Biarlah jika tidak menjadi tampan
Biarlah tidak menjadi kaya meraya
Biarlah hujan dan badai datang bersama
Asal tetap aku menjadi aku
Hingga hanya aku yang jadi menjadi-jadi.
Sunday, 3 January 2016
Saturday, 28 November 2015
BERHENTI BERHARAP (GAWEAN) - SHEILA ADA 7
Aku tak percaya lagiDengan apa yang kau beriAku terdampar disiniTersudut menunggu s***psi
Aku tak percaya lagiAkan guna matahariYang dulu mampu terangiSudut gelap s***psi ini
Aku berhenti berharapDan menunggu datang gelapSampai nanti suatu saatTak ada cinta kudapat
Kenapa ada deritaBila bahagia terciptaKenapa ada sang hitamBila s***psi menyenangkanha... ha...
Reff :
Aku sidang....Sidang tilang....Ku terima... kekalahanku...
Kapan sidang...Bukan tilang...Kusalut kan .. kebijakanmu...
wow..
Kau ajarkan aku MPAKau ajarkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau berikan aku metlitnyaKau berikan aku derita..
Kapan sidang....Bukan tilang....Ku harapkan... kegigihanku...
[female voice]Rebahkan kalbumuLepaskan perlahanKau akan mengertiSemua..
Aku berhenti berharapDan berlari pada terangSampai nanti suatu saatPasti S.Pd kudapat
Aku tak percaya lagiAkan guna matahariYang dulu mampu terangiSudut gelap s***psi ini
Aku berhenti berharapDan menunggu datang gelapSampai nanti suatu saatTak ada cinta kudapat
Kenapa ada deritaBila bahagia terciptaKenapa ada sang hitamBila s***psi menyenangkanha... ha...
Reff :
Aku sidang....Sidang tilang....Ku terima... kekalahanku...
Kapan sidang...Bukan tilang...Kusalut kan .. kebijakanmu...
wow..
Kau ajarkan aku MPAKau ajarkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau tunjukkan aku SPAKau berikan aku metlitnyaKau berikan aku derita..
Kapan sidang....Bukan tilang....Ku harapkan... kegigihanku...
[female voice]Rebahkan kalbumuLepaskan perlahanKau akan mengertiSemua..
Aku berhenti berharapDan berlari pada terangSampai nanti suatu saatPasti S.Pd kudapat
Monday, 8 June 2015
COGITANS TRISTITIA
Dan tiada kalam sekuat kalam ilahi. Yang menyayat pilu
setiap manusia. Bahkan yang mengaku tiada punya hati.
Pada kalam yang menerangi, pada manusia celaka sepertiku
yang mencuri dengar kalamNya.
Dan tiada makhluk yang lebih lemah. Adalah manusia yang
menginjak-injak semut padahal tiada punya kuasa.
Merekalah, kitalah, atau akulah saja sendiri.
Yang lupa pada segala, menempa diri dalam jelaga penuh dosa.
Tenggelam dipupuk petaka. Membawa diri pada arti yang celaka.
Segala berkat yang lahir bersama matahari kemarin pagi.
Datang dalam warna ceria pada manusia-manusia. Yang mereka laik atasnya.
Namun untuk aku seorang. Adalah sebesar gunung bayangan yang datang kemarin.
Serupa ketakutan yang menyaru menjadi angin maut. Aku tak melihatnya datang,
aku merasakan tekanannya.
Selanjutnya tentang waktu. Yang memisahkan kita dari yang akan datang,
dengan yang sudah lampau.
Tanpa harus berbicara interpretasi.
Biar malam menggulung waktu untukku.
Thursday, 30 October 2014
MAKSUD BENCANA
Dan, kutemukan aku, siang ini duduk di depan sebuah pohon besar. Banyak orang di sekitarnya. Larut dalam kemasing-masingan dunianya. Padahal duniaku dan mereka, satu.
Ada ibu yang berdua dengan anaknya.
Ada cinta yang bermanis berdua.
Ada beberapa berkumpulan dengan kawanannya.
Ada kesendirian yang bermadu dengan bacaannya.
Tidaklah kami bersama, tidaklah kami saling mengenal, lalu apa yang bisa menyatukan kami?
Adalah musuh bersama.
Maka.
Beri kami bencana.
SENDIRIAN
Sendirian, semudah kontemplasi di kegelapan yang terang
Sendirian, sesulit berdiri sepi di hiruk pikuk keramaian
Sendirian, semudah kata rindu lalu berkata ingin pulang
Sendirian, serumit cinta yang bertikai dalam peraduan
Sendirian, semudah bui menerima dosa di pengasingan
Sendirian, serumit rasa yang mesti peka untuk larut di penjiwaan
Sendirian, lalu sesederhana mereka yang sendiri teralu ingin berduaan
Sendirian, sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, mestikah berduaan?
Sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, siapkah berduaan?
Sendirian, sesulit berdiri sepi di hiruk pikuk keramaian
Sendirian, semudah kata rindu lalu berkata ingin pulang
Sendirian, serumit cinta yang bertikai dalam peraduan
Sendirian, semudah bui menerima dosa di pengasingan
Sendirian, serumit rasa yang mesti peka untuk larut di penjiwaan
Sendirian, lalu sesederhana mereka yang sendiri teralu ingin berduaan
Sendirian, sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, mestikah berduaan?
Sesulit yang sendiri dalam kontemplasi, siapkah berduaan?
Friday, 19 September 2014
GELISAH KOTA I
Pada aspal jalan yang berair di horison
Pada ilusinya yang menguap
Kita boleh bercermin
Aku lihat aku saja
Kulihat aku memotong
Kulihat aku meraung
Kulihat aku memacu waktu
Kulihat aku menggerutu mencaci
Kulihat aku mengumpat
Kulihat aku bermasam wajah
Kulihat aku meresahkan
Kulihat aku egois, hina
Kulihat aku menyela
Kulihat aku mencelakakan
Kulihat aku semena kelakuan setan saja
Kulihat aku melanggar
Kulihat aku menabrak
Kulihat orang lebih menabrak
Kulihat orang bersalah, dosa besar, dasar, sialan!
Kulihat manusia lain bejat tak kira hewan di jalanan
Kulihat dunia tak hitam, putih pun
Semesta adalah abu kelabu di atas aspal jalan itu
Etika dan adab diuapkan bersama kumpar polusi
Pembenaran kepentingan dikambing hitamkan
Tidakkah kita picik?
Kita sudah sungguh setaniawi
Kesurupan ego seperti karang
Melupakan tenggang rasa itu dari kejiwaan
Sudikah kita lalu bijaksana?
Bahkan pada remeh yang kita temehkan?
Bahkan hanya berlalu-lintas?
Pada ilusinya yang menguap
Kita boleh bercermin
Aku lihat aku saja
Kulihat aku memotong
Kulihat aku meraung
Kulihat aku memacu waktu
Kulihat aku menggerutu mencaci
Kulihat aku mengumpat
Kulihat aku bermasam wajah
Kulihat aku meresahkan
Kulihat aku egois, hina
Kulihat aku menyela
Kulihat aku mencelakakan
Kulihat aku semena kelakuan setan saja
Kulihat aku melanggar
Kulihat aku menabrak
Kulihat orang lebih menabrak
Kulihat orang bersalah, dosa besar, dasar, sialan!
Kulihat manusia lain bejat tak kira hewan di jalanan
Kulihat dunia tak hitam, putih pun
Semesta adalah abu kelabu di atas aspal jalan itu
Etika dan adab diuapkan bersama kumpar polusi
Pembenaran kepentingan dikambing hitamkan
Tidakkah kita picik?
Kita sudah sungguh setaniawi
Kesurupan ego seperti karang
Melupakan tenggang rasa itu dari kejiwaan
Sudikah kita lalu bijaksana?
Bahkan pada remeh yang kita temehkan?
Bahkan hanya berlalu-lintas?
TAK HIDUP TANPA JIWA
Malam tak gelap tanpa gelap
Pagi tak terang tanpa cahaya
Sore tak jingga tanpa senja
Sakit tak sakit tanpa luka
Senang tak senang tanpa suka
Sedih tak sedih tanpa duka
Hidup tak hidup tanpa jiwa
Kata tak hidup tanpa jiwa
Cinta tak hidup tanpa jiwa
Karya tak hidup tanpa jiwa
Sandiwara tak menghidupkan apapun
Jiwa berikan kehidupan
Jiwa
Usah kita hidupkan satu yang mati
Usah kita hidupkan satu yang hidup, sungguh ia hidup
Usapkan jiwamu mengelus
Akan hidup satu darimu
Pagi tak terang tanpa cahaya
Sore tak jingga tanpa senja
Sakit tak sakit tanpa luka
Senang tak senang tanpa suka
Sedih tak sedih tanpa duka
Hidup tak hidup tanpa jiwa
Kata tak hidup tanpa jiwa
Cinta tak hidup tanpa jiwa
Karya tak hidup tanpa jiwa
Sandiwara tak menghidupkan apapun
Jiwa berikan kehidupan
Jiwa
Usah kita hidupkan satu yang mati
Usah kita hidupkan satu yang hidup, sungguh ia hidup
Usapkan jiwamu mengelus
Akan hidup satu darimu
Subscribe to:
Posts (Atom)