Duhai merpati
Aku rindu mereka
Kawan-kawanku
Yang lugu lagi ceria
Yang lucu lagi gila
Yang baik lagi setia
Yang dihujat orang lagi setia
Yang muda lagi berani
Yang jauh lagi dekat
Yang lagi jauh dan membuatku begitu merindu sendu lagi membiru
Tuhanku yang Maha Baik lagi Maha Pengasih Penyayang,
Izinkan aku injak cium Bandungku Sabtu ini
Friday, 29 January 2016
Thursday, 7 January 2016
SEBUAH CERITA SENJA
Pada zaman dulu. Dulu sekali sebelum masehi. Saking dulunya, aku sendiri bingung. Hiduplah seorang anak bersama ayahnya di atas sebuah bukit di belahan dunia bagian timur, timurnya barat. Anak tersebut bisa laki-laki, bisa juga perempuan. Maka bertanyalah anak itu kepada ayahnya dengan sedih, pertanyaan yang sama yang ada di benakku,
"Wahai, Ayah. Ke manakah ibuku?"
Dijawab oleh sang ayah, "Itu, ibu di dapur. Sedang memasak."
"Oh," jawab si anak itu.
Maka hiduplah mereka bertiga di atas bukit tersebut, bertiga. Harmoni cinta.
Sebut saja lima belas tahun telah berlalu. Anak itupun sudah tumbuh dewasa. Karena aku bingung membuat ceritanya, mari kita samakan persepsi. Anak itu bernama Angka. Perempuan atau laki-laki ya? Nama lengkapnya, Semangka. Seorang anak muda dengan tubuh bulat dan berwajah ceria, selalu tampak berseri-seri.
Di bukit yang hanya bertiga itu, Angka memiliki seorang sahabat erat yang bernama Ngurub Utnah, seekor burung hantu yang biasa dipanggil Engur. Mereka mulai menjadi sahabat sejak minggu yang lalu. Persahabatan mereka berjalan satu arah komunikasi sampai saat ini, dikarenakan Engur masih belum bisa menguasai bahasa manusia sama sekali. Angka selalu mengutarakan segala keluh kesahnya kepada Engur, dan Engur selalu setia mendengarkan. Kemanapun mereka pergi pasti selalu berdua, Engur selalu bertengger di bahu Angka.
Suatu siang yang cengdem, menceng tapi adem, keduanya sedang asyik bercengkrama di atas sebuah pohon di puncak bukit itu. Menikmati pemandangan ayah Angka yang sedang menikmati pemandangan indah di bawah bukit.
Angka : "Ngur, kamu tahu tidak ayahku sedang apa?"
Engur :
Angka : "Ayah sedang tidak galau."
Engur :
Angka : "Sekarang, kamu tahu aku sedang apa?"
Engur :
Angka : "Aku yang sedang galau, Ngur. Benakku dipenuhi oleh banyak pertanyaan yang mengganjal."
Engur :
Angka : "Aku kasih kamu tahu deh, ya, aku sedang dipenuhi oleh pertanyaan yang semuanya sama, yaitu, "Apa itu cinta?""
Engur : *mengeluarkan kotoran dari bagian belakang tubuhnya
Angka : "Apa maksudmu, Ngur?"
Engur : *memutar kepalanya 180 derajat
Angka : "Hmmm..."
Engur : *mematuki tangkai tempatnya bertengger
Angka : "Aku menjadi sedikit bingung mendengar pendapatmu. Tapi, Ngur..."
Engur : *tuk..tuk..tuktuk......tuktuk..tuk
Angka : "Ah, kau benar juga. Mungkin aku hanya gila, melankolia teralu lama berselimut bersamaku."
Engur : *tiba-tiba saja mengepakkan sayapnya lalu terbang menjauh ke arah bawah bukit
Angka : "ENGUR!!!!!!!!!"
Engur : *terbang makin jauh
Angka : "NITIP TEH GELAAASSSSSSS!!!!!"
Engur : *manuver berputar 360 derajat
Angka : "DUAAAAAAAAAAAAAA, NGURR!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Sejak saat itu, Ngurub Utnah tak pernah kembali lagi ke sisi Semangka. Entah apa yang ada di pikiran Ngurub Utnah pada saat memutuskan untuk meninggalkan sahabat baiknya itu. Hanya satu hal yang bisa kuceritakan, terakhir dari cerita ini. Pada akhir senja itu, di bawah pohon, di atas tanah merahnya, dengan sepotong ranting Semangka menulis sebuah sajak :
[TENTANG CINTA]
[Cinta hanya sebuah tanda tanya
Dan akan tetap menjadi sebuah tanda tanya
Sungguh benar dikata kawanku Ngurub Utnah
"Usah kau bermenung, cinta adalah yang penting kamu bahagia, Semangka, dalam hati."
Maka pada ayah dan ibuku aku kembali.]
Malam itu, turun hujan yang lebat tiada dua. Menyebabkan erosi-erosi kecil di bukit tua.
Sajak curahan hati Semangka pun hilang sudah disapu hujan.
Semangka tertidur makin pulas setelah berkata, "Hujan. Ngeunah sare euy ieu mah."
Sebuah senyum lugu terlukis di antara dua pipinya yang bulat.
Sunday, 3 January 2016
BIAR MENJADI-JADI
Biarlah jika tidak menjadi tampan
Biarlah tidak menjadi kaya meraya
Biarlah hujan dan badai datang bersama
Asal tetap aku menjadi aku
Hingga hanya aku yang jadi menjadi-jadi.
Biarlah tidak menjadi kaya meraya
Biarlah hujan dan badai datang bersama
Asal tetap aku menjadi aku
Hingga hanya aku yang jadi menjadi-jadi.
Saturday, 28 November 2015
BERHENTI BERHARAP (GAWEAN) - SHEILA ADA 7
Aku tak percaya lagiDengan apa yang kau beriAku terdampar disiniTersudut menunggu s***psi
Aku tak percaya lagiAkan guna matahariYang dulu mampu terangiSudut gelap s***psi ini
Aku berhenti berharapDan menunggu datang gelapSampai nanti suatu saatTak ada cinta kudapat
Kenapa ada deritaBila bahagia terciptaKenapa ada sang hitamBila s***psi menyenangkanha... ha...
Reff :
Aku sidang....Sidang tilang....Ku terima... kekalahanku...
Kapan sidang...Bukan tilang...Kusalut kan .. kebijakanmu...
wow..
Kau ajarkan aku MPAKau ajarkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau berikan aku metlitnyaKau berikan aku derita..
Kapan sidang....Bukan tilang....Ku harapkan... kegigihanku...
[female voice]Rebahkan kalbumuLepaskan perlahanKau akan mengertiSemua..
Aku berhenti berharapDan berlari pada terangSampai nanti suatu saatPasti S.Pd kudapat
Aku tak percaya lagiAkan guna matahariYang dulu mampu terangiSudut gelap s***psi ini
Aku berhenti berharapDan menunggu datang gelapSampai nanti suatu saatTak ada cinta kudapat
Kenapa ada deritaBila bahagia terciptaKenapa ada sang hitamBila s***psi menyenangkanha... ha...
Reff :
Aku sidang....Sidang tilang....Ku terima... kekalahanku...
Kapan sidang...Bukan tilang...Kusalut kan .. kebijakanmu...
wow..
Kau ajarkan aku MPAKau ajarkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau berikan aku metlitnyaKau berikan aku derita..
Kapan sidang....Bukan tilang....Ku harapkan... kegigihanku...
[female voice]Rebahkan kalbumuLepaskan perlahanKau akan mengertiSemua..
Aku berhenti berharapDan berlari pada terangSampai nanti suatu saatPasti S.Pd kudapat
Monday, 8 June 2015
COGITANS TRISTITIA
Dan tiada kalam sekuat kalam ilahi. Yang menyayat pilu
setiap manusia. Bahkan yang mengaku tiada punya hati.
Pada kalam yang menerangi, pada manusia celaka sepertiku
yang mencuri dengar kalamNya.
Dan tiada makhluk yang lebih lemah. Adalah manusia yang
menginjak-injak semut padahal tiada punya kuasa.
Merekalah, kitalah, atau akulah saja sendiri.
Yang lupa pada segala, menempa diri dalam jelaga penuh dosa.
Tenggelam dipupuk petaka. Membawa diri pada arti yang celaka.
Segala berkat yang lahir bersama matahari kemarin pagi.
Datang dalam warna ceria pada manusia-manusia. Yang mereka laik atasnya.
Namun untuk aku seorang. Adalah sebesar gunung bayangan yang datang kemarin.
Serupa ketakutan yang menyaru menjadi angin maut. Aku tak melihatnya datang,
aku merasakan tekanannya.
Selanjutnya tentang waktu. Yang memisahkan kita dari yang akan datang,
dengan yang sudah lampau.
Tanpa harus berbicara interpretasi.
Biar malam menggulung waktu untukku.
Thursday, 30 October 2014
MAKSUD BENCANA
Dan, kutemukan aku, siang ini duduk di depan sebuah pohon besar. Banyak orang di sekitarnya. Larut dalam kemasing-masingan dunianya. Padahal duniaku dan mereka, satu.
Ada ibu yang berdua dengan anaknya.
Ada cinta yang bermanis berdua.
Ada beberapa berkumpulan dengan kawanannya.
Ada kesendirian yang bermadu dengan bacaannya.
Tidaklah kami bersama, tidaklah kami saling mengenal, lalu apa yang bisa menyatukan kami?
Adalah musuh bersama.
Maka.
Beri kami bencana.
SENDIRIAN
Sendirian, semudah kontemplasi di kegelapan yang terang
Sendirian, sesulit berdiri sepi di hiruk pikuk keramaian
Sendirian, semudah kata rindu lalu berkata ingin pulang
Sendirian, serumit cinta yang bertikai dalam peraduan
Sendirian, semudah bui menerima dosa di pengasingan
Sendirian, serumit rasa yang mesti peka untuk larut di penjiwaan
Sendirian, lalu sesederhana mereka yang sendiri teralu ingin berduaan
Sendirian, sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, mestikah berduaan?
Sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, siapkah berduaan?
Sendirian, sesulit berdiri sepi di hiruk pikuk keramaian
Sendirian, semudah kata rindu lalu berkata ingin pulang
Sendirian, serumit cinta yang bertikai dalam peraduan
Sendirian, semudah bui menerima dosa di pengasingan
Sendirian, serumit rasa yang mesti peka untuk larut di penjiwaan
Sendirian, lalu sesederhana mereka yang sendiri teralu ingin berduaan
Sendirian, sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, mestikah berduaan?
Sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, siapkah berduaan?
Subscribe to:
Posts (Atom)