang dipendari aspal basah. Hawanya sejuk lagi damai. Namun setiap manusia dihinggapi keresahannya masing-masing, toh? Kueratkan retsleting jaket tebalku supaya aku segera berangkat. Ke jalan-jalan gang kecil. Ke jalan-jalan perumahan yang juga basah. Ke jalan-jalan kompleks perumahan tentara yang juga basah. Ke jalan Setiabudi yang panjang menurun yang sama, juga basah. Menuju jalan Cemara yang juga dibuat basah.
Itu karena hari sudah malam dan hari sudah gelap. Membuat lampu-lampu jalan pada menyala. Membuat lampu-lampu rumah pada menyala. Membuat lampu-lampu taman pada menyala. Membuat lampu-lampu kendaraan juga pada semua menyala. Membuat semuanya jadi pada terbias di muka jalan-jalan yang basah. Memantul-mantul ringan pada air-air gerimis kecil yang masih rindu pada bumi. Membuat sebuah fenomena jingga yang adalah sebuah kenyataan.
Fenomena dan kenyataan.
Kenyataan bahwa rupanya malam ini jadi hajat akbar seluruh laron-laron yang datang entah dari mana. Terbang ke sana juga kemari ke cahaya-cahaya. Cahaya di tiang-tiang lamu jalanan. Cahaya di pasak-pasak lampu taman. Cahaya di perseliweran lampu-lampu kendaraan. Di jalan dan di udara.
Ratusan. Ribuan. Ratusan ribu. Ratus ribuan. Laron-laron ikut meramaikan jalanan. Pada hajatan menyambut tanah basah dan cahaya jalanan. Sayap-sayapnya yang rapuh tak jarang pada tanggal dari tubuh mereka. Melayang-layang tak keruan disapu angin jalanan yang malam. Lalu berserakan juga di muka jalanan basah. Dan semuanya yang bening itu menambah bias cahaya-cahaya yang di mana-mana. Dan rupa-rupanya itu juga kenyataan sejenak yang sudah berhasil menampik keresahan manusia sepanjang perjalanan kecilnya.
Ya Tuhan. Begitulah rupanya hajat besar pesta buana laron-laron yang sederhana. Yang sepertinya pada bahagia oleh karena hujan dan cahaya. Untuk ramai-ramai berdansa sambil terbang liar menuju aneka cahaya. Untuk kemudian tanggal semua sayapnya. Untuk kemudian jatuh dan cuma merayap-rayap di atas lantai-lantai bumi. Untuk kemudian saling berpasangan jantan dan betina. Untuk berbuntutan ke mana dan ke mana. Di bawah sisa-sisa hujan dan aneka cahaya.
Setidaknya begitulah terjemahanku tentang mereka. Dan tak perlulah aku tahu alasan ilmiahnya. Agar aku duduk dan menulis di sini, bercangkir kopi, bersama Sebastian Klinger dan Jurgen Kruse, yang dibawakan berupa Spiegel Im Spiegel.
28 November, 2017.
Di depan pagar rumah rupanya jalan kecil di depan rumahku betul basah. Berkilapan cahaya rumah-rumah yang dipendari aspal basah. Hawanya sejuk lagi damai. Namun setiap manusia dihinggapi keresahannya masing-masing, toh? Kueratkan retsleting jaket tebalku supaya aku segera berangkat. Ke jalan-jalan gang kecil. Ke jalan-jalan perumahan yang juga basah. Ke jalan-jalan kompleks perumahan tentara yang juga basah. Ke jalan Setiabudi yang panjang menurun yang sama, juga basah. Menuju jalan Cemara yang juga dibuat basah.
Itu karena hari sudah malam dan hari sudah gelap. Membuat lampu-lampu jalan pada menyala. Membuat lampu-lampu rumah pada menyala. Membuat lampu-lampu taman pada menyala. Membuat lampu-lampu kendaraan juga pada semua menyala. Membuat semuanya jadi pada terbias di muka jalan-jalan yang basah. Memantul-mantul ringan pada air-air gerimis kecil yang masih rindu pada bumi. Membuat sebuah fenomena jingga yang adalah sebuah kenyataan.
Fenomena dan kenyataan.
Kenyataan bahwa rupanya malam ini jadi hajat akbar seluruh laron-laron yang datang entah dari mana. Terbang ke sana juga kemari ke cahaya-cahaya. Cahaya di tiang-tiang lamu jalanan. Cahaya di pasak-pasak lampu taman. Cahaya di perseliweran lampu-lampu kendaraan. Di jalan dan di udara.
Ratusan. Ribuan. Ratusan ribu. Ratus ribuan. Laron-laron ikut meramaikan jalanan. Pada hajatan menyambut tanah basah dan cahaya jalanan. Sayap-sayapnya yang rapuh tak jarang pada tanggal dari tubuh mereka. Melayang-layang tak keruan disapu angin jalanan yang malam. Lalu berserakan juga di muka jalanan basah. Dan semuanya yang bening itu menambah bias cahaya-cahaya yang di mana-mana. Dan rupa-rupanya itu juga kenyataan sejenak yang sudah berhasil menampik keresahan manusia sepanjang perjalanan kecilnya.
Ya Tuhan. Begitulah rupanya hajat besar pesta buana laron-laron yang sederhana. Yang sepertinya pada bahagia oleh karena hujan dan cahaya. Untuk ramai-ramai berdansa sambil terbang liar menuju aneka cahaya. Untuk kemudian tanggal semua sayapnya. Untuk kemudian jatuh dan cuma merayap-rayap di atas lantai-lantai bumi. Untuk kemudian saling berpasangan jantan dan betina. Untuk berbuntutan ke mana dan ke mana. Di bawah sisa-sisa hujan dan aneka cahaya.
Setidaknya begitulah terjemahanku tentang mereka. Dan tak perlulah aku tahu alasan ilmiahnya. Agar aku duduk dan menulis di sini, bercangkir kopi, bersama Sebastian Klinger dan Jurgen Kruse, yang dibawakan berupa Spiegel Im Spiegel.
28 November, 2017.
Sunday, 12 March 2017
Friday, 23 December 2016
SIARAN TENGAH MALAM
Selepas tengah malam menuju pagi
Jangkrik-jangkrik berderik
Angin-angin malam menembus
Detak-detik jam dinding berisik
Kemudian begitulah
Seperti radio khusus tengah malam
Radio favoritku memulai siarannya
Mengantarkanku ke peraduan
Mengupas semua isi dunia dan wicara
Menyisakan senyum-senyum tak bertuan
Radio favorit, jangan berhenti siaran
Menuju pagi, selepas tengah malam.
Jangkrik-jangkrik berderik
Angin-angin malam menembus
Detak-detik jam dinding berisik
Kemudian begitulah
Seperti radio khusus tengah malam
Radio favoritku memulai siarannya
Mengantarkanku ke peraduan
Mengupas semua isi dunia dan wicara
Menyisakan senyum-senyum tak bertuan
Radio favorit, jangan berhenti siaran
Menuju pagi, selepas tengah malam.
Sunday, 23 October 2016
BATAS DAN JARAK
batas/ba·tas/ n 1 garis (sisi) yang menjadi perhinggaan suatu bidang (ruang, daerah, dan sebagainya); pemisah antara dua bidang (ruang, daerah, dan sebagainya); sempadan: mana -- kebun ini?; sungai ini menjadi -- Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah; 2 ketentuan yang tidak boleh dilampaui:pembentukan kabinet diberi -- waktu seminggu; tindakan itu dianggap orang telah melampaui -- kekuasaannya; 3 perhinggaan: air sungai itu tidak dalam, hanya sampai -- lutut;berjalan sampai ke -- , berlayar sampai ke pulau, pb segala usaha hendaknya sampai kepada maksudnya;
-- apkir batas waktu suatu material dapat digunakan dengan aman;
-- cair Tan kandungan air maksimum dalam tanah tempat tanah mulai bersifat, seperti cairan;
-- elastik Fis batas lenting;
-- lenting Fis tegangan maksimum yang dapat ditunjang oleh bahan atau bangunan tanpa menderita perubahan bentuk (deformasi) yang tetap (permanen); batas elastik;
-- pemandangan kaki langit; tepi langit; horizon;
-- penanggalan internasional Geo garis batas yang letaknya kira-kira bertepatan dengan meridian 180o dari utara ke selatan melalui Samudra Pasifik;
Otak manusia mengetahui sesuatu tentang kata "batas". Berdasarkan pengertian batas yang dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebelumnya, jika disederhanakan, batas akan berkaitan dengan konsep jarak, wilayah, waktu, ruang, pengetahuan, jangkauan, dan lain-lain sebagainya. Pada setiap satuan konsepnya, manusia akan selalu berada dalam suatu titik yang selalu memiliki batas, namun itu juga berarti ada hal-hal lain yang berada di luar batas tersebut.
Batas senantiasa menghasilkan sebuah celah, ruang, interval, atau apapun yang selanjutnya menjadi pemisah antara sesuatu yang ada di dalam batas dengan sesuatu yang ada di luar batas tersebut. Hal ini seringkali menimbulkan sebuah masalah bagi manusia dan seringkali dengan cepat dianggap menjadi suatu masalah besar oleh manusia di muka bumi yang kita cintai sepanjang masa. Menurut saya, fenomena itu terjadi pada persepsi manusia dikarenakan adanya sebuah fenomena lain yang kita sebut sebagai relativitas yang selalu memiliki suatu satuan sendiri yang tidak bisa ditetapkan. Ketika terhambat oleh sebuah batas, umumnya manusia seringkali dengan cepat mengambil kesimpulan dan lupa akan relativitas yang ada, sehingga dengan cepat suatu batas akan dianggap menjadi sebuah masalah yang menimbulkan berbagai kecemasan dan kekhawatiran. Lebih jauh lagi hal tersebut akan menimbulkan perasaan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia dalam menghadapi masalah batas tersebut.
Relativitas sesungguhnya akan memberikan opsi-opsi baru bagi manusia. Memunculkan perbandingan-perbandingan lain yang menghasilkan berbagai macam probabilitas yang memungkinkan manusia justru melampaui batas yang ditemuinya, sehingga baiknya manusia bisa lebih bijak memandang suatu batasan dengan menemukan relativitas-relativitas lain yang memberikan perspektif baru dalam mencari alternatif lain guna melampaui batas atau menyelesaikan sebuah permasalahan yang berkaitan dengan batasan yang ditemuinya.
Berbicara soal jarak. Jarak seringkali dianggap sebagai suatu permasalahan karena membatasi suatu kemampuan atau jangkauan manusia terhadap sesuatu yang ada di luar batas jangkauannya dan hal tersebut membatasi kita dari keinginan kita untuk menjangkau sesuatu yang kita inginkan, sehingga kita seringkali merasa cemas, sedih, dan khawatir atau bahkan putus asa dengan keadaan tersebut. Memang, keadaan tersebut pun seringkali tidak dapat saya pungkiri secara pribadi, namun tentu saja ada baiknya jika kita mencoba mencari lebih banyak pengetahuan yang membawa kita pada sesuatu yang bisa membawa kita relatif lebih dekat kepada batasan jangkauan kita. Sehingga sekalipun dirundung oleh keterbatasan jarak dan waktu secara fisik, setidaknya pengetahuan tersebut akan memberikan kita sedikit banyak penghiburan bagi diri kita sendiri.
Secara fisik, kita memang memiliki banyak sekali keterbatasan khususnya jarak yang tentu saja terjadi karena adanya pernikahan yang sah antara ruang dan waktu, dan kebanyakan selalu begitu. Namun kita tentunya tidak boleh bersedih begitu saja karena hal tersebut dan kemudian menyedihkan keterbatasan yang ada pada diri manusia secara fisik. Di luar kemampuan fisik, nyatanya manusia memiliki kemampuan yang jauh melampaui batasan-batasan fisik yang dimilikinya, yaitu kemampuan berpikir yang dimiliki oleh otak manusia.
Pertama, kemampuan otak manusia memungkinkan kita memiliki sebuah kemampuan yang disebut imajinasi. Kemampuan tersebut memungkinkan kita untuk keluar lebih jauh dari rumah tangga yang telah dijalin oleh ruang dan waktu sejak lama, memungkinkan kita untuk bergerak lebih bebas, memang tidak secara fisik namun secara psikologis tak jarang mampu berdampak positif bahkan relatif lebih jauh dibandingkan pencapaian yang dilakukan secara fisik di beberapa kasus. Berdasarkan sumber yang diperoleh, kemampuan imajinasi manusia berfungsi dalam dua bentuk, yaitu imajinasi sintesis dan imajinasi kreatif. Imajinasi kreatiflah yang memungkinkan pikiran kita yang terbatas berkomunikasi langsung dengan intelegensi tanpa batas. Melalui imjainasi ini pula kita memperoleh firasat, inspirasi, atau ilham. Bahkan lebih jauh lagi, imajinasi kreatif juga memungkinkan kita untuk bisa menyesuaikan diri atau berkomunikasi dengan pikiran dan perasaan sadar dan bawah sadar manusia lainnya.
Kedua, disebutkan dari sumber lain bahwa terdapat beberapa fakta menarik tentang otak dan pikiran manusia yang menyebutkan bahwa kemampuan pikiran kita jauh melebihi dimensi ruang dan waktu itu sendiri, fakta-fakta tersebut di antaranya adalah :
- Pikiran manusia terhubung dengan alam semesta, Universal Conciousness/Morphogenetic Field. Singkatnya, menurut beberapa ilmuwan menyatakan bahwa pikiran manusia memiliki hubungan secara tidak sadar dengan alam semesta yang kita tinggali. Kemampuan manusia untuk dapat berhubungan ini disebut oleh seorang psikolog bernama Karl Jung sebagai Universal Conciousness, dan oleh seorang ahli biolog bernama Rupert Sheldrake sebagai Morphogenetic Field. Karena pikiran manusia terhubung dengan alam semesta, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa secara tidak langsung pula pikiran manusia dengan manusia lainnya juga dapat terhubung melalui sesuatu yang disebut medan energi. Saling berhubungannya pikiran manusia ini disebut juga sebagai 'hubungan pikiran' atau 'hubungan batin' (mental connection) yang seringkali terasa lebih kuat oleh mereka yang terikat oleh hubungan darah.
- Pikiran manusia saling berinteraksi di alam bawah sadar. Saya rasa hal ini dapat terjadi ketika terjadi interaksi baik secara langsung atau tidak langsung melalui kontak baik secara fisik, visual, ataupun melalui suara.
- Pikiran manusia dapat menjelajah di alam semesta. Pada saat-saat tertentu, khususnya pada saat dalam kondisi tidak sadar, dikatakan bahwa pikiran atau kesadaran kita dapat menjelajah ke manapun di alam semesta kita ini, hal ini biasanya sering terjadi di dalam mimpi, di alam bawah sadar manusia. Memang agak sedikit sulit dipahami, namun jika didasari pada fakta pertama dimana dikatakan bahwa pikiran kita dapat terhubung dengan alam semesta dan dengan manusia lainnya.
Berdasarkan sumber yang saya peroleh memang mungkin belum memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga bisa saja fakta-fakyta yang dikemukakan baru merupakan sebuah teori saja. Kendati demikian, rasanya jauh di bawah sana saya pribadi merasakan bahwa teori yang mungkin saja benar tersebut dapat diasumsikan benar secara subjektif berdasarkan pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan teori tersebut semasa kita hidup.
Dengan ditulisnya tulisan singkat ini, saya tidak ada maksud untuk menggurui atau bermaksud mengajarkan apa yang saya peroleh dari sumber yang belum kuat. Akan tetapi, sedikitnya saya berharap bisa memberikan sebuah pandangan lain terhadap apa yang saya bahas kali ini. Selanjutnya, untuk mengikis perasaan-perasaan cemas, khawatir, sedih, dan lainnya yang tercipta karena adanya keterbatasan dan jarak yang nyata, berikut akan saya sampaikan sebuah perbandingan sederhana mengenai jarak.
Mari kita asumsikan bahwa ada dua orang yang terpisah sangat jauh di muka bumi kita tercinta ini. Bumi memiliki keliling total sejauh 40.075 km, sehingga kemungkinan dua orang tersebut berpisah paling jauh adalah dengan jarak setengah keliling bumi, yaitu sejauh 20.037,5 km, itulah jarak maksimal dua orang dapat terpisah. Dengan jarak yang sangat jauh tersebut tentu saja akan terasa sangat berat rasanya bagi kedua orang tersebut sehingga seringkali muncul perasaan cemas, khawatir, sedih, rindu, dan lain sebagainya di antara keduanya tentang masa sekarang dan masa yang akan datang di antara mereka. Namun kita sadar bahwa jauh atau dekat itu relatif, relativitas tersebut berlaku ketika kita menemukan sebuah perbandingan jarak atau batas lainnya yang jauh lebih hebat dan lebih dahsyat, yang justru sebenarnya tersimpan dalam diri masing-masing dua orang yang terpisah tersebut. Contoh kecilnya, bahkan di dalam otak mereka sesungguhnya tersimpan sesuatu yang jauh dan jauh lebih panjang jika dibentangkan, yaitu urat syaraf di otak yang jumlahnya mencapai 14 milyar yang jika dibentangkan akan memiliki panjang sebesar 480.000 km atau 12 kali lebih panjang dari keliling bumi, atau 24 kali lebih panjang dari jarak maksimal kedua orang tersebut terpisah. Dan setiap milimeter dari seluruh 480.000 km syaraf tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk saling terhubung dengan alam semesta, dengan orang yang terpisah darinya. Sehingga untuk mengikis rasa cemas, khawatir, sedih, dan yang lainnya hanya dibutuhkan sedikit kepercayaan antara keduanya. Sama halnya dengan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, Tuhan yang bahkan tak pernah ditemuinya, dan ternyata lebih dekat dari urat nadinya, yang kita butuhkan adalah kepercayaan atau iman.
Maka seandainya saja kita ambil secara random, seorang anak terpisah dari ayah dan ibunya sejauh 14.157 km, yaitu sejauh 2.768 jam perjalanan darat dan laut dilakukan, yang ternyata sejauh 7/20 keliling bumi, yang ternyata sebesar 35% dari keliling bumi, yang ternyata hanya sejauh 0.02949375 dari panjang urat syaraf otak manusia. Dan ya, hanya sedekat itulah rupanya jarak yang tercipta antara sebuah daerah bernama Antapani, Bandung, Indonesia dengan daerah lain yang bernama Herningvej, Aalborg, Denmark.
Sumber :
https://goo.gl/L1HvbM
https://goo.gl/jt76fg
https://goo.gl/DJKhG1
https://goo.gl/W8IqUW
https://goo.gl/XbvMeo
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BATAS DAN JARAK
Tak ada yang lebih dekat
Kecuali Tuhan yang melihat seluruh umat
Tak ada yang lebih mampu menempuh jauh
Kecuali doa yang terkirim sembari bersimpuh
Tak ada kekuatan kecil yang lebih niscaya
Kecuali membiarkan diri sedikit lebih percaya
Tak ada yang kuat menahan jarak yang melebar
Kecuali kau kuat untuk sedikit lebih sabar
Hingga tak ada yang lebih bahagia
Kecuali bertemu waktu untuk berjumpa...
Sunday, 28 August 2016
DUNIA AKAN LEBIH MENARIK
Halo.
Selamat hari Minggu sedunia.
Sudah dua minggu, dan akan lebih, aku tidak punya hari libur. Rasanya ini dua minggu paling produktif dalam satu tahun ini, menyelesaikan sebuah tanggung jawab besar yang sudah dipupuk selama enam tahun kurang lebih. Sampai beberapa hari lagi semuanya akan dituntaskan secara legitimate. Mudah-mudahan sampai.
Seperti yang pernah diutarakan oleh saudara Gema, ini adalah betul sebuah perjalanan spiritual. Sebuah perjalanan panjang ---sebagian orang berasumsi teralu panjang--- yang betul-betul memberikan banyak hal : perubahan, pembelajaran, ah, dua itu saja sudah sangat banyak. Akan ada banyak kejutan-kejutan di perjalanan selanjutnya. Siapkah?
Ide-ide serta berbagai macam wacana selalu terlintas dan berkelebat liar di kepalaku. Entah mimpi, harapan, tantangan, keinginan, kegilaan, keisengan, semuanya berseliweran. Terlontar ke sana kemari ibarat kembang api. Halo. Kira-kira yang mana yang harus dikejar. Yang harus diperjuangkan. Yang harus diwujudkan. Sayangnya, aku tidak terbiasa merencanakan sesuatu secara jauh dan panjang. Aku terlalu terbiasa dengan hal-hal teknis yang beradaptasi dengan waktu yang sempit, menanti kejutan-kejutan yang manis dan yang pahit. Atau hanya membungkus suatu ide besar yang gila, tanpa teknis yang detail. Setidaknya aku paham apa yang kulakukan.
Yaah, memang menurut beberapa teman ketika kita berpindah pada fase ini ke fase berikutnya akan menghasilkan beberapa pertanyaan besar tentang masa depan. Biarlah dulu, aku lebih suka berdiam diri dan mencerna sendiri sambil berpikir lama. Biarlah dulu, sementara ini kunikmati dengan syahdu perasaan bahagia ini. Begitu bahagia hingga meledak ke mana-mana. Biarlah dulu, aku hanya ingin duduk bersantai di atas sebuah pohon, disapu angin semilir, disirami terang mentari yang teduh, dihujani dedaunan kecil yang gugur perlahan.
Sekali lagi, selamat hari Minggu sedunia.
Semoga segalanya menjadi lebih menarik, yeah!
:))
Sunday, 7 August 2016
HALLO BANDOENG
Pada suatu malam yang begitu dalam, ada begitu banyak pemikiran dan perasaan yang bercampur mendatangi kita. Satu dan lainnya bermunculan tak beraturan, saling meletup untuk bisa mendapatkan perhatian kita. Begitulah yang terjadi padaku malam ini, didatangi begitu banyak hal di kepala, sehingga kuputuskan harus menulis sesuatu agar aku tetap waras.
Tapi tak juga kutemui sebenarnya apa yang akan kutulis, hingga akhirnya pilihan datang ketika malam semakin gelap dan setitik cahaya bisa begitu sangat berharga. Entah mengapa yang kubahas kemudian adalah ini, tapi rasanya sejak pertama kali mendengarnya aku selalu merasakan sebuah perasaan yang dalam, pada sebuah cerita kecil yang haru biru. Sedikitnya, rasanya hatiku beririsan dengan kisah ini.
Wieteke van Dort. Darinya lah pertama kali kudengar kisah ini, walaupun yang pertama kali menyanyikannya adalah Mas Willy Derby, tapi dari van Dort lah aku mendengarnya hingga jatuh cinta. Kau cari saja sendiri siapa mereka itu, okey.
Entah siapa pengarangnya, diciptakan pada tahun 1929. Betapa pilu, mengetahui bagaimana jarak, ruang, dan ternyata juga waktu dapat memunculkan kepiluan, kerinduan yang tampak begitu besar bahkan tanpa sebuah pertemuan yang pernah terjadi. Ah, mau tulis apalagi, kau harus cari tahu sendiri tentang cerita di balik cerita ini. Kuberikan kisah ini padamu dari liriknya. Judulnya,
Hallo Bandoeng
(Dutch)
‘t Oude moedertje zat bevend
Op het telegraafkantoor
Vriend’lijk sprak de ambt’naar
Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor
Trillend op haar stramme benen
Greep zij naar de microfoon
En toen hoorde zij, o wonder
Zacht de stem van hare zoon
Op het telegraafkantoor
Vriend’lijk sprak de ambt’naar
Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor
Trillend op haar stramme benen
Greep zij naar de microfoon
En toen hoorde zij, o wonder
Zacht de stem van hare zoon
refrain :
“Hallo! Bandoeng!”
“Ja moeder hier ben ik!”
“Dag liefste jongen”, zegt zij met een snik
“Hallo, hallo!
Hoe gaat het oude vrouw?”
Dan zegt ze alleen:
“Ik verlang zo erg naar jou!”
“Hallo! Bandoeng!”
“Ja moeder hier ben ik!”
“Dag liefste jongen”, zegt zij met een snik
“Hallo, hallo!
Hoe gaat het oude vrouw?”
Dan zegt ze alleen:
“Ik verlang zo erg naar jou!”
Lieve jongen, zegt ze teder
Ik heb maandenlang gespaard
‘t Was me om jou te kunnen spreken
M’n allerlaatste gulden waard
En ontroerd zegt hij dan:
“Moeder Nog vier jaar, dan is het om
Oudjelief, wat zal ‘k je pakken
Als ik weer in Holland kom!”
Ik heb maandenlang gespaard
‘t Was me om jou te kunnen spreken
M’n allerlaatste gulden waard
En ontroerd zegt hij dan:
“Moeder Nog vier jaar, dan is het om
Oudjelief, wat zal ‘k je pakken
Als ik weer in Holland kom!”
refrain :
“Jongenlief”, vraagt ze, “hoe gaat het Met je kleine bruine vrouw?”
“Best hoor”, zegt hij, “en we spreken
Elke dag hier over jou
En m’n kleuters zeggen ‘s avonds
Voor het slapen gaan een gebed
Voor hun onbekende opoe
Met een kus op jouw portret”
“Best hoor”, zegt hij, “en we spreken
Elke dag hier over jou
En m’n kleuters zeggen ‘s avonds
Voor het slapen gaan een gebed
Voor hun onbekende opoe
Met een kus op jouw portret”
refrain :
“Wacht eens, moeder”, zegt hij lachend ”
‘k Bracht mijn jongste zoontje mee”
Even later hoort ze duidelijk
“Opoe lief, tabeh, tabeh!”
Maar dan wordt het haar te machtig
Zachtjes fluistert ze:
“O Heer Dank dat ‘k dat heb mogen horen…”
En dan valt ze wenend neer
‘k Bracht mijn jongste zoontje mee”
Even later hoort ze duidelijk
“Opoe lief, tabeh, tabeh!”
Maar dan wordt het haar te machtig
Zachtjes fluistert ze:
“O Heer Dank dat ‘k dat heb mogen horen…”
En dan valt ze wenend neer
“Hallo! Bandoeng!”
“Ja moeder hier ben ik!”
Ze antwoordt niet.
Hij hoort alleen ‘n snik
“Hallo! Hallo!…” klinkt over verre zee
Zij is niet meer en het kindje roept: “Tabeh”
“Ja moeder hier ben ik!”
Ze antwoordt niet.
Hij hoort alleen ‘n snik
“Hallo! Hallo!…” klinkt over verre zee
Zij is niet meer en het kindje roept: “Tabeh”
Hallo Bandoeng
(Indonesia)
Perempuan tua itu duduk gemetar di kantor telegraf
Dengan ramah petugas operator berkata:”Ibu, sudah tersambung dengan Bandung”
Dengan kaki yang kaku dan gontai, dia berdiri meraih mikrofon
Dan saat itu pun, oh sungguh mengagumkan,
Dia mendengar suara lembut anak lelakinya
Refrain :
Halo! Bandung!
Ya bunda, aku di sini!
Salam anakku sayang, katanya dengan menahan tangis
Halo, halo!
Apa kabarnya, bunda?
Dengan suara lirih dia menjawab:
Aku sangat merindukanmu, nak!
Sayang, dia bertanya, apa kabarnya dengan isterimu yang berkulit sawo matang?
Baik-baik saja, bu, katanya, dan kami membicarakan ibu setiap hari di sini
Dan anak-anak mengucapkan doa malam sebelum tidur
Untuk opung (nenek) yang belum mereka jumpai
Dengan mencium potretmu
”Tunggu sebentar, bunda”, katanya sambil tergelak
“Aku akan memanggil anakku yang paling bungsu”
Tak lama kemudian terdengarlah dengan jelas:
”Opung (nenek) tersayang, tabeh, tabeh!”
Tak tertahankan hatinya mendengarnya, ia pun berbisik lembut kepada Tuhan
Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengizinkan aku mendengarkan
Dan kemudian ia jatuh bersimpuh sambil menangis
Halo! Bandung!
Ya bunda, aku di sini!
Dia tidak menjawab
Hanya terdengar isak tangis
Hallo! Hallo! Terdengar suara klik di seberang lautan
Dia sudah tiada saat putranya berseru: Tabeh!
Subscribe to:
Posts (Atom)