Thursday, 22 August 2013

Gelap, Dengan Terang Dalam Gelap

Dapatkah kita melihat terang dalam gelap?
Dapatkah kita melihat sehat dalam sakit?

Di tengah bumi beralas lantai berlapis karpet
Ialah aku duduk berpangku
Diselubung gelap sepanjang masa
Dengan akalku yang kusebut cahaya

Pikiran adalah sebuah alatku yang mendadak waras
Ia berkelana melanglangbuana
Menjamahi segala tanah tak hingga
Tak dapat kutahan, ia berlari ke segala arah semaunya

Maka sungguh, siapakah kita?
Untuk apa kita ada?

Sungguh aku tak dapat mencapainya
Di luar nalar keprofesian
Di luar nalar jalur yang sejauh ini kujalani
Sungguh aku penuh bertanya pada tiada

Aku bertanya tentang pengertian daripada aku
Aku bertanya tentang peruntukan daripada aku
Aku bertanya tentang fungsi daripada aku
Aku bertanya tentang aku

Selainnya, aku temukan banyak cahaya dalam gelap dunia
Hanya aku, sesatu gelap yang tersisa bagi aku
Aku belum menemui pengertianku
Aku adalah gelap bagi aku

Sungguh, fana.

Thursday, 4 July 2013

MONOLOG

Duhai hati, duhai jiwa
Apa yang kau pikirkan di dalam?
Seolah resah namun berpaku bisu
Tak berkabar padaku, induk semangmu

Sepikah kiranya dalam lubuk itu?
Tak berkawan tak berisi
Maka bicaralah padaku tentang dilema
Kontradiksi apalagi pun kabarkan

Peluang sebuah kemungkinan
Sang aduhai hatiku pun berkabar

Duhai engkau, peraduanku, semangku
Sungguh aku sedang tak menentu
Jangan kau ada paradigma
Sedikitpun aku tidaklah merana

Jika ini soal cinta, polemik klasik
Aku hanya sedang menunggu
Apa yang kalian manusia sebut anugerah
Dari Tuanku Tuanmu, Sang Maha Perkasa

Maka usahlah kau risaukan aku, semangku
Mentari senja bersinar begitu hangat
Kian mendekap kita antara dingin dunia
Kelambu ternyaman sejagat raya

ialah kawan yang berjalan  bersama kita
Hingga tua, dan kembali muda pada abadinya
Sambut dan jagalah mereka
Dengan segudang perjamuan paling istimewa

Cinta akan datang dan haram tersiakan
Sebagaimana kawan haram pengkhianatan
Sambut dan jaga kawananmu, semangku
Semangku

Maka hati duhai jiwa, dengarlah

Inilah jawabku

Oke!





Sukamiskin, 07:18 - 4/7/13

Tuesday, 14 May 2013

ARCHITECTURE EXPO 2013 : ARTEFAK

Pernah denger bule gaul saling memberi salam? Gini nih : HAI GAIS!

Keren banget ga sih itu?

Enggak.

Okey.

Sekianlah salam pembukaan dari saya pada entri kali ini. Entri kali ini yang saya tulis ingin membahas tentang Architecture Expo 2013 : ARTEFAK. Tapi saya tidak tahu ingin menulisnya mulai dari mana, maka saya mulai dengan memencet tuts-tuts keyboard dan menulis :


"Pernah denger bule gaul saling memberi salam? Gini nih : HAI GAIS!

Keren banget ga sih itu?

Enggak.

Okey."

Gak kepikiran kan??? Iya atuh, siapa dulu, haha.
Oke, kembali serius. Kalian mungkin bertanya-tanya ( kalian di sini adalah gaib, karena blog urang euweuh nu maca ), apa sih ARTEFAK itu? Artefak itu adalah Architecture Expo 2013 : ARTEFAK, atau lebih jelasnya, nih, https://twitter.com/archexpo2013 atau https://www.facebook.com/ArchExpo2013?fref=ts. Hahaha.

Jadi Artefak itu adalah event yang, kami, mahasiswa arsitektur dari Universitas Pendidikan Indonesia di bawah organisasi kemahasiswaan KMA-Kridaya FPTK UPI, selenggarakan di bulan Mei tanggal 23-31, 2013. 

Di dalemnya sendiri ada dua kegiatan besar, yang pertama itu Seminar Nasional yang ngebahas tentang Sekolah Aman Bencana. Yang kedua ada Konser Amal yang hasil penjualan tiketnya disumbangin buat bakti pendidikan gitu. Keren ga sih?? Ya keren lah! Daripada HAI GAIS, bule alay!

Kalian boleh kok bertanya kenapa sih kita ngadain acara begituan? Latarbelakangnya apa? Tujuannya apa? Ya saya juga boleh dong ngejawab, gak ngejawab juga boleh lah, siapa elu siapa gue? Oke. Saya jawab. Kalau mau jawaban lengkap dan detail secara formal, silakan liat link yang tadi. Saya mah kasih jawaban singkat padat berisi semok semlohai saja ya.

Pertanyaan : Kenapa ngadain acara ARTEFAK yang mengusung Sekolah Aman Bencana?
Jawaban     : Emang kamu mau adik-adik SD kita lagi belajar berhitung tiba-tiba gempa, terus runtuh, mati we semua sama gurunya juga. Padahal mereka ingin bisa berhitung. Ingin bisa berhitung. BERHITUNG!!! Sedih. Sedih. Sedih banget, serius ini.

Bayangkan, adegannya gini...
Guru       : Dondonmidon, coba ibu tanya, delapan dikali tujuh berapa, Don?
Doni       : Sebentar Ibu, saya hitung dulu, hmm..
*tiba-tiba gempa*
Doni      : LIMA BU LIMA!!! LIMA TEMAN SAYA  TERTIMPA DINDING DI BELAKANG!!!!

Sedih. Sungguh. Serius ini. Saya sebagai mahasiswa arsitektur merasa bersalah kalau sekolah-sekolah di Indonesia bahkan tidak aman untuk digunakan belajar mengajar. Bagaimana anak-anak kita mau pintar kalau belum lulus SD saja sudah wafat duluan. Maka dari itu. Maka dari itu masa kamu tidak mengerti juga sih sudah saya paparkan dengan singkat padat semok semlohai.

Ngerti ya? Ngerti ya? Sok pada dibuka link nya, terus beli tiket seminar dan konsernya :)

Nah, sekarang saya mau kasih tau sesuatu tentang teman-teman saya yang berjuang untuk ARTEFAK ini. Mereka adalah teman-teman panitia yang edan-edanan memperjuangkan acara ini. Kalian udah nonton Ironman 3 kan? Gimana? Dia keren banget kan? Hebat banget kan? Jagoan banget kan? Pasti jawab iya kan? Ya kan? CUIH! Pret!!

Ironman gak ada apa-apanya. Cuma kostum, ikon, besi yang kalau dibawa ke Madura bakal laku dikilo, berwarna mentereng pula. Bah, sampah. Teman-teman pejuang ARTEFAK inilah yang saya sebut 'The Real Superhero', 'The Real Fighter Ever'. Mereka lebih baja dari baja paling baja yang pernah ada. Mereka lebih mentereng dari mentereng-mentereng yang paling mentereng yang pernah ada. Merekalah prajurit yang berjuang atas nama cinta dan dedikasi tinggi pada KMA-Kridaya. Merekalah pejuang-pejuang yang pasti mati, tapi semangatnya tak pernah mati. Merekalah orang-orang yang hidup sebagai sejarah, sebagai legenda. Orang-orang yang mati, kemudian tetap harum namanya. Semua tetes darah, cucur keringat, gores luka, sayat sakit, mereka rela terima bulat-bulat demi ARTEFAK. Kamu boleh bunuh kami, tapi kami tak akan pernah mati, percayalah. Saya bersama orang-orang tertangguh yang ada di muka bumi ini.

Sungguh. Serius ini.

Dan tahukah kalian satu hal? Tentu tidak.
Saya katakan satu hal saja pada kalian, sebuah rahasia besar tentang kehidupan.


"Sebenarnya, saya hina-hina, saya jelek-jelekkan itu Ironman bukan karena apa-apa. Tapi karena saya....belum....saya....ya, saya....saya belum nonton IRONMAN 3!!!!!!"

Salam perjuangan, salam ARTEFAK! FAK! FAK! FAK!
Kalian adalah orang-orang terbaik, kawan-kawanku.






Terimakasih perjuangan.
- Muhammad Arif Adiansyah

Thursday, 2 May 2013

ADALAH KAWAN, ADIK, REMBULAN

Adalah kawan,
adalah adik,
adalah cinta

Di lingkar hujan di dalam ruang
Di kerumun kawan di umum ruang
Di lingkar cakap diiring gelak ramai
Di sana kita berada, bercakap suka dengan lainnya

Puja, adalah diam yang disembunyi
Aku bicara lalu diam, lalu tersenyum dalam di dalam
Engkau bicara lalu diam, lalu entah kau dalam di dalam
Sesingkatnya temu cakap lalu kembali ke masing

Dari mana aku memulai?
Dari ragu takutku akan penafian
Dari kelu lidahku akan cakap biduan
Dari pasang mata yang segan berpandang temu

Tapi sungguhkah hati memilih
Bulatkah punya kasih menaut
Gelapku, melindung dan menaungi
Kulindung utuhmu sampai raga benar mati

Kau tahu aku luar
Kau tak kenal aku dalam di dalamku
Aku tahu kau luar
Aku tak kenal dalam, dalammu di dalam

Adalah kawan,
adalah adik,
adalah cinta.
Adalah kau kiranya rembulan itu.

Thursday, 21 March 2013

WHEN I, MISSING YOU SO BAD


When I fall in love
Is when I missing you so bad
Is when I feel you're not around me
Maybe no more

What else I can do?

You're only a picture
You smile at that pic

So what else I can do?

Staring at your smiling eyes
Touch your little nose
Your yellowed cheek
Your tiny cute mole of course, hehe
And the brightest smile ever of yours

But its only from a pic
Not the real you

I'm missing you so bad so terrify
Bad enough to make my tears fall
Bad enough to make me quiet for a while
Bad enough to make me sad

I need you to know
That I'm so lonely behind my laugh
That I'm so lonely in this crowded world

I need you to realize
That I love you so goddamn a lot of much

That I missing you so bad





~Tonji yg menyebalkan

Friday, 8 March 2013

AKU TAKUT

Dan Demi Tuhan yang menguasai segalanya
Ini adalah sesuatu yang lain

Dan Demi Tuhan yang mengendalikan segala unsur
Ini adalah sesuatu yang baru

Dan Demi Tuhan yang tak punya rasa takut
Aku menemukan rasa takut yang baru kukenali
Rasa takut kehilangan yang teramat
Rasa takut yang mengubur jauh ego

Takut kehilanganmu, sayang.

Monday, 15 October 2012

Kembalilah, Ujang!

       Semakin hari, semakin ke sini, anak-anak Indonesia mulai memiliki nama-nama yang keren, yang trendy, yang gaul banget menurut orang-orang. Seringkali kita dengar beberapa nama seperti, Sebastian, Mike (Maik), Tommy, Andrew, ah sangat beragamlah nama-nama yang keren belakangan ini. Dandanannya pun semakin kece, teknologi tertempel di mana-mana menjadi brand image anak-anak sekarang. Gaol gela!!
       
       Tiba-tiba saja sebenarnya, muncul banyak pertanyaan di benak saya, oh, benak saya bertanya-tanya, kira-kira seperti inilah pertanyaannya yang di antaranya adalah :
  • Kemanakah perginya Kang Ujang?
  • Kemanakah perginya Mang Kosim?
  • Kemanakah perginya Pak Obang?
  • Kemanakah perginya Ceu Odah?
  • Kemanakah perginya Ceu Iwik?
  • Kemanakah perginya Bi Ucu?
       Ohoh, ya tentu, Anda pikir saya main-main ya? Bukan, Kawan. Orang-orang di atas adalah orang-orang pejuang kaumku, pelestari keturunan IBJSK. Tentu Anda tidak tahu. Saya beritahu, IBJSK adalah Indonesia Bagian Jawa Sunda Kelapa. Mereka telah menghilang, dipencil oleh kata terpinggirkan!

          Mereka berada di pinggiran zaman, Bung! Di sudut-sudut Pangalengan, di tepian Galuh Salakarya. Seiring dengan berondongan pertanyaan tersebut, kusertakan pula beberapa pertanyaan berikut :
  • Kemanakah perginya budaya punten di kota-kota kita?
  • Kemanakah perginya jaipongan dari hiburan penat kita?
  • Kemanakah perginya Pupuh Asmarandana?
  • Kemanakah perginya Pupuh Kinanti?
  • Kemanakah perginya Karatagan Pahlawan?
  • Kemanakah perginya Deungkleung Dengdek?
  • Kemanakah perginya Sakadang Kuya?
  • Kemanakah perginya budaya kita, Kawan?
          Wahai, Sebastian...
          Wahai, Mike alias Maik...
          Wahai, Tommy...
          Wahai, Andrew...
          Aku serius soal ini, maka jadilah kalian sebagai Kang Ujang, sebagai Mang Kosim, sebagai Pak Obang, sebagai Ceu Odah, sebagai Ceu Iwik, sebagai Bi Ucu. 

             Sebagai cinta bagi Sunda Kelapa!