Tuesday, 1 October 2013

JELAGA UNTUKMU

Dua menjelang Tiga
Kau hitungkah, selama itu kita menjalin
Berkali sudah camar berpindah hinggap
Sejauh itu sudah kita menempuh

Dua menjelang Tiga
Sebutlah aku sebuah jelaga
Berisi ragam jenis warna yang kaya
Maka dengan kwas terbaik kuwarnaimu
Dengan sejuta warna paling memikat

Dua menjelang Tiga
Sepenuh peluh kutorehkan warna-warnaku
Memberimu sebuah makna seindah kubisa
Kucucurkan perjuangan kita agar mengakar

Dua menjelang Tiga
Aku beri kau sejuta indah warna
Aku sembahkan kau sebagai estetika pusaka
Aku hanya meragu, sudahkah kau bahagia dengan semua itu?

Bak seekor biduan yang sendu melagu ragu
Aku melolong sepanjang gelapku
Bergulung dengan satu kecemesan

Kutakutkan aku tak mengukir makna "kebahagiaan" buatmu
Kutakutkan aku tak mengukir makna "kebahagiaan" buatmu

Dua menjelang Tiga

Ampunkan aku maafmu dan lembutlah
Gandes dan luweslah, cinta
Biar aku tetap memberimu warnaku yang kaya
Lalu bertahanlah, pada waktu, hingga "kebahagiaan" datang dari jelagaku untukmu

Dua menjelang Tiga

Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Dan tahun-tahun yang berlalu seterusnya

Bertahanlah denganku dalam damai.





-Imp & Laraso-

TIGA TAHUN

Tiga tahun adalah sebuah interval waktu
Menorehkan jarak yang panjang bertapak
Mengisi masa yang kosong di depan
Jutaan satuan waktu jadi pijakan

Tiga tahun adalah sebuah interval waktu
Yang ternyata dalam sekejap bisa kembali muncul
Menguak satuan-satuan yang sudah terisi
Mengungkap memori seakan tanpa interval

Maka di sinilah aku sekarang
Di salah satu pijakanku yang lalu

Adalah tentang seorang wanita
Yang kutinggalkan begitu saja
Sebuah satuan yang kuisi dengan dosa
Atas sebuah rasa sakit seorang terpuja

Maka di sinilah aku sekarang
Merasa bodoh dengan tertegunku

Berat kutanyakan pada bisu
Rindukah aku padanya?
Pada gelak tawa dan cerianya
Pada kuat pukulannya di lenganku

Bagaimanapun, aku berutang padamu, wanita
Karena telah mengisi satuan-satuan waktuku
Menorehkan garis kehidupan bagi aku
Menemani aku tanpa aku temanimu dengan baik

Maka namamu tertoreh dalam prasatiku
Ampuni, biar aku kembali melihat ke depan
Melewati interval waktu kembali
Pada satuan waktuku yang tadi terhenti

Hiduplah dalam damaiNya.

Thursday, 19 September 2013

REMBULAN

Ya, aku melihatmu
Dari sebuah sudut pelupuk
Bila kau ada tampak oleh raga
Pada waktu kau ada dalam lingkar jangkauku

Ya, aku melihatmu
Dari sebuah lubuk benak yang takluk
Saat jauh adamu yang tampak oleh jiwa
Di luar lingkaranku, membayang di dalamku

Bolehkan aku kau kunamakan Rembulan
Yang memberi aku terang pada malam dan siang
Yang mengingatkanku akan eksistensi Tuhan
Yang menuntunku dalam segala gelap menuju terang

Cahayamu memberiku terang yang remang
Bukan redup namun teduh yang menguatkan
Membuat sebuah gaya yang menarikku ke permukaan
Menghidupkan aku dari suri

Tanpa perlu kau tahu
Aku hidup dari remangmu yang tenang
Kau beri aku apa yang kubutuhkan agar aku hidup dengan kuat
Menyerap energi dari positifmu yang kulihat

Dalam gelap aku bernaung dengan remangmu
Tanpa memberimu sebuah balas yang pantas
Terpujilah kau atas segala engkaumu
Maaf aku pintakan atas kelancanganku hidup dari cahayamu

Rembulan
Ya, aku terus melihatmu.






~Dari atas sebuah batang pohon FPTK, siang.

Thursday, 22 August 2013

Gelap, Dengan Terang Dalam Gelap

Dapatkah kita melihat terang dalam gelap?
Dapatkah kita melihat sehat dalam sakit?

Di tengah bumi beralas lantai berlapis karpet
Ialah aku duduk berpangku
Diselubung gelap sepanjang masa
Dengan akalku yang kusebut cahaya

Pikiran adalah sebuah alatku yang mendadak waras
Ia berkelana melanglangbuana
Menjamahi segala tanah tak hingga
Tak dapat kutahan, ia berlari ke segala arah semaunya

Maka sungguh, siapakah kita?
Untuk apa kita ada?

Sungguh aku tak dapat mencapainya
Di luar nalar keprofesian
Di luar nalar jalur yang sejauh ini kujalani
Sungguh aku penuh bertanya pada tiada

Aku bertanya tentang pengertian daripada aku
Aku bertanya tentang peruntukan daripada aku
Aku bertanya tentang fungsi daripada aku
Aku bertanya tentang aku

Selainnya, aku temukan banyak cahaya dalam gelap dunia
Hanya aku, sesatu gelap yang tersisa bagi aku
Aku belum menemui pengertianku
Aku adalah gelap bagi aku

Sungguh, fana.

Thursday, 4 July 2013

MONOLOG

Duhai hati, duhai jiwa
Apa yang kau pikirkan di dalam?
Seolah resah namun berpaku bisu
Tak berkabar padaku, induk semangmu

Sepikah kiranya dalam lubuk itu?
Tak berkawan tak berisi
Maka bicaralah padaku tentang dilema
Kontradiksi apalagi pun kabarkan

Peluang sebuah kemungkinan
Sang aduhai hatiku pun berkabar

Duhai engkau, peraduanku, semangku
Sungguh aku sedang tak menentu
Jangan kau ada paradigma
Sedikitpun aku tidaklah merana

Jika ini soal cinta, polemik klasik
Aku hanya sedang menunggu
Apa yang kalian manusia sebut anugerah
Dari Tuanku Tuanmu, Sang Maha Perkasa

Maka usahlah kau risaukan aku, semangku
Mentari senja bersinar begitu hangat
Kian mendekap kita antara dingin dunia
Kelambu ternyaman sejagat raya

ialah kawan yang berjalan  bersama kita
Hingga tua, dan kembali muda pada abadinya
Sambut dan jagalah mereka
Dengan segudang perjamuan paling istimewa

Cinta akan datang dan haram tersiakan
Sebagaimana kawan haram pengkhianatan
Sambut dan jaga kawananmu, semangku
Semangku

Maka hati duhai jiwa, dengarlah

Inilah jawabku

Oke!





Sukamiskin, 07:18 - 4/7/13

Tuesday, 14 May 2013

ARCHITECTURE EXPO 2013 : ARTEFAK

Pernah denger bule gaul saling memberi salam? Gini nih : HAI GAIS!

Keren banget ga sih itu?

Enggak.

Okey.

Sekianlah salam pembukaan dari saya pada entri kali ini. Entri kali ini yang saya tulis ingin membahas tentang Architecture Expo 2013 : ARTEFAK. Tapi saya tidak tahu ingin menulisnya mulai dari mana, maka saya mulai dengan memencet tuts-tuts keyboard dan menulis :


"Pernah denger bule gaul saling memberi salam? Gini nih : HAI GAIS!

Keren banget ga sih itu?

Enggak.

Okey."

Gak kepikiran kan??? Iya atuh, siapa dulu, haha.
Oke, kembali serius. Kalian mungkin bertanya-tanya ( kalian di sini adalah gaib, karena blog urang euweuh nu maca ), apa sih ARTEFAK itu? Artefak itu adalah Architecture Expo 2013 : ARTEFAK, atau lebih jelasnya, nih, https://twitter.com/archexpo2013 atau https://www.facebook.com/ArchExpo2013?fref=ts. Hahaha.

Jadi Artefak itu adalah event yang, kami, mahasiswa arsitektur dari Universitas Pendidikan Indonesia di bawah organisasi kemahasiswaan KMA-Kridaya FPTK UPI, selenggarakan di bulan Mei tanggal 23-31, 2013. 

Di dalemnya sendiri ada dua kegiatan besar, yang pertama itu Seminar Nasional yang ngebahas tentang Sekolah Aman Bencana. Yang kedua ada Konser Amal yang hasil penjualan tiketnya disumbangin buat bakti pendidikan gitu. Keren ga sih?? Ya keren lah! Daripada HAI GAIS, bule alay!

Kalian boleh kok bertanya kenapa sih kita ngadain acara begituan? Latarbelakangnya apa? Tujuannya apa? Ya saya juga boleh dong ngejawab, gak ngejawab juga boleh lah, siapa elu siapa gue? Oke. Saya jawab. Kalau mau jawaban lengkap dan detail secara formal, silakan liat link yang tadi. Saya mah kasih jawaban singkat padat berisi semok semlohai saja ya.

Pertanyaan : Kenapa ngadain acara ARTEFAK yang mengusung Sekolah Aman Bencana?
Jawaban     : Emang kamu mau adik-adik SD kita lagi belajar berhitung tiba-tiba gempa, terus runtuh, mati we semua sama gurunya juga. Padahal mereka ingin bisa berhitung. Ingin bisa berhitung. BERHITUNG!!! Sedih. Sedih. Sedih banget, serius ini.

Bayangkan, adegannya gini...
Guru       : Dondonmidon, coba ibu tanya, delapan dikali tujuh berapa, Don?
Doni       : Sebentar Ibu, saya hitung dulu, hmm..
*tiba-tiba gempa*
Doni      : LIMA BU LIMA!!! LIMA TEMAN SAYA  TERTIMPA DINDING DI BELAKANG!!!!

Sedih. Sungguh. Serius ini. Saya sebagai mahasiswa arsitektur merasa bersalah kalau sekolah-sekolah di Indonesia bahkan tidak aman untuk digunakan belajar mengajar. Bagaimana anak-anak kita mau pintar kalau belum lulus SD saja sudah wafat duluan. Maka dari itu. Maka dari itu masa kamu tidak mengerti juga sih sudah saya paparkan dengan singkat padat semok semlohai.

Ngerti ya? Ngerti ya? Sok pada dibuka link nya, terus beli tiket seminar dan konsernya :)

Nah, sekarang saya mau kasih tau sesuatu tentang teman-teman saya yang berjuang untuk ARTEFAK ini. Mereka adalah teman-teman panitia yang edan-edanan memperjuangkan acara ini. Kalian udah nonton Ironman 3 kan? Gimana? Dia keren banget kan? Hebat banget kan? Jagoan banget kan? Pasti jawab iya kan? Ya kan? CUIH! Pret!!

Ironman gak ada apa-apanya. Cuma kostum, ikon, besi yang kalau dibawa ke Madura bakal laku dikilo, berwarna mentereng pula. Bah, sampah. Teman-teman pejuang ARTEFAK inilah yang saya sebut 'The Real Superhero', 'The Real Fighter Ever'. Mereka lebih baja dari baja paling baja yang pernah ada. Mereka lebih mentereng dari mentereng-mentereng yang paling mentereng yang pernah ada. Merekalah prajurit yang berjuang atas nama cinta dan dedikasi tinggi pada KMA-Kridaya. Merekalah pejuang-pejuang yang pasti mati, tapi semangatnya tak pernah mati. Merekalah orang-orang yang hidup sebagai sejarah, sebagai legenda. Orang-orang yang mati, kemudian tetap harum namanya. Semua tetes darah, cucur keringat, gores luka, sayat sakit, mereka rela terima bulat-bulat demi ARTEFAK. Kamu boleh bunuh kami, tapi kami tak akan pernah mati, percayalah. Saya bersama orang-orang tertangguh yang ada di muka bumi ini.

Sungguh. Serius ini.

Dan tahukah kalian satu hal? Tentu tidak.
Saya katakan satu hal saja pada kalian, sebuah rahasia besar tentang kehidupan.


"Sebenarnya, saya hina-hina, saya jelek-jelekkan itu Ironman bukan karena apa-apa. Tapi karena saya....belum....saya....ya, saya....saya belum nonton IRONMAN 3!!!!!!"

Salam perjuangan, salam ARTEFAK! FAK! FAK! FAK!
Kalian adalah orang-orang terbaik, kawan-kawanku.






Terimakasih perjuangan.
- Muhammad Arif Adiansyah

Thursday, 2 May 2013

ADALAH KAWAN, ADIK, REMBULAN

Adalah kawan,
adalah adik,
adalah cinta

Di lingkar hujan di dalam ruang
Di kerumun kawan di umum ruang
Di lingkar cakap diiring gelak ramai
Di sana kita berada, bercakap suka dengan lainnya

Puja, adalah diam yang disembunyi
Aku bicara lalu diam, lalu tersenyum dalam di dalam
Engkau bicara lalu diam, lalu entah kau dalam di dalam
Sesingkatnya temu cakap lalu kembali ke masing

Dari mana aku memulai?
Dari ragu takutku akan penafian
Dari kelu lidahku akan cakap biduan
Dari pasang mata yang segan berpandang temu

Tapi sungguhkah hati memilih
Bulatkah punya kasih menaut
Gelapku, melindung dan menaungi
Kulindung utuhmu sampai raga benar mati

Kau tahu aku luar
Kau tak kenal aku dalam di dalamku
Aku tahu kau luar
Aku tak kenal dalam, dalammu di dalam

Adalah kawan,
adalah adik,
adalah cinta.
Adalah kau kiranya rembulan itu.